Selamat Datang Blogkami jangan lupa isi buku tamu,tukeran link dan berikan komentar

Bambu Lapis


BAMBU LAPIS
1. Pendahuluan
Dalam rangka pengendalian mutu dan pemasaran produk bambu lapis diperlukan standar mutu. Saat ini produk bambu lapis belum mempunyai standar mutu (SNI). Untuk penyusunan standar tersebut diperlukan beberapa tahap kegiatan penelitian. Mempelajari standar dari beberapa negara, membuat perbandingan persyaratan produk bambu tersebut berdasarkan beberapa standar, mengumpulkan data primer dan sekunder di pabrik, menguji mutu produk kayu tersebut di laboratorium dan menyusun konsep Standar Nasional Indonesia (RSNI) bambu lapis. Kegiatan ini bertujuan untuk membuat konsep Standar Nasional Indonesia bambu lapis. Metode yang dipakai adalah mempelajari proses produksi, pengujian visual, membuat contoh uji, dan melakukan pengujian sifat fisis dan mekanis bambu lapis.

Kata kunci : standar mutu, bambu lapis, SNI, RSNI, sifat fisis dan mekanis.

2. Latar belakang
Industri kayu dan bambu merupakan industri kehutanan yang penting dalam rangka pemanfaatan sumberdaya hutan. Nilai ekspor produk kayu dan bambu pada tahun 2006 sebesar US $ 5.839 juta atau 50,09% dari nilai ekspor hasil pertanian dan kehutanan atau 11,27% dari seluruh nilai ekspor (Djumarman, 2008). Industri kayu dan bambu penghasil devisa tersebut antara lain kayu lapis, kayu olahan, pulp, komponen mebel, mebel dan produk bambu lapis.
Beberapa kebijakan pemerintah telah mendorong perkembangan industri kayu dan bambu. Sebagai contoh dapat dikemukakan bahwa mulai tahun 1985 ekspor kayu bundar dilarang, sehingga ekspor kayu lapis, kayu gergajian dan produk bambu lapis meningkat cukup pesat. Pada tahun 1989 keluar peraturan mengenai kenaikan pajak ekspor kayu gergajian sehingga mulai tahun 1990 ekspor kayu gergajian turun sekali tetapi ekspor kayu olahan dan produk bambu lapis terus meningkat.
Disamping terjadi peningkatan jumlah industri juga terjadi peningkatan keragaman (diversifikasi) produk industri baik secara horizontal maupun vertikal atau pengolahan yang lebih hilir (Sutigno, 2001). Sebagai contoh dapat dikemukakan bahwa semula produk bambu lapis belum berkembang di Indonesia, kini produk tersebut telah berkembang dan telah di ekspor. Jumlah industri bambu lapis sampai tahun 2008 ada 5 industri dengan produksi 22.400 m3 setiap tahunnya, semua produknya di ekspor ke Jepang dan Amerika dengan nilai ekspor US $ 28 juta (Anonim, 2009). Dalam hal bentuk bambu lapis dapat bervariasi baik ukuran maupun ketebalan (Bharata, 2007).
Dalam rangka pengendalian mutu dan pemasaran produk bambu lapis diperlukan antara lain standar mutu produk bambu lapis yang bersangkutan. Umumnya standar mutu yang digunakan adalah standar dari negara pembeli misalnya Jepang (Japanese Agriculture Standard atau JAS dan Japanese Industrial Standard atau JIS). Parameter yang dipakai untuk menentukan mutu bambu lapis yaitu mutu penampilan, panjang, lebar, tebal, diagonal, kadar air, keteguhan rekat (Delaminasi), keteguhan lentur dan mudulus elastisitas. Syarat mutu I, II, III, dan IV yaitu :
Sementara itu, Indonesia berusaha pula membuat Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk produk bambu lapis.
Perlu dikemukakan bahwa salah satu kebijakan pemerintah adalah membuat Standar Nasional Indonesia sebagai bagian dari sistem Standardisasi Nasional yang dikoordinir oleh Badan Standardisasi Nasional. Standar Mutu produk bambu yang belum ada SNI-nya antara lain bambu lapis.

3. Hasil yang Telah Dicapai
Pada tahun 2005 telah disusun Konsep Standar Nasional Indonesia tentang bare core, tahun 2006 telah disusun Konsep Standar Nasional Indonesia tentang papan gipsum, tahun 2007 telah disusun Konsep Standar Nasional Indonesia tentang bambu lamina dan tahun 2008 telah disusun Konsep Standar Nasional Indonesia tentang kayu lapis bermuka cat.

4. Tinjauan Pustaka
Bambu lapis adalah suatu produk yang diperoleh dengan cara menyusun persilangan tegak lurus lembaran bambu/bilah/pelupuh yang diikat dengan perekat dan dikempa minimal tiga lapis (Kliwon, et al., 1996). Menurut Kliwon (1997) yang meneliti bambu lapis mengemukakan sifat fisis dan mekanis bambu lapis adalah sebagai berikut : Tebal bambu lapis berkisar antara 11,78 mm hingga 12,44 mm dengan tebal rata-rata 12,06 mm. Kadar air bambu lapis berkisar antara 9,06% hingga 12,36% dengan kadar air rata-rata 10,66%. Kerapatan bambu lapis bekisar antara 0,62 g/cm3 hingga 0,74 g/cm3 dengan kerapatan rata-rata 0,67 g/cm3. Kadar air bambu lapis yang dibuat ternyata memenuhi standar Jepang (JAS) karena tidak lebih dari 14%. Kerapatan bambu lapis yang terbuat dari bilah bambu seluruhnya (0,72g/cm3) lebih besar daripada kerapatan bambu lapis kombinasi dengan venir kayu meranti merah (0,63g/cm3). Hal ini disebabkan berat jenis bambu adalah 0,65 (Suryokusumo, 2004), sedangkan berat jenis kayu meranti merah adalah 0,47 (Iskandar, et al, 1994). Apabila dibandingkan dengan kerapatan bambu lapis menggunakan pelupuh bambu tali yang diteliti oleh Kliwon et al, (1996) yaitu 0,64g/cm3 dan bambu lapis yang dibuat dari sayatan bambu tali yang diteliti oleh Sulastiningsih dan Sutigno (1994) yaitu 0,81 g/cm3 maka kerapatan bambu lapis yang diteliti (0,72g/cm3) berada di antara keduanya.
Keteguhan rekat bambu lapis dengan cara pengujian delaminasi memenuhi syarat Standar Jepang karena kurang daripada 2,50 cm yaitu 0 cm (tidak terjadi delaminasi). Hal ini berarti memenuhi syarat tipe II, yaitu tahan terhadap kelembaban tinggi.
Keteguhan lentur bambu lapis sejajar serat permukaan (modulus patah) berkisar antara 349,91 kg/cm2 hingga 729,92 kg/cm2 dengan rata-rata 525,25 kg/cm2. Bila dibandingkan dengan standar Jepang maka keteguhan lentur tersebut memenuhi syarat karena nilainya lebih besar daripada 260 kg/cm2 (kayu lapis struktural). Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa modulus patah bambu lapis dan sayatan (Sulastiningsih dan Sutigno, 1994) adalah 1022,48 kg/cm2 (4 lapis) dan 1324,72 kg/cm2 (5 lapis). Modulus patah bambu lapis dari pelupuh (Kliwon, et al., 1996) ada diantara 247,35 kg/cm2 dan 341 kg/cm2 dengan rata-rata 294,18 kg/cm2. Dengan demikian hasil penelitian ini ada diantara kedua hasil penelitian tersebut. Keadaan ini sama dengan data kerapatan bambu lapis, jenis pengawetan dan interaksinya berpengaruh sangat nyata terhadap keteguhan lentur bambu lapis. Penggunaan bambu lapis antara lain untuk rangka balok I, dinding, lantai, pintu, lemari, meja, kursi, dan peti kemas (Iskandar, 2007).

5. Rumusan Masalah
Sampai saat ini SNI untuk bambu lapis belum tersedia. Sementara itu produk tersebut telah diproduksi di Indonesia dan sudah diekspor yang dalam pengendalian mutunya masih menggunakan standar pembeli. Mengingat hal itu perlu disusun konsep SNI produk tersebut.

6. Hipotesis
Persyaratan mutu standar bambu lapis yang disusun mampu memenuhi kebutuhan produsen (fabrikan) dan konsumen.

7. Tujuan dan Sasaran
Tujuan kegiatan ini adalah membuat Rancangan Standar Nasional Indonesia (RSNI) tentang bambu lapis. Sasarannya adalah tersedianya Rancangan Standar Nasional Indonesia (RSNI) tentang bambu lapis.
8. Luaran
Konsep Standar Nasional Indonesia tentang bambu lapis yang meliputi kerangka pokok persyaratan kualitas, cara uji, klasifikasi mutu dan penandaan.

9. Ruang Lingkup
Kegiatan ini mencakup kegiatan lapangan dan laboratorium. Kegiatan lapangan, antara lain meliputi pengumpulan data primer dan sekunder di pabrik bambu lapis. Kegiatan di laboratorium meliputi pengujian mutu produk contoh bambu lapis yang dilakukan di laboratorium produk majemuk Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan, Bogor.

10. Metodologi
a. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu bambu, bambu lapis dan perekat, sedangkan alat yang digunakan adalah meteran, kaliper, timbangan, oven, gergaji mesin dan penangas.
b. Prosedur Kerja
1) Di lapangan
a) Menginventarisasi pabrik bambu lapis, meliputi skala, kapasitas produksi, dan macam produk.
b) Mempelajari prasyarat kualitas, cara uji dan klasifikasi mutu untuk produk utama bambu lapis yang di produksi oleh pabrik di Cilegon Banten dan Semarang Jawa Tengah.
c) Mempelajari proses produksi bambu lapis.
d) Pengambilan contoh produk bambu lapis buatan pabrik untuk bahan penelitian dan pengujian, sebanyak 5 lembar.
e) Pengujian visual meliputi; panjang, lebar, diagonal dan mutu penampilan.
2) Di laboratorium
a) Membuat contoh uji bambu lapis.
Dari setiap lembar bambu lapis dibuat 5 buah potongan uji yang tersebar merata menurut garis diagonal dalam ukuran 300 mm x 300 mm
Dari setiap potongan uji dibuat contoh uji kadar air dengan ukuran 100 mm x 100 mm, keteguhan rekat (delaminasi) dengan ukuran 75 mm x 75 mm, keteguhan lentur dan modulus elastisaitas dengan ukuran panjang 24 x Tebal + 50 ml, lebar 25 ml. Sehingga setiap lembar bambu lapis terdapat 5 buah contoh uji kadar air, keteguhan rekat delaminasi, keguhan lentur dan modulus elastisitas.
b) Melakukan pengujian sifat fisis dan mekanis contoh uji bambu lapis meliputi; kadar air, keteguhan rekat (delaminasi), keteguhan lentur dan modulus elastisitas. Selanjutnya menurut Anonim 2003 cara pengujian kadar air, delaminasi, keteguhan lentur dan medulus elastisitas adalah sebagai berikut :
a. Pengujian kadar air
- Contoh uji ditimbang, untuk mengetahui berat awal
- Contoh uji dikeringkan dalam oven pada suhu ( 130±2) oC;
- Contoh uji ditimbang kembali kemudia dikeringkan dalam oven sampai beratnya tetap (berat kering mutlak)
Kadar air contoh uji dihitung dengan rumus sebagai berikut :
Kadar air (%) =
Ketarangan :
- Ba adalah barat awal contoh uji (gram);
- Bk adalah berat kering mutlak contoh uji (gram)
b. Penguji delaminasi
- Contoh uji direndam dalam air panas pada suhu (70 ± 3)oC selama 2 jam;
- Contoh uji dikeringkan dalam oven pada suhu (60 ± 3)oC selama 3 jam;
- Dontoh uji dikeringkan dan diukur panjang bagian yang mengelupas
c. Pengujian ketugahan lentur dan modulus elastisitas contoh uji diuji dengan mesin UTM (Universal Testing Machine), setelah diuji datanya dihitung dengan rumus sebagai berikut :
Perhitungan keteguha lentur :

K1 = Keteguhan lentur (kgf/cm2)
B = Beban (kg)
S = Jarak sangga (cm)
L = Lebar (cm)
T = Tinggi (cm)
Perhitungan modulus elastisitas :

E1 = Modulus elastisitas (kgf/cm2)
S = Jarak sangga (cm)
L = Lebar (cm)
T = Tebal (cm)
= Selisih beban (B1-B2) dalam kg yang diambil dari kurva
= Defleksi yang terjadi (cm) pada selisih beban (B1-B2)

3) Analisis Data
Data pengujian mutu di lab meliputi; dimensi, kadar air, kerapatan, keteguhan rekat (delaminasi), keteguhan lentur dan modulus elastisitas bambu lapis, dihitung rata-ratanya kemudian dibandingkan dengan standar yang digunakan di pabrik dan standar yang terdapat di beberapa negara.

12. Rencana Lokasi
Penelitian ini akan dilakukan di Cilegon Propinsi Banten, Semarang Propinsi Jawa Tengah dan Laboratorium Produk Majemuk Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan, Bogor.

15. Daftar Pustaka
Anonim. 2000. Pedoman Penulisan SNI, Pedoman 8 - 2000, Badan Standardisasi Nasional, Jakarta.

_______, 2003. Japanese Agrikultural Standard (JAS) for Structural Plywood. The Japan Plywood Inspection Corporation, Tokyo

_______, 2005. Japenese Industrial Standard (JIS) of Common Plywood and its Commentary. The Japan Plywood Industrial Corporation, Tokyo.

_______, 2009. Ekspor Panel Kayu. APKINDO, Jakarta

Bharata. 2007. Mematri, Merekat, Menyusutkan dan Mengempa. Karya Aksara. Jakarta

Djumarman. 2008. Upaya Mendorong Peranan Kayu Karet dalam Rangka Peningkatan Devisa. Lokakarya Pengembangan Kayu Karet. Tanggal 25 Nopember 2008 di Jakarta. Departemen Pertanian, Jakarta

Iskandar, M.I., S. Kliwon dan P. Sutigno. 1994. Sifat Venir dan Kayu Lapis 8 Jenis Kayu dari Sulawesi Tengah. Jurnal Penelitian Hasil Hutan, Bogor.

Iskandar, M.I,. 2007. Proses Produksi Kayu Lapis. Diktat Pelatihan Verifikasi ETPIK. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan, Bogor.

Kliwon, S., M.I. Iskandar dan P. Sutigno. 1996. Some properties of Bamboo Plywood. Prosiding Seminar Nasional Penelitian dan Pengembangan Jenis-Jenis Pohon Serbaguna. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Jakarta.

Kliwon, S. 1997. Pembuatan Bambu Lapis dari Bambu Tali (Gigantochloa apus) Buletin Penelitian Hasil Hutan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan dan Sosial Ekonomi Kehutanan, Bogor.

Sulastiningsih, I.M. dan P. Sutigno. 1994. Some Properties of Bamboo Plywood (Plybamboo) Glued With Urea Formaldhyde. Indonesia Journal of Tropical Agricultural, Bogor.
Suryokusumo, S., dan Nagrohi. 2004. Pemanfaatan Bambu Sebagai Bahan Bangunan. Prosiding Strategi Penelitian Bambu Indonesia. Yayasan Bambu Lingkungan Lestari, Bogor.

Sutigno, P. 2001. Pengembangan Teknologi Hasil Hutan. Buletin Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

16. Kerangka Kerja Logis

Tabel 5. Kerangka kerja logis penyusunan konsep standar nasional Indonesia bambu lapis

No. Narasi Indikator Cara Verivikasi Asumsi
1 Tujuan :
Menyusun konsep Standar Nasional Indonesia bambu lapis.

Peningkatan produktivitas dan kualitas bambu lapis.
- Laporan Hasil Penelitian
- Konsep Standar Nasional Indonesia
- Diseminasi hasil penelitian mendukung
- Sikap mental dan calon pengguna dapat diubah untuk menerima standar baru
- Sarana dan prasarana mendukung
2 Sasaran :
Tersedianya konsep Standar Nasional Indonesia bambu lapis
Konsep standar
kualitas (mutu) bambu lapis dapat diterima pengguna
- Laporan hasil penelitian
- Laporan kemajuan pelaksanaan kegiatan
- Publikasi ilmiah
- Contoh produk
- Diseminasi hasil penelitian mendukung
- Sikap mental dan calon pengguna dapat diubah untuk menerima standar baru
- Sarana dan prasarana mendukung
3 Luaran :
Konsep Standar Nasional Indonesia bambu lapis
Konsep standar mutu produk bambu lapis dapat dijadikan SNI.
- Laporan hasil penelitian dan informasi mengenai kualitas produk
- Contoh produk
- Dukungan dana berkesinambungan
- Dana tersedia sesuai jadwal
- Tidak ada kendala teknis di laboratorium dan di industri
- Koordinasi berjalan baik
- Sarana dan prasarana mendukung
4 Kegiatan :
Pembuatan dan pengumpulan data primer dan sekunder bambu lapis
Data dan informasi bambu lapis
UKP, PPTP, RPTP, RKA, ROK, SPJ.
- Peneliti dan teknisi yang diperlukan tersedia
- Anggaran tersedia tepat waktu
- Koordinasi berjalan baik