Selamat Datang Blogkami jangan lupa isi buku tamu,tukeran link dan berikan komentar

PEREKATAN KAYU LAPIS

PEREKAT & PEREKATAN KAYU LAPIS
I. Definisi
Perekat: suatu bahan yang dapat menahan 2 buah benda berdasarkan ikatan permukaan (Sutigno, 2000)
Perekatan:
(1) suatu keadaan atau kondisi ikatan dimana dua permukaan menjadi satu karena adanya gaya-gaya pengikat antar permukaan, yaitu gaya valensi atau gaya ikatan ion dan gaya saling mencengkeram antara perekat dengan bahan yang direkat atau interlocking forces (Prayitno, 1996).

(2) suatu sistem yang terdiri atas gaya-gaya ikatan yang berbeda yang berasosiasi bersama membentuk suatu ikatan antara garis perekat dengan bahan yang direkat, sedang garis perekat sendiri dipengaruhi oleh mobilitas bahan perekat dan kondisi permukaan perekat (Brown et.al, 1952).

Pengeras (Katalis): Suatu bahan yang ditambahkan untuk mengatur pengerasan perekat.
Masa simpan (Storage life): Lamanya bahan perekat dapat disimpan sebelum dicampur dengan bahan lain tanpa mengurangi kualitas perekat. Bila masa simpan dilampaui maka perekat menjadi rusak dan tidak dapat dipakai lagi

Masa labur (Working life): Lamanya perekat setelah dicampur dengan bahan lain sampai perekat itu tidak baik lagi untuk dilaburkan

Masa tunggu (Assembly time): Waktu antara pelaburan dengan pengempaan. Masa tunggu yang terlalu pendek kurang baik karena perekat masih terlalu basah. Kalau terlalu lama juga kurang baik karena terlalu kering

Ekstender (Bahan tambahan): Suatu bahan yang bersifat perekat (mengandung pati, protein) yang ditambahkan pada perekat dengan tujuan untuk mengubah sifat perekat dan mengurangi biaya. Makin banyak bahan ini ditambahkan, makin rendah keteguhan rekatnya. Contoh: tepung gaplek, tepung terigu, tapioka

Pengisi (Filler): Suatu bahan yang umumnya tidak bersifat perekat yang dicampurkan pada perekat untuk mengubah sifat perekat terutama kekentalan dan sampai jumlah tertentu dapat menaikkan keteguhan rekat. Contoh: tepung tempurung kelapa, tepung kayu, kaolin.

II. Teori Perekat & Perekatan
1. Garis perekatan merupakan suatu sistem yang terdiri atas 5 (lima) rantai gaya garis perekat Brown et.al (1952), seperti gambar berikut :

• Sistem perekatan merupakan hasil kerja dua buah gaya perekatan yaitu perekatan spesifik dan perekatan mekanik.

Bahan yang direkat

Interlocking forces

Garis Perekat

Interlocking forces

Bahan yang direkat


Gaya perekatan mekanik terbentuk karena meresapnya perekat ke dalam rongga sel kayu membentuk akar-akar perekat sehingga menimbulkan gaya pencengkeraman (Interlocking forces).
Gaya spesifik timbul karena adanya gaya tarik menarik antara atom atau molekul perekat dan permukaan bahan yang direkat.

Kedua Gaya tsb dipengaruhi oleh sifat perekat itu sendiri (inherent characteristic) (Prayitno, 1996).

keteguhan rekat dihasilkan oleh total gaya perekatan mekanika dan gaya perekatan spesifik (Kollman et.al.1975).

Proses pengerasan perekat dan pembentukan garis perekat (Brown et.al, 1952) :

1. Flow (Aliran Sisi atau Aliran Samping), merupakan pergerakan perekat karena gaya berat dan perbedaan ketinggian permukaan bahan yang direkat atau karena adanya tekanan dalam proses pengempaan. Aliran perekat ini merupakan pergerakan massa perekat karena alur perekat cukup banyak mengandung perekat.

2. Transfer (Perpindahan perekat dari sisi terlabur ke sisi tak terlabur), merupakan pergerakan perekat seperti pencetakan dimana tinta menempel pada permukaan yang dicetak. Perpindahan perekat ini agak sulit dibandingkan dengan aliran sisi. Perpindahan perekat memerlukan ekstra mobilitas molekul perekat. Seringkali perpindahan perekat terjadi bersama-sama dengan aliran sisi (Marra, 1992)

3. Penetration (Penetrasi), merupakan pergerakan perekat ketiga yang membawa perekat masuk ke dalam bahan yang direkat yang berpori. Penetrasi perekat harus diatur sedemikian rupa sehingga terbentuk akar perekat dengan tetap meninggalkan garis perekat film yang utuh dan pejal. Seperti pada aliran sisi dan perpindahan perekat, penetrasi merupakan pergerakan perekat dalam jumlah besar sehingga memerlukan ekstra mobilitas molekul.

4. Wetting (Pembasahan Kayu), merupakan pergerakan perekat berupa kegiatan spontan molekul-molekul perekat sewaktu bersinggungan dengan molekul-molekul bahan yang direkat di permukaan. Oleh karena itu pergerakan perekat pada tahap ini tergantung pada kecocokan antara dua molekul yang berbeda tersebut (perekat dan bahan yang direkat).

5. Solidification (Pemadatan atau Pengerasan Perekat), merupakan langkah terakhir dari urutan pengerasan perekat. Pada tahap ini pergerakan perekat berhenti dan perekat membentuk garis perekat yang pejal dan kuat. Pengerasan perekat dapat terjadi karena kehilangan pelarut (pada umumnya perekat akan mengeras dengan cara ini), kehilangan panas (perekat yang menampakkan sifat thermoplastic), reaksi kimia (polimerisasi dari perekat sintetis) dan kombinasi dari ketiganya.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perekatan Kayu
• Bahan yang direkat (Kayu), baik dari jenis yang bersifat komersial, jenis yang belum dikenal/lesser known species maupun jenis kayu cepat tumbuh:

(1). Sifat anatomi dan struktur kayu, struktur dan anatomi kayu berhubungan dengan bagaimana sel-sel atau jaringan sel pembentuk kayu tersusun atau diorganisir sehingga bersatu disertai dengan pengetahuan tentang mekanisme pembentukan kayu.

Sel-sel penyusun kayu terdiri atas beberapa tipe sel, yaitu pembuluh, parenkim longitudinal, jari-jari dan serabut. Semua tipe sel penyusun kayu diorganisasikan dalam bentuk ikatan sapu lidi, ikatan pipa sedotan plastik atau jerami dan dikenal dengan istilah a bundle of soda straw (Marra, 1992).

Pemahaman struktur dan anatomi kayu dalam perekatan adalah untuk mengerti bagaimana perekat cair dapat masuk ke dalam bahan yang direkat/kayu (berpenetrasi) dan kemudian mengeras di dalamnya membentuk akar perekat dan atau memperluas bidang singgung (Marra, 1992). Sel satu dengan sel lainnya disambungkan dengan bidang sambung pada ujung sel dengan modifikasi sambungan agar cairan sel dapat bergerak dengan mudah ke sel yang berikutnya (bidang ini disebut bidang perforasi). Saluran lain berupa noktah pada dinding sel yang dapat menghubungkan sel yang satu dengan sel di sisinya. Berdasarkan komposisi saluran dimana perekat dapat mengalir yaitu lumen dan noktah, maka berdasarkan teori perekatan mekanik. perekatan dapat diharapkan berhasil.

Perekatan kayu dalam praktek dapat dipilah ke dalam tiga kelompok perekatan, yaitu perekatan ujung atau perekatan bidang transversal, perekatan bidang tangensial seperti pada pembuatan kayulapis, dan perekatan sisi lebar dan sisi samping seperti pada proses pembuatan laminasi. Oleh sebab itu pengetahuan struktur dan anatomi kayu menurut tiga bidang tersebut tetap diperlukan untuk disesuaikan dengan tujuan perekatan yang dipilih.

Hubungan antara struktur dan anatomi kayu dengan perekat seringkali diukur dengan afinitas perekat atau afinitas kayu terhadap perekat.

Afinitas kayu terhadap perekat adalah kemampuan penempelan perekat pada dinding sel suatu jenis kayu (Prayitno, 1996).

Afinitas suatu jenis kayu terhadap perekat merupakan nilai rata-rata dari tiga afinitas yang berbeda, yaitu:
Afinitas perekat yang berhubungan dengan lamella tengah dan dinding sel primer,
Afinitas perekat yang berhubungan dengan dinding sel sekunder, khususnya lapisan dinding sel S2,
Afinitas perekat yang berhubungan dengan lumen atau lapisan dinding sel S3.


(2). Sifat Fisik Kayu

Berat jenis kayu atau kerapatan kayu: Berat jenis kayu mempunyai korelasi yang positif terhadap parameter perekatan kayu yaitu keteguhan rekat kayu (Freeman ,1959). Semakin tinggi berat jenis kayu yang direkat, kekuatan rekat kayu diduga semakin meningkat.

Kayu-kayu dengan berat jenis lebih dari 0,80 tidak akan memproduksi kekuatan rekat yang lebih besar dari kekuatan rekat kayu-kayu dengan berat jenis 0,80

Tolok ukur perekatan yang lain yang dipengaruhi oleh berat jenis kayu adalah kerusakan kayu (%). Pengaruh berat jenis kayu terhadap kerusakan kayu berkorelasi negatif dengan berat jenis. Kenaikan berat jenis kayu, akan menurunkan kerusakan kayu. Hal ini disebabkan lebih besarnya kekuatan kayu di sekitar garis perekat karena kenaikan berat jenis kayu sehingga terjadi pergeseran beban (Brownet.al., 1952; Freeman, 1959; Bodig, 1962; Chow & Chunski, 1982).

Hubungan berat jenis kayu dengan kerusakan kayu sama seperti pada hubungan berat jenis dengan kekuatan/keteguhan rekat kayu dengan titik batas 0,80.

• Kadar Air: Kadar air yang tinggi atau kayu dalam keadaan basah mengakibatkan proses penguapan air dari kayu yang relatif cepat walaupun dalam kondisi suhu kamar dan juga mengakibatkan perpindahan zat ekstraktif dari dalam kayu ke permukaan kayu.

• Pengambilan ekstraktif kayu dari dalam atau permukaan kayu yang akan direkat akan memperbaiki kekuatan perekatan dan sifat pembasahan kayu/ wetabilitas kayu (Chen, 1970). Hal ini disebabkan karena bahan-bahan ekstraktif kayu pada sebagian jenis kayu/pohon merupakan bahan penolak air (water repellent).

• Kadar air kayu yang tinggi dapat mengakibatkan pengenceran perekat atau adonan perekat (glue mix) yang telah dilaburkan pada permukaan kayu sehingga mobilitas molekul-molekul perekat menjadi sangat tinggi. Apabila kondisi seperti ini tetap berlangsung pada waktu rakitan bahan yang direkat (wood assembly) dikempa, maka larutan perekat akan lari keluar dari garis perekat bila bahan direkat sudah tidak mampu menampungnya karena porousitas rendah. Kejadian ini disebut kegagalan perekatan squeezed out atau perekat keluar.



– Kadar air yang tinggi juga menyebabkan perekat akan masuk ke dalam bahan direkat dalam jumlah yang banyak sehingga terjadi over penetration/perekat terhisap yang akan menyebabkan kegagalan perekatan yang disebut starved glue line atau garis perekat kurang.

– Kadar air kayu yang tinggi juga mengakibatkan kegagalan perekatan pada kayulapis yang disebut blistering effect atau garis perekat melepuh. Hal ini terjadi apabila suhu sekitar/suhu kamar tinggi atau suhu alat kempa cukup tinggi sehingga menguapkan air dari dalam kayulapis dengan cepat dan terjadi akumulasi uap air yang tidak mampu keluar dari rakitan perekatan. Tekanan uap air yang besar mampu memecahkan venir atau bahan yang direkat pada waktu tekanan dibebaskan.

– Untuk kegagalan perekatan kayu akibat kekurangan air dalam kayu (kadar air rendah), yang paling sering dijumpai adalah kerusakan perekatan yang disebut powdery glue line yang diakibatkan oleh meresapnya air dari dalam larutan perekat sehingga perekat tidak mampu membentuk garis perekat yang pejal. Kegagalan perekatan ini ditandai dengan bentuk garis perekat berupa tepung perekat.

– Kadar air venir yang dianjurkan 7-12 % tergantung pada jenis perekat yang dipakai



? Pengembangan dan Penyusutan kayu: Pengembangan atau penyusutan kayu adalah perubahan dimensi kayu sebagai bahan direkat akibat perubahan kadar air kayu dan terjadi setelah kadar air seimbang kayu di bawah titik jenuh serat/TJS (di bawah kadar air 30 %).

? Perubahan dimensi mempengaruhi perekatan kayu dalam dua tahap, yaitu (a) pada waktu pelaburan perekat dimana air sebagai pelarut perekat ikut dilaburkan dan (b) pada kondisi kamar yang tidak seimbang dengan kadar air produk perekatan (produk perekatan diperlakukan dengan perendaman dan perebusan dalam air pada waktu pengujian perekatan kayu).

? Porousitas Kayu (tingkat keadaan dimana bahan yang sedang dipertimbangkan yaitu substrat kayu dapat dilalui bahan cair karena bahan tersebut bersifat porous atau karena bahan tersebut disusun oleh kumpulan bahan porous) (Hornby, Cowie dan Gimson, 1974).

? Kayu yang mempunyai tingkat porousitas yang tinggi mendukung mobilitas kelarutan perekat yang meninggi pula, sebaliknya kayu yang berporusitas rendah mengakibatkan larutan perekat mempunyai tingkat mobilitas yang rendah. Ini berarti kayu berporousitas rendah membutuhkan jumlah minimum perekat yang dilaburkan lebih rendah dibandingkan perekat terlabur untuk kayu-kayu yang berporousitas tinggi. Kegagalan yang terjadi apabila perekat yang dilaburkan lebih rendah daripada jumlah perekat minimum yang diminta oleh kayu dengan porousitas tertentu adalah kegagalan perekatan yang disebut garis perekat kurang/starved glue joint/starved glue line yaitu keadaan dimana garis perekat kekurangan perekat untuk memenuhi kebutuhan proses terjadinya perekatan yang baik atau terbentuknya garis perekat yang pejal (solid glue line).


Wetabilitas kayu (tingkat kemampuan kayu untuk dibasahi yang seringkali disebut dengan sifat pembasahan/keterbasahan kayu). Wetabilitas kayu diukur dengan sudut singgung yang kemudian dikonversikan sebagai cosinus sudut singgung. Kayu-kayu yang mempunyai sudut singgung kecil mempunyai kemampuan untuk dibasahi atau sifat pembasahan dan sifat keterbasahan yang besar, sedangkan kayu-kayu yang mempunyai sudut singgung yang besar berarti kayu tersebut tidak mampu dibasahi atau sifat pembasahannya kecil.

(3) Sifat kimia kayu
? Selulosa: polimer dari glukosa dengan hanya satu jenis ikatan dalam proses polimerisasinya menyebabkan struktur selulosa bersifat kristalin padat walaupun diselingi dengan bagian-bagian amorf. Dengan adanya struktur tersebut selulosa memiliki afinitas yang besar terhadap molekul-molekul perekat dalam proses perekatan.

? Lignin: disusun oleh senyawa dasar yang disebut phenil propana atau phenyl-propane, yang bergabung menjadi satu dengan memakai beberapa cara ikatan. Karena banyaknya molekul ikatan dalam polimerisasi lignin ini, maka polimer yang dihasilkan bersifat amorf dengan tidak memperlihatkan bagian kristalin sedikitpun, sehingga afinitas lignin terhadap perekat menjadi kecil, dan ini menyebabkan lignin kurang berperan dalam perekatan.

? Ekstraktif kayu: terdiri atas bermacam-macam jenis bahan kimia yang biasanya dapat larut pada pelarut netral seperti air, alkohol, benzena dan pelarut netral lainnya. Dari berbagai macam bahan penyusun ekstraktif kayu, terdapat kelompok bahan kimia yang merugikan atau menghambat perekatan kayu antara lain asam lemak (fatty acid), lemak (fat), asam resin (resin acid) dan hampir semua bahan yang bersifat menolak air (water repellent chemicals).

? Zat ekstraktif terdapat dalam rongga sel dan dapat dikeluarkan dengan jalan ekstraksi. Untuk mengatasi kegagalan perekatan pada kayu yang mengandung zat ekstraktif tinggi sebaiknya pemakaian ekstender dikurangi, meningkatkan berat labur, menambahkan bahan penguat (mis: melamin), atau dengan mengurangi zat ekstraktif dengan cara perebusan atau pengukusan kayu.

B. Bahan perekat
Jenis perekat : (1) perekat sintetik, seperti urea formaldehida, melamin formaldehida, phenol formaldehida dan resorsinol formaldehida. (2) Perekat alam yang dipakai sebelum adanya perekat sintetik seperti perekat protein (perekat tulang, kulit, kedelai, dll), perekat karbohidrat (amilum, perekat soda silikat) dan perekat resin alam (shellak).
Setiap jenis perekat kayu mempunyai sifat sendiri (inherent characteristics) baik dalam pembentukan garis perekat maupun dalam pencampuran dengan bahan lain sebagai bahan tambahan pada adonan perekat.
Bahan tambahan perekat seperti pengisi, pengembang, pengeras, katalisator, bahan pengawet, bahan penolak api, dan lain sebagainya dicampurkan untuk meramu adonan perekat menurut tujuan perekatan kayu.


Teknik perekatan
• Persiapan perekat, agar diperoleh hasil perekatan yang berkualitas, diperlukan persiapan yang meliputi pemilihan perekat yang tepat sesuai dengan tujuan dan penggunaan akhir bahan direkat dan pembuatan adonan perekat yang tepat. Bila akan membuat kayu lapis ekterior maka harus memakai perekat eksterior (mis: MF, PF dan RF). Bila yang akan dibuat adalah kayu lapis interior maka dipakai perekat interior (mis: UF, PVA). Bagi perekat yang tidak siap pakai perlu dilakukan pencampuran bahan perekat dengan bahan lain. Adonan perekat dibuat dengan mencampur perekat yang telah dipilih dengan bahan tambahan perekat seperti pengisi (filler), pengembang (extender), pengeras (hardener), katalisator (catalyst), bahan pengawet (preservative) dan bahan lain yang diperlukan. Komposisi perekat akan mempengaruhi sifat perekat (mis; kekentalan, yang akan mempengaruhi keteguhan rekat).

• Bobot labur (glue spread): sejumlah perekat yang dilaburkan per kesatuan luas permukaan bahan yang akan direkat (Prayitno, 1996). Bobot labur yang terlalu sedikit akan mengurangi keteguhan rekat, sedangkan yang terlalu banyak akan menaikkan biaya produksi dan dapat mengurangi keteguhan rekat.

• Masa tunggu: setelah perekat dilaburkan tidak langsung dikempa, namun dibiarkan beberapa saat agar perekat meresap ke dalam kayu dan mengental. Masa tunggu yang terlalu lama kurang baik karena perekat sudah terlalu kering. Pada kayu lapis masa tunggu ini terbagi atas; setelah pelaburan, selama pengempaan dingin dan sebelum pengempaan panas. Bila tidak memakai pengempaan dingin, masa tunggu dilakukan setelah pelaburan (termasuk penyusunan), dibiarkan beberapa saat kemudian dilakukan pengempaan panas.




. Pengempaan: Pengempaan produk perekatan atau rakitan perekatan bertujuan untuk menempelkan lebih rapat sehingga garis perekat dapat terbentuk serata dan sepejal mungkin dengan ketebalan yang setipis mungkin (Selbo, 1975).

. Pengempaan di dalam proses perekatan dibagi kedalam dua tipe, (1) pengempaan dingin (repressing atau cold pressing), (2) hot pressing atau pengempaan panas yang dijalankan dengan suhu dan tekanan tertentu.

. Pengempaan dingin sebagai tahap akhir dari proses pematangan perekat memerlukan waktu yang lama tetapi ongkos/biaya pengempaan murah, sedangkan pada sistem kempa panas, waktu pengempaan akan menjadi pendek sehingga dapat menaikkan kapasitas pengempaan sekaligus menaikkan produksi, tetapi memerlukan ongkos yang tinggi untuk menaikkan suhunya.

. Bila ditinjau dari segi ukuran produk yang direkat, pengempaan dingin mempunyai keunggulan dibanding pengempaan panas, yaitu pengempaan dalam pembuatan produk laminasi struktural/laminated beams, dimana ukuran yang besar menghalangi mesin kempa panas karena biaya/ongkos menaikkan suhu untuk barang yang relatif lebih besar masih tidak mungkin/terlalu mahal.

. Pengempaan dingin juga dilakukan sebagai pengempaan permulaan/repressing sebagai tahap setingkat sebelum tahap akhir dalam proses pematangan perekat.

Tujuan Pengempaan
• Membantu proses pengaliran sehingga perekat membentuk lapisan tipis

• Membantu proses pemindahan, sehingga perekat akan dapat berpindah dari satu permukaan ke permukaan lain

• Membantu proses penembusan, sebagian perekat dipaksa masuk ke dalam rongga sel dari kayu. Akibat tekanan ini ada sel kayu yang pecah sehingga dapat dimasuki perekat

• Menahan kayu yang direkat sampai perekat memadat. Karena proses pemadatan belangsung beberapa saat maka selama proses itu kayu harus ditahan (tetap berhubungan secara rapat). Sehubungan dengan proses ini dikenal adanya pengempaan dingin (suhu kamar) dan pengempaan panas

• Membuat bentuk tertentu pada bahan yang direkat seperti pada pembuatan kayu lapis lengkung.

Tujuan dari pengempaan permulaan dengan pengempaan dingin:

. Mengempa panel sehingga kesulitan dalam pengempaan panas dapat dikurangi. Kesulitan ini berupa waktu yang dibutuhkan untuk memuat panel-panel ke dalam mesin kempa panas.

. Untuk menaikkan kapasitas mesin kempa panas. Hal ini disebabkan karena menipisnya tebal panel yang siap masuk ke mesin kempa panas sehingga jumlah ruangan dalam mesin kempa dapat dimaksimumkan.

. Mengefisienkan pengempaan panas dalam arti bahwa waktu yang diperlukan untuk memproduksi satu panel lebih pendek setelah prepressing.

. Pematangan perekat berjalan lebih cepat karena telah didahului dengan prepressing yang membuat perekat menjadi suatu garis yang bersambungan, melakukan penetrasi secukupnya dan kekentalan naik sehingga perekat bersifat lekat/tacky.

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam proses pengempaan:

. Lama waktu kempa (lama waktu tekan), lama waktu kempa tergantung dari beberapa faktor antara lain: tipe atau jenis perekat yang dipergunakan. Prinsip yang dipakai untuk menentukan lama waktu pengempaan adalah perilaku jenis perekat dan kondisi adonan perekat yang dipakai sewaktu dikenai tekanan, dan bila pengerasan perekat dengan suhu tinggi adalah perhitungan penambahan panas dari alat kempa sampai ke garis perekat yang paling dalam dari rakitan perekatan tersebut. Sebagai contoh jenis perekat UF yang merupakan jenis perekat untuk kayulapis interior memerlukan waktu kempa rata-rata selama 2-4 menit, sedangkan jenis perekat PF untuk produk eksterior memerlukan waktu kempa rata-rata selama 5-7 menit dengan kondisi yang sama. Waktu kempa juga dipengaruhi oleh ketebalan bahan yang direkat dan komposisi adonan atau larutan perekat.

. Tekanan spesifik, tekanan spesifik berfungsi sebagai pembatas kemungkinan terjadinya pecah pada venir panel karena tegangan yang dapat diterima oleh jenis kayu atau venir dan bahan direkat kayu terlampaui. Tekanan spesifik untuk rakitan perekatan didasarkan pada berat jenis kering tanur dari panel yang sedang dikerjakan atau berdasarkan jenis kayu yang dipergunakan.

. Suhu pengempaan, suhu pengempaan berhubungan dengan waktu pengempaan. Suhu yang tinggi diperlukan untuk mematangkan perekat dengan cepat tetapi kurang ekonomis karena diperlukan biaya yang tinggi untuk membawa suhu kempa ke suhu yang lebih tinggi dari suhu kamar. Suhu yang rendah dipakai untuk mematangkan perekat tetapi diperlukan waktu yang lebih lama. Kompromi antara biaya dan waktu pengempaan berarti membentuk kombinasi keduanya yang selanjutnya akan menentukan kapasitas pabrik berjalan untuk memproduksi produk perekatan.
Pengujian Sifat Perekat
. Setiap pabrik perekat memberitahukan sifat perekat yang dibuatnya. Sifat ini perlu diuji u tuk mengetahui sampai sejauhmana kebenarannya. Pengujian dilakukan terhadap perekat yang belum dicampur (resin) dan yang sudah dicampur. Sifat perekat dapat mempengaruhi sifat keteguhan rekat kayu lapis. Pengujian perekat meliputi:
. Rupa : warna, keadaan dan adanya benda asing (pengotor), pengujian dilakukan secara visual

. Bobot jenis: dilakukan dengan cara piknometer

. Kadar padat: dilakukan dengan cara gravimetri

. Kekentalan: dilakukan dengan viskotester (sistem rotor berputar), sistem bola jatuh (Stoke) atau viskosimeter (Ostwald)

. Lamanya pengerasan (Gelatinous time)

. Keasaman (pH): dilakukan dengan melalui kertas lakmus atau dengan pH-meter

. Keteguhan rekat: menggunakan alat UTM

. Emisi formaldehida: Cara desikator 2 jam (IHPA), 24 jam (JAS), WKI, Chamber, menggunakan alat spektrofotometer.
Desikator
Aseti aseton
Chromotropik acid
Penyimpanan
Potongan Kalap
Gb. Kecil
Jml Sampel
Bahan Kimia
Lart.Kim
Alat dan Bahan
Kelebihan n Kelemahan
Acetylaseton
Chromo