Selamat Datang Blogkami jangan lupa isi buku tamu,tukeran link dan berikan komentar

Pemasaran Kelapa

Seringkali kelapa disebut sebagai 'pohon kehidupan' karena batangnya cukup kuat, mudah tumbuh, menghasilkan berbagai maeam produk dan tentunya menguntungkan. Kenyataan ini menjadikan kelapa ideal diintegrasikan dalam sistem tanaman agroforestri untuk para petani miskin.
Philipina merupakan penghasil minyak kelapa nomor satu, juga sebagai penghasil beberapa produk kelapa lainnya. Philipina menduduki peringkat kedua setelah Indonesia dalam hal jumlah total area yang ditanami kelapa, dengan proporsi terbesar berupa perkebunan skala keeil. Industri kelapa Philipina telah menghidupi kira-kira 3 juta petani dan sekitar 20 juta lebih yang terlibat dalam industri berbasis kelapa baik seeara langsung maupun tidak langsung. Total nilai ekspor pada tahun 2005 hampir meneapai 1 milyar US dollar.
Meskipun keadaan industri kelapa di Philipina cukup menggembirakan, namun tetap ada kekhawatiran akan keberlanjutan industri kelapa tersebut. Pertama, adanya ancaman ekternal terselubung dari industri perkayuan yang telah bergeser dari penggunaan kayu-kayu tradisional ke kayu kelapa. Akibatnya terjadi kenaikan nilai kayu kelapa, yang dikombinasikan dengan kebutuhan uang tunai dari para petani, sehingga mendorong terjadinya penebangan pohon kelapa secara luas. Sementara penanaman kembali pohon kelapa tidaklah cepat. Kedua, industri mengalami kesulitan akibat permasalahan perdagangan seperti tidak konsistennya kualitas produk dan tidak mencukupinya infrastuktur pasar yang menyebabkan terbatasnya insentif untuk produsen. Ketiga, adanya ancaman penurunan hasil akibat hama dan penyakit.
Berdasarkan kecenderungan tersebut, tim studi melihat industri kelapa Philipina 'menunjukkan gejala kemungkinan penurunan' jika permasalahan dan kendala yang ada tidak segera diatasi. Namun mereka juga menemukan banyak alasan untuk tetap optimis dengan potensi kelapa di Philipina.
Provinsi Quezon merupakan provinsi penghasil kelapa terbesar dan sekaligus berpenduduk termiskin. Studi kasus ini menggunakan Quezon sebagai lokasi penelitian untuk menjawab beberapa pertanyaan berkenaan dengan industri kelapa dan untuk menawarkan arahan strategi pengembangan industri kelapa ke depan.
Quezon adalah-Salah satu provinsi di wilayah Tagalog Selatan (Gambar 1), dan termasuk wilayah terbesar ke-enam di Philipina. Wilayah tersebut terbagi atas dua sub provinsi, Quezon 1 dan Quezon 2, dimana Luceta City sebagai ibukota provinsi. Tayabas dan Sariaya dimana penelitian ini dilakukan, merupakan 2 dari 41 kota besar di Quezon 1.
Provinsi tersebut memiliki sumberdaya alam melimpah, termasuk lahan pertanian dengan produktivitas tinggi, walaupun perkebuiian kelapa terletak di daerah berbukit dengan kelerengan 18•30%. Selain kelapa, terdapat produk¬produk utama lainnya seperti: padi, jagung, sayuran, umbi-umbian, pisang,' hewan ternak, dan hasil perikanan.
Infrastrutur jalan yang menghubungkan wilayah provinsi tersebut d~ngan ¥etro Manila, sekitar 150 km atau 3 jam ke-arah Barat Laut, cukup baik. Walaupun kualitas jalan penghubung dari kebun ke pasar di daerah pedesaan termasuk buruk, namun komunikasi lainnya tergolong baik, yaitu dengan mengandalkan handphone yang sudah umum digunakan.
Karena kedekatan lokasinya dengan Manila dan aksesibilitasnya dengan pusat¬pusat perdagangan lainnya juga cukup baik, Quezon telah menjadi produsen kelapa dan produk turunannya untuk kepentingan ekspor (Tabel 1). Kelapa saat ini memberikan kontribusi tinggi terhadap perekonomian provinsi tersebut, walaupun jika dilihat dari output per rumah tangga masih cukup rendah.
Kelapa memiliki berbagai manfaat dan hasil olahan, baik yang dapat dimakan maupun tidak. Oleh karenanya tataniaga kelapa cukup kompleks. Studi ini mengidentifikasi produk-produk utama kelapa yang penting di Quezon serta berbagai langkah dalam memproduksinya. Kemudian dilihat pula rantai pemasaran dan para pelaku pasar yang menghantarkan produk-produk tersebut ke pasar, serta lingkungan kelembagaan dimana para pelaku pasar beroperasi. Mengingat studi ini difokuskan pada petani skala kecil yang merupakan tulang punggung industri, maka pada tahap ketiga dalam analisa rantai pemasaran adalah untuk melihat produk utama kelapa dari perkebunan dengan lebih detail dalam rangka mengidentifikasi kendala dan persoalan pemasaran.
Produk-produk kelapa yang bernilai jual rendah diperuntukkan bagi konsumsi lokal dan produk yang berkualitas lebih baik ditujukan untuk kepentingan ekspor. Produk-produk tradisional yang diekspor diantaranya: kopra (daging kelapa kering), minyak kelapa ((NO), kelapa awetan, tepung kopra, karbon aktif dan arang batok kelapa. Sebelumnya, produk-produk tradisional tersebut menguasai 93% dari total produk kelapa yang diekspcr, namun saat ini turun menjadi 88% sebagai akibat munculnya produk-produk baru lainya.
Sebagian besar produk non tradisional telah digunakan sebagai konsumsi lokal jauh sebelum mereka melakukan ekspor. Beberapa tahun belakangan, virgin coconut oil (VCO) -bentuk murni dari CNO- telah menjadi popular baik untuk ekspor maupun untuk produk kesehatan loka!.
Pasar produk-produk terbaru juga semakin menjanjikan, seperti produk kimia berbahan baku kelapa (coco-chemichal) dan bio-diesel (coco methyl ester) yang menyediakan kesempatan bisnis baru pada industri tersebut.
Produk-produk yang diperuntukkan bagi pasar lokal an tara lain adalah kopra, VCO, tuak kelapa, kelapa kupas utuh, kayu kelapa, arang batok kelapa, sabut kelapa, sapu, cuka kelapa, ukiran kelapa dan kerajinan tangan lainya, produk makanan berbasis kelapa semacam jus 'buko' dan selai kelapa.
Lingkungan kelembagaan
Beberapa isu kelembagaan yang menjadi karakter pasar kelapa di Quezon dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah, dukungan pasar dan organisasi pasar. Pemerintah telah mengintervensi pasar kelapa melalui beberapa cara, semuanya dibawah kendali Philippine Coconut Authority (PCA). PCA hadir untuk mendukung dan mempromosikan industri dan pasar kelapa, serta menerima anggaran belanja pemerintah rutin dan juga per.ggalian dana melalui iuran dari para pengolah kelapa.
Pemerintah, khususnya melalui PCA, telah mencoba mengatur industri kelapa melalui sejumlah aturan sebagai berikut:
Penebangan dan penanaman kembali pohon kelapa diatur dalam Republic Act 8048 (the "Coconut Preservation Act of 1995"), yang diimplementasikan oleh PCA, departemen pertanian daerah, dan bisnis swasta, serta ditujukan untuk mengimbangi kehilangan dari pohon-pohon yang menua dan pohon kelapa yang ditebang.
Kualitas dan kelembaban kopra diatur dalam PCA Administrative Order 02, 2003
Standar produksi dan pemasaran VCO diatur dalam PCA Administrative Order 01,2005
Sejumlah institusi menyediakan dukungan terhadap pasar kelapa, yaitu:
The Land Bank of the Philippines dan the United Coconut Planters Bank¬Coconut Industry Investment Fund yang keduanya menyediakan kredit bagi para pelaku pasar,
i) Departemen Perdagangan dan Industri (the Department of Trade and Industry) mendorong jaringan pemasaran,
ii) Biro Statistik Pertanian (the Bureau of Agricultural Statistics) menyediakan informasi harga,
iii) Departemen Reformasi Lahan (the Department of Land Reform)
mengatur tata ruang tanah pertanian.
Organisasi pasar di Quezon terdiri dari 349 organisasi petani, yang 'secara kolektif mewakili lebih dari 18.000 anggota, atau sekitar 10% dari total jumlah buruh dan petani kelapa di provisi tersebut.
Berdasarkan keragaman produk dan tahapan dalam produksi, paling sedikit terdapat 13 pelaku pasar utama yang teridentifikasi (Tabel 2). Analisis ini menunjukan bahwa selain sebagai pemilik pohon kelapa, petani juga terlibat dalam pemasaran kelapa sebagai produsen lima jenis produk kelapa, yaitu: kelapa kupas, kopra, vea, tuak kelapa dan kayu kelapa. Rantai pemasaran
kelapa disajikan dalam diagram pada Gambar 2. .
Tabel 2. Pelaku dan peran utama dalam rantai pemasaran kelapa di Quezon

No Pelaku Peran Utama
1 Petani Kelapa kupas/kopra
Pemilik atau pengelola (penyewa) kebun kelapa dan memproduksi kelapa kupas dan kopra untuk dijual sebagai bahan baku untuk diolah lebih lanjut.

2 Pedagang Kelapa kupas
Membeli dan menjual kelapa kupas secara borongan atau mungkin mengolah buah kelapa yang tertolak menjadi kopra untuk dijual kembali; termasuk juga menjadi pedagang eceran yang membeli dan menjual buah kelapa untuk diolah menjadi santan

3 Pengolah Kopra Membeli buah kelapa untuk diolah menjadi kopra dan dijual Memiliki atau mengelola kebun kelapa, memprocluksi buah kelapa dan memprosesnya menjadi vea untuk kemudian dijual

4 Petani vea
Membeli buah kelapa dan mengolahnya menjadi vea; juga membeli vea dari proclusen lain untuk dijual dalam volume yang lebih besar

5 Pengolah/pedagang vea
Memiliki atau menyewa kebun kelapa, mengumpulkan nira (cairan kelapa yang berasal dari bunga kelapa yang masih kuncup) dan mengolahnya menjadi tuak; terkadang penyulingan dilakukan sendiri atau petani membayar ke pemilik penyulingan

6 Petani/pengolah Tuak Kelapa
Pemilik penyulingan, menyewa kebun untuk mendapatkan bahan
7 Pengolah Tuak kelapa
mentah (Iegen) dan dapat pula menyediakan jasa untuk proses penyulingan kepada petani lain
8 Peadagang Tuak Kelapa
Membeli atau menjual tuak dari para pembuat atau dari pedagang lainya
9 Petani Kayu Kelapa
Memiliki kebun kelapa dan menjual kayu atau pohon kelapa untuk diolah menjadi kaYu kelapa (biasanya tetap melajutkan untuk memproduksi kelapa kupas dari pohon kelapa yang masih tersisa)
10 Pengolah/pedagang Kayu Kelapa
Membeli pohon kelapa, memprosesnya dan menjual kayulkelapa olahan
11 Pedagang Kayu Kelapa
Membeli dan menjual kayu kelapa, kadang termasuk menjualnya secara eceran
12 Pengolah Minyak Kelapa (miller, refiner)
Membeli kopra dan mengolahnya menjadi minyak kelapa crude dan atau minyak kelapa refine
13 Pengolah Kelapa Awetan
Membeli kelapa kupas dan mengolahnya menjadi kelapa awetan (pengeringan kelapa tanpa sinar matahari sehingga warna tidak berubah)

Hasil utama dari kebun kelapa adalah kelapa kupas dan kopra. Kelapa kupas adalah buah kelapa masak yang telah dikupas, dan ini dapat segera dijual setelah panen untuk diolah menjadi kelapa awetan, veo atau santan.
Pilihan lainya, para petani dapat mengolah kelapa kupas menjadi kopra, daging kelapa dikeringkan dan diekstrak minyaknya. Sabut dan batok kelapa adalah produk samping dari pembuatan kopra.
Kelapa dan kopra keduanya dibutuhkan sebagai bahan baku pabrik pengolahan (Lihat Tabel 2). Selain itu, buah kelapa juga dapat dijuallangsung ke konsumen oleh pasar pengecer.
Untuk mencapai outlet, para petani menjual kelapa kupas atau kopranya ke pedagang kota. Namun demikian sebagian besar perkebunan hanya menghasilkan dalam jumlah sedikit, antara 450-636 kg kopra atau 300 - 1500 buah kelapa per sekali panen, dan biasanya lokasinya juga sulit dijangkau kendaraan bermotor. Oleh karenanya para petani petani mengangkut kopra atau buah kelapa dengan kuda dan mereka sangat tergantung pad a pedagang desa maupun agen pedagang kota .
Para pedagang perantara biasanya mempunyai area pengumpulan keeil atau gudang penyimpanan di desa setempat untuk megumpulkan kelapa dari para petani. Apabila telah cukup banyak, para pedagang perantara segera mengirim ke pedagang kota atau pedagang kota yang mengambilnya sendiri.
Selama periode survey, harga kopra cukup rendah. Oleh karenanya petani lebih suka menjual kelapa kupas dimana mereka dapat menerima lebih dari sepertiga nilai akhir setara nilai minyak kelapa CNO.
Pedagang kota mempunyai fasilitas penyimpanan yang lebih besar dan memiliki truk besar untuk mengirim kelapa ke pabrik, seperti pabrik minyak kelapa dan pengawetan kelapa di pusat-pusat perdagangan besar.
Cukup sulit bagi petani untuk memutuskan apakah menjual langsung kelapa kupas atau memprosesnya menjadi kopra. Karena memerlukan tenaga kerja dan waktu ekstra dalam pengolahan kopra, maka harga kopra harus lebih tinggi daripada kelapa kupas diperlukan petani untuk menutupi biaya pengolahan.
Menurut para petani pengaturan pemasaran kelapa dan kopra dengan para pedagang lokal saat ini dapat diterima dengan beberapa alasan:
Tidak diperlukan jumlah minimum atau maksimum, pemesanan dapat dilakukan sebelumnya (pre order) maupun melalui kontrak penjualan I
Produk dapat dikumpulkan dan diantarkan kapan saja bila tersedia
Pembeli dapat lebih mudah dihubungi jika ada barang yang akan dijual
Seluruh ukuran dan kualitas diterima (walaupun kadang-kadang ada pembeli yang menolak buah kelapa yang terlalu tua atau retak dan menerapkan potongan harga untuk kopra yang tidak memenuhi standar kelembaban dan kualitas yang diperlukan)
Para petani dibayar tunai segera setelah penjualan, dan dapat meminta pembayaran tunai dimuka atau kredit untuk penjualan berikutnya
Hubungan petani dan pedagang seringkali telah cukup mapan
Petani tidak perlu mengkhawatirkan transportasi menuju ke pasar yang lebih tinggi levelnya
Petani percaya tidak ada keuntungan yang signifikan bila menjual langsung dibandingkan dengan melalui pembeli lokal
Virgin Coconut ail (vca)
vca diproduksi dari kelapa kupas mentah. Pada level pengolahan di petani, untuk memproduksinya membutuhkan waktu 2 - 3 hari, termasuk memecah, mencacah dan memeras buah kelapa mentah untuk diekstrak minyaknya. Satu liter vca diperoleh dari 12 buah kelapa, yang merupakan produk utama. Sedangkan batok dan tepung/ampas kelapa yang merupakan produk sampingan juga mempunyai nilai ekonomis.
olahan dikirim oleh petani atau pabrik kecil ke pembeli di desa yang akan menguji produknya untuk menentukan harga. Para pembeli kemudian melakukan filtrasi akhir dan menyiapkan minyak untuk dikirim ke para pembeli di Manila. Tidak seperti kopra dan kelapa kupas, vca dibeli berdasarkan kuota yang diberikan kepada produsen oleh pedagang lokal, dimana volume produksi terlebih dahulu ditentukan oleh para pembeli sesuai dengan pesanan.
Alternatif lainnya, konsumen lokal dapat membeli vca langsung dari produsen lokal dalam botol-botol plastik kecil (250, 350 atau 500 ml). Seiring dengan meningkatnya popularitas dan persaingan, vca lokal bermerk (bahkan ada dalam bentuk kapsul) muncul di toko-toko obat, jaringan supermarket dan mall-mall. Pabrik vca di perkotaan bahkan juga menambahkan aroma (flavor) seperti rasa jagung manis, pisang atau nangka. Hal ini merupakan nilai tambah dan pengembangan produk yang dilakukan oleh perusahaan sedang dan besar, yang memiliki cukup modal, ketrampilan, kapasitas manajemen dan akses pasar.
Dengan pengecualian beberapa produsen vca besar dan berorientasi ekspor, secara umum produk kelapa skala rumah tangga tetap masih kecil akibat lemahnya jaringan dengan para pembeli besar. Pengolahan vca menghasilkan peningkatan harga kira-kira 100% di tingkat petani dibandingkan dengan harga kelapa kupas.
Tuak Kelapa
Tuak kelapa merupakan produk tradisional yang relatif keeil tetapi mampu bertahan di pasar lokal. Tuak ini diproduksi dari nira yang disadap dari bunga kelapa, yang kemudian dikumpulkan dan dimasukan dalam tabung bambu. Setelah lebih dari satu hari, nira yang beraroma (toddy) mulai terfermentasi dan kemudian didestilasi untuk menghasilkan tuak kelapa.
Proses destilasi dilakukan secara khusus. Untuk setiap fasilitas seharga 200.000 PhP dapat menghasilkan sekitar 4.300 gallon per tahun, dan ini merupakan suatu investasi yang cukup besar. Konsekuensinya, para petani yang memproduksi tuak menyewa jasa destilasi dan produknya juga diserap oleh pemilik destilasi. Alternatif lainya, para pendestilator menyewa pohon
kelapa dari petani lokal untuk memproduksi nira.
Tidak ada analisis kimia yang dilakukan pembeli, mereka eukup mengeeek seeara sederhana kejernihan, aroma dan rasanya, untuk menentukan kandungan alkoholnya.
Rantai pemasarannya eukup sederhana, dari produsen ke pemborong dan pengeeer local dan akhirnya ke pembeli. Sebagian besar produsen mempunyai warung keeil sendiri untuk menjual tuak seeara eeeran dalam kemasan botol keeil atau dalam galon, sementara itu ada pula yang dikirimkan ke provinsi lain. Pengembangan produk dan jaringan ke level pasar yang lebih tinggi sangat terbatas, meskipun beberapa pengusaha telah meneoba memisahkan dan memberi merk tuak kelapa untuk tujuan ekspor.
Kayu Kelapa
Permintaan kayu ketapa terus meningkat, seiring menurunnya sumber kayu lain di Philipina. Kayu kelapa terutama digunakan untuk konstruksi berbiaya murah, tetapi aman dari hujan dan rayap untuk beberapa tahun.
Setelah di gergaji, papan-papan di distribusikan seeara lokal melalui para penyalur, atau dikirim ke provinsi lain dan ke pusat kota. Para pengeeer termasuk toko bahan bangunan dan pusat-pusat pedagang kaki lima juga mengambil bagian. Sejauh ini kayu kelapa belum diekspor.
Bila seorang petani memutuskan untuk menjual pohon kelapanya, dia langsung menghubungi agen atau penyalur lokal. Biasanya para penyalur langsung mengerjakan sendiri penebangan maupun penggergajiannya, termasuk juga mengajukan ijin penebangan dan tranportasi yang diperlukan berdasarkan Coconut Preservation Act of 1995.
Para pembeli kayu kelapa lebih menyenangi pohon yang berukuran besar, lurus dan tua, dan untuk itu para pembeli akan memberikan harga yang lebih tinggi. Hasil kayu kelapa per pohonnya bervariasi dari 200 hingga 300 kaki papan dan tergantung ukurannya. Pada harga papan sekitar 3.5 PhP per kaki, maka harga per satu pohon kelapa berkisar 700 - 1000 PhP. Namun demikian, pohon-pohon yang berasal dari kebun dengan aksesibilitas rendah harganya lebih rendah untuk mengkompensasi biaya transpor yang tinggi.
Pada umumnya rendemen kayu kelapa adalah sekitar 88%, pohon yang berkualitas baik memiliki rendemen yang lebih tinggi. Pohon kelapa yang tua biasanya menghasilkan kayu lebih banyak, sedangkan pohon-pohon muda menghasilkan kayu lebih sedikit tetapi masih produktif untuk menghasilkan buah kelapa. Adanya ketentuan yang membatasi penebangan pohon kelapa hanya yang tua dan tidak produktif, tampaknya sejalan dengan peningkatan pendapatan petani dari kayu kelapa dan tetap terjaganya kelestarian sumberdaya kelapa.
Kendala Pemasaran dan Pengembangan
Produk Kelapa Kupas dan Kopra
Studi ini menunjukan bahwa harga kelapa kupas maupun kopra di tingkat petani masih ditentukan terutama oleh kekuatan permintaan. Walaupun terkadang petani mengetahui bahwa harganya buruk, namun posisi tawar mereka tetap lemah sehingga harga selahJ'ditentukan oleh pembeli. Hal ini merupakan salah satu kendala yang teridentifikasi dalam studi ini.
Rendahnya kuantitas output setiap kebun menyebabkan sedikitnya kesempatan bagi para petani untuk memperoleh kesempatan jual yang baik. Kekuatan untuk meminta harga tinggi juga terkalahkan ketika para petani memperoleh uang muka atau pinjaman dari para pembeli.
Walaupun terdapat sejumlah organisasi petani di provinsi tersebut, tetapi para petani kelapa yang diwawancara selama studi seluruhnya melaporkan bahwa penjualan dilakukan sendiri-sendiri, bahkan'- walau mereka anggota dari koperasi. "
Para petani meyakini bahwa mencari alternatif pembeli atau tempat penjualan lain tidaklah menguntungkan bila biaya angkut produk mereka ke tempat pengolahan cukup tinggi. Walaupun adanya ikatan tetap dengan para pembeli dapat mengurangi keuntungan jika harga sedang tinggi, namun sepertinya para petani menganggap praktik seperti ini lebih dapat memberikan jaminan kepastian penjualan.
Beberapa penyakit telah menyebabkan penurunan hasil dan kualitas kelapa, termasuk juga serangga pemakan daging kelapa, virus 'cadang-cadang', kumbang daun kelapa. Sebagian besar hama dan penyakit dapat dihindari dengan pemeliharaan pohon yang baik seperti aplikasi pupuk secara rutin dan cepat tanggap dalam menangani infeksi hama penyakit.
Penanganan pasca panen yang lemah dapat menurunkan kualitas produk misalnya karena pecah atau bercampurnya berbagai ukuran karena sortasi yang buruk. Akibatnya terjadi penurunan harga yang menyolok. Permasalahan ini merupakan kebiasaan dari sebagian petani.
Waktu Panen Tidak Tepat
Ketika buah kelapa tidak dipanen tepat waktu, terlalu muda atau ketuaan, maka tidak akan diterima oleh para pembeli.
Teknologi Pengolahan Tradisional
Metode pengeringan udara secara tradisional sulit diandalkan, dengan curah hujan yang tidak konsisten serta kelembaban tinggi cenderung membuat produk lebih cepat rusak. Para petani jarang yang mencapai kandungan kelembaban optimum 6% untuk harga kopra premium.
Kebutuhan Adanya Tempat Penyimpanan Kopra
Biasanya petani membutuhkan beberapa waktu untuk mengumpulkan kopra hingga mencapai jUr.1lah minimum kopra sebelum kemudian menjualnya kepada para pedagang. Para pedagang juga harus mengumpulkan kopra dari beberapa petani sebelum kemudian diangkut menuju pabrik minyak, namun biasanya pedagang mempunyai fasilitas penyimpanan yang lebih baik dan dapat menyimpan produknya hingga harga pasar membaik. Sementara para petani dapat kehilangan banyak akibat penyimpanannya bur-uk.
Regulasi yang Lemah Dalam Standarisasi
Walaupun telah ada standarisasi untuk perdagangan kopra, namun hal tersebut belum terimplementasikan pada level petani. Petani lebih percaya pada inspeksi visual dari para pedagang untuk mengevaluasi kualitas produknya dan juga harga yang akan mereka terima.
Terbatasnya Akses Jalan dari Perkebunan Menuju Pasar
Pada umumnya para petani menggunakan kuda dan kerbau untuk mengangkut kelapa kupas menuju jalan utama. Diduga, harga produk minyak meningkat akibat biaya transpor yang naik tajam. Hal ini mengurangi minat petani untuk membawa produknya ke pedagang di kota dan ke para pengolah kelapa.
Dalam studi ini tampak bahwa peningkatan permintaan kelapa kupas untuk produksi yea tidak mendorong pengolahan kopra oleh para petani. Walaupun para petani merasa bahwa yea mempunyai potensi pasar baik, namun produksinya di wilayah yang dikaji masih terbatas. Hal ini disebabkan oleh beberapa alasan:
Pasar lokal yea masih belum berkembang dan kuota produksi pedagang rendah. Apalagi para petani juga mengatakan bahwa aksesnya terbatas ke pedagang dan pembeli yang mampu menyerap dalam jumlah banyak. Sepanjang aturan dan kontrol kualitas suplai terpelihara, maka permintaan lebih besar akan memungkinkan petani meningkatkan outputnya dan memperpanjang periode produksinya.
Ketiadaan Modal
Hasil survey menunjukan bahwa tempat pengolahan skala rumah tangga keeil membutuhkan dana sekitar 17.500 PhP. Untuk beberapa petani, ketiadaan modal awal menghalangi mereka untuk dapat mengambil keuntungan (kesempatan) dari peningkatan permintaan Yea. Walaupun sejumlah fasilitas keuangan telah ada di provinsi, namun mereka tidak mengambil kesempatan tersebut, bisa jadi karena petani tidak tanggap atau mereka mendapat kesulitan untuk bertemu (atau segan untuk bertemu) dalam rangka memenuhi persyaratan peminjaman.
Rendahnya KeteramDilan Teknik dan Wirausaha
Pelatihan tentang produksi yea telah dilakukan oleh beberapa peA dan pemerintah daerah. Namun kualitas pelatihan bervariasi dan para petani tidak selalu dapat menemukan kualitas yang dibutuhkan pembeli. Telah dilaporkan bahwa tidak ada kelanjutan atau dukungan pasar dan bisnis setelah pelatihan.
Terbatasnya Kontrol Kualitas
Walaupun standarisasi vea telah ada, namun para produsen skala keeil menemui masalah untuk menjaga kualitas yang tepat, salah satunya disebabkan oleh rendahnya ketersediaan peralatan laboratorium. Para pembeli vea local melakukan tes sederhana, menguji seeara visual dan membaunya, sehingga standarisasi sulit didapat, dan tentunya menyebabkan ketidakpastian bagi pasar kota. Produk tersebut terkadang ditolak juga oleh para pembeli.
Tuak Kelapa
Walaupun tuak kelapa masih menjadi konsumsi lokal, beberapa produsen sudah siap menuju pasar internasional. Namun demikian, hasil studi meneatat sejumlah kesulitan untuk mewujutkan kemungkinan tersebut.
Rendahnya Kontrol Kualitas pad a Produsen Skala Keeil
Pabrik tuak kelapa sebagian besar tidak beregulasi dan tempat pengolahanya tidak diinspeksi keeuali ada komplain dari konsumen yang diterima bad an
regulator. Regulasi untuk standar kebersihan produksi sangat tinggi, demikian juga untuk tingkat kontaminasi produk. Oleh karena itu, tanpa adanya pengujian mikrobiologi dan lainya, tuak kelapa hanya akan diterapkan pad a skala keeillokal dengan pasar lokal saja.
Tidak Adanya Standarisasi Produk
Tidak seperti veo, standarisasi tuak kelapa masih dikembangkan, dan ketiadaannya telah menjadi penghalang untuk mengakses pasar internasional. Walaupun kualitas ekspor telah dieapai oleh sedikit produsen, aturan-aturan ekspor masih memerlukan eukup jaminan terhadap kualitas dan volume.
Produsen keeil menjual tuak kelapa pada pedagang lokal, biasanya melalui pendekatan perorangan atau berdasarkan titipan. Sementara sebagian keeil produsen m~njual dalam jumlah terba~ps ke konsumen lokal. Kehadiran pedagang lokal memberi kesempatan produsen untuk menemukan alternatif pasar. Walaupun sudah ada yang telah berkualitas ekspor, namun produsen
tuak masih belum bisa membuat jaringan dengan pembeli internasional. '4
Sebagian besar produsen mengepak tl'ak kelapanya pada kontainer yang tidak berlabel. Hanya sebagian keeil produsen yang telah berinvestasi dalam aktivitas yang meningkatkan nilai tambah seperti pelabelan, penambahan rasa, dan pengepakan, dimana dengan adanya nilai tambah tersebut tingkat pengembalian modal juga lebih eepat. Selain yang telah disebutkan, sesungguhnya masih terdapat banyak hal yang dapat dilakukan oleh produsen untuk mengembangkan produk.
Para produsen tuak kelapa eukup terpengaruh oleh peningkatar. biaya sejumlah input seperti tenaga kerja, bambu (dipakai untuk mengakses pohon-pohon yang terkumpul, dan gula (digunakan dala.m pengolahan)
Walaupun kayu kelapa memberikan pendapatan potensial, namun tampaknya suplai kelapa justru menurun. Dalam studi ini teridentifikasi empat isu kunci untuk menjaga keberlanjutan industri kelapa.
Penebangan Pohon Kelapa Illegal dan Berlebihan
Aturan tentang penebangan pohon kelapa untuk diambil kayunya sangat ketal. Namun, aturan tersebut seringkali tidak diterapkan seeara baik atau dikesampingkan semua. Penebangan illegal cukup luas terjadi, dan para pejabat daerah seringkali memberikan ijin tanpa koordinasi dengan pembuat aturan, PCA. Sehingga hal ini telah mendorong terjadinya penebangan tanpa ijin yang jumlahnya melebihi dari penebangan dengan ijin. Teknik penebangan yang salah juga menyebabkan rusaknya tanaman baru atau pohon-pohon keeil selama proses penebangan.
Penurunan Hasil Akibat Rendahnya Kualitas Pohon
Ketika para pembeli membuat pesanan (order) dalam jumlah banyak dengan pemberitahuan yang singkat, biasanya pedagang dan petani melakukan penebangan pohon-pohon yang masih keeil, muda dan masih produktif. Biaya penebangan dan pengolahan per unit menjadi lebih tinggi daripada pohon tua, dan akibatnya petani menerima keuntungan yang lebih rendah.
Penanaman Rendah
Skim PCA untuk penanaman kembali pohon kelapa mengandung beberapa kelemahan. PCA dilaporkan tidak dapat memenuhi suplai bibit untuk meneapai penanaman hingga 100%, sehingga para petani terpaksa harus membay~r sebagian bibit-bibit yang dibutuhkan, dimana pad a kenyataanya tidak semua petani tidak dapat memenuhinya. Kalaupun regulasi penanaman kembali diikuti, tetap saja tidak ada jaminan akan ada perawatan yang baik terhadap tanaman.
Mengurangi volume kayu kelapa yang dilaporakn untuk menghindari fee,
Ijin transportasi illegal, dan Pembayaran tidak resmi kepada petugas perbatasan (checkpoint) untuk menghindari penahanan. Hasilnya adalah terjadi pengurangan penerimaan pajak, yang biasanya akan digunakan untuk memonitor dan pengetahuan tidak lengkap terhadap volume kayu kelapa yang di perdagangkan.
Pertayaan :
1. Studi kasus mengkonsentrasikan pada produk individu, tetapi tahukah saudara apakah hal-hal yang menjadi tekanan terhadap keberlanjutan tataniaga pasar kelapa di Quezon? Gambarkan 'pohon masalah' untuk mengidentifikasi hubungan antar masalah industri pasar kelapa, sebagaimana yang didiskusikan dalam kasus ini.
2. Bentuk-bentuk seperti apakah nilai tambah produk yang dilakukan oleh para petani/pengolah di area kajian? Faktor-faktor apakah yang mungkin dipertimbangkan para petani untuk menentukan bentuk nilai tambah?
3. Bagaimana regulasi dari pemerintah Philipina saat ini dalam menyelesaikan masalah industri kelapa? Apakan saudara menemukan bentuk-bentuk lain yang dapat disediakan oleh pemerintah maupun pihak swasta untuk membantu petani meningkatkan pemasaran produk mereka?
4. Tuak kelapa dan virgin coconut oil (Vea) menampakkan adanya perbedaan yang kontras dalam pengembangan produknya. Tuak kelapa telah lama diproduksi dan dipasarkan, tetapi hanya sampai pasar lokal. Sementara vea yang baru menjadi salah satu produk olahan kelapa terpenting dalam 5-6 tahun terakhir, selain telah berhasil mengembangkan berbagai variasi produk, juga telah merambah ke pasar ekspor. Jelaskan kenapa tuak kelapa posisinya masih lebih rendah daripada vea, dan dukungan kebijakan apa yang diperlukan petani untuk mengembangkan tuak kelapa?
Jawab:
1. Hal yang menjadi tekanan terhadap keberlanjutan tataniaga pasar kelapa adalah kendala-kendala yang di hadapi para petani kelapa di quezon yaitu system pemasarang yang di kendalikan oleh para pedagang sehingga keuntungan yang di peroleh oleh para petani kurang maxsimal
2. Nilai tambah produk yang dilakukan oleh para petani/pengolah yaitu :pemilik atau pengelola (penyewa) kebun kelapa dan memproduksi kelapa kupas dan kopra dari masyarakat petani itu sendiri untuk dijual sebagai bahan baku untuk diolah lebih lanjut.
3. Pemerintah Philipina saat ini dalam menyelesaikan masalah industri kelapa yaitu Pihakpeerintan dan investorasing belum membangun pabrik pengolahan minyak kelapa di dekat areal petani kelapa sehingga pengolahan minyak kelapa di lakukan di tepat lain.
4. Untuk produk minyak kelapa mendapat pasaran ekspor sedang kan tuak kelapa tidak di karenakan untuk produk tuak kelapa belum di kenal oleh masyarakat luas mengingat fungsi dari tuak kelap itu sendiri belum di gunakan untuk bahan baku lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar