Selamat Datang Blogkami jangan lupa isi buku tamu,tukeran link dan berikan komentar
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Undang-undang korupsi

Kumpulan undang-undang tipikor yang di buat KPK sejak tahun 2006 dan sampai sekarang ini genjar dilakukan oleh kpk nah bagi temen- temen yang ingin tau isi undang undang tersebut agar kita tidak terjebak silahkan di baca-baca atau kalau mau di dowloand silahkan kalau mau di baca ya silahkan kalau mau di dowloand bisa dari file di bawah anda login atau dowlond langsung di sini ini dokumenya Read More..

ROTAN KULIT

ROTAN TOHITI, SEGA, JAHAB TERGOLONG KULIT ROTAN YANG DIGEMARI KARENA BERMUTU TINGGI. DARI SEMUA JENIS ROTAN : KULIT ROTAN SEGA YANG MENDUDUKI TEMPAT TERATAS DALAM PEMBUATAN ANYAMAN KARENA BENTUK NYA YANG SILINDRIS DAN Ø YANG SAMA SEPANJANG BATANG, SEHINGGA MENGHASILKAN KULIT YANG SERAGAM
ROTAN BENTUK UTUH
ROTAN MANAU WALAU KULIT NYA BERMUTU TINGGI, TETAPI KARENA KEGUNAANNYA DALAM BENTUK UTUH UNTUK PEMBUATAN FURNITURE LEBIH MENGUNTUNG KAN , MAKA JARANG DI KUPAS KULITNYA

HATI
HAMPIR SEMAU JENIS ROTAN MENGHASILKAN HATI YANG BERMUTU TINGGI. ROTAN UMBULU WALAU KULITNYA SERING MENGELUPAS SEHINGGA PENAMPAKANNYA JELEK TAPI HATINYA MERUPAKAN HATI YANG TERBAIK DARI LAINNYA, KARENA MULUS DAN ELASTIS

HAMPIR SEMAU JENIS ROTAN MENGHASILKAN HATI YANG BERMUTU TINGGI. ROTAN UMBULU WALAU KULITNYA SERING MENGELUPAS SEHINGGA PENAMPAKANNYA JELEK TAPI HATINYA MERUPAKAN HATI YANG TERBAIK DARI LAINNYA, KARENA MULUS DAN ELASTIS

ROTAN BATANG YANG DIKENAL SEBAGAI ROTAN MANAU SULAWESI SANGAT COCOK UNTUK DIGUNAKAN SEBAGAI SUBTITUSI ROTAN MANAU KARENA SIFAT DAN KARAKTERISTIK NYA SANGAT MIRIP DENGAN ROTAN MANAU, KECUALI ELASTISITAS. KARENA SELAIN ITU DIGUNAKAN UNTUK PEMBUATAN FURNITURE, HATINYA PUN DIGEMARI UNTUK BERBAGAI MACAM PRODUK ANYAMAN DAN JALINAN.

SILINDRIS
ROTAN BATANG YANG DIKENAL SEBAGAI ROTAN MANAU SULAWESI SANGAT COCOK UNTUK DIGUNAKAN SEBAGAI SUBTITUSI ROTAN MANAU KARENA SIFAT DAN KARAKTERISTIK NYA SANGAT MIRIP DENGAN ROTAN MANAU, KECUALI ELASTISITAS. KARENA SELAIN ITU DIGUNAKAN UNTUK PEMBUATAN FURNITURE, HATINYA PUN DIGEMARI UNTUK BERBAGAI MACAM PRODUK ANYAMAN DAN JALINAN.
RUAS PENDEK
ROTAN DENGAN RUAS YANG PENDEK ANTARA LAIN : ROTAN KOBO, ROTAN BATU DAN ROTAN TAPAH MEMPUNYAI TUJUAN PENGGUNAN YANG LEBIH SEMPIT DARI PADA YANG BERUAS PANJANG, ANTARA LAIN: ROTAN MANAU, ROTAN TOHITI DAN ROTAN BATANG DSB.

BUKU MENONJOL
BUKU MENONJOL SAMA DENGAN RUAS PENDEK, MAKA CACAT BUKU MENONJOL MENGURANGI NILAI PENGGUNAAN YANG LEBIH LUAS. OLEH KARENA ITU HARUS DIRATAKAN MAKA AKAN TERJADI KERUSAKAN KULIT DISEKITAR BUKU TERSEBUT SEHINGGA AKAN MENAMBAH BESAR NYA CACAT.
BUKU MENONJOL MERUPAKAN BENTUK YANG EKSTRIM, BILA DIRANCANG UNTUK PENGGUNA AN KHUSUS , MAKA NILAI NYA AKAN LEBIH MENINGKAT AL: DIGUNAKAN UTK TONGKAT, MOULDING, KAKI MEJA, KAKI TEMPAT TIDUR, KAKI KURSI DAN MACAM-MACAM HIASAN. ROTAN-ROTAN YG MEMPUNYAI BUKU MENONJOL AL: ROTAN SEMAMBU, WILATUNG, TARUMPU, DAHAN, MINONG/TABU-TABU DAN MAWI.
ROTAN DAHAN
ROTAN DAHAN DPT DIGUNAKAN SBG SUBSTITUSI ROTAN MANAU, KRN PENAMPILAN NYA MIRIP DGN ROTAN MANAU, HANYA PD BUKU MENONJOL DAN WARNA KEMERAH-MERAH AN. OLEH KRN ITU ROTAN DAHAN TDK DPT DI KELOMPOKKAN KE DLM KUALITA ROTAN MANAU.

KULIT MENGELUPAS
ROTAN UMBULU TERGOLONG ROTAN YG BERMUTU TINGGI KRN ELASTISITAS DAN WARNA HATINYA YG PUTIH BERSIH.
NAMUN KEGUNAAN NYA MENJADI SEMPIT KRN TDK DI DUKUNG DGN KULIT YG MULUS. CACAT KULIT MENGELUPAS SULIT DI TINGKATKAN MUTUNYA TETAPI ADA CARA LAIN YG DIGUNA-KAN YI: MELALUI PERLAKUAN KHUSUS PD SAAT PENEBANGAN, DIMANA DIUSAHAKAN SEJAUH MUNGKIN PEMBAGIAN BATANG PD SAAT ROTAN MASIH BERDIRI JG PD SAAT PEMBERSIHAN & PENCUCIAN DIUSAHAKAN AGAR TDK DIGUNAKAN PERALATAN YG KASAR SPT KERIKIL, KERTAS PASIR DSB

BATANG TIDAK SILINDRIS
BTG TDK SILINDRIS MERUPAKAN CACAT YG MENGURANGI HASIL GUNA KRN BILA SILINDRIS AKAN MENGHASILKAN WASTE YG BANYAK. BATANG TDK SILINDRIS TDK LAGI MERUPAKAN FAKTOR YG MERUGIKAN KRN DPT DI TINGKATKAN MUTU NYA MELALUI TUJUAN KEGUNAAN KHUSUS AL.: UTK TANGKAI PAYUNG, BERBAGAI MACAAM HIASAN YG JUSTRU LEBIH INDAH DARI BENTUK YG TDK SILINDRIS. CONTOH: ROTAN SEMAMBU, ROTAN KOLE ( BENTUK SEGITIGA)
Read More..

PENAMPANG LINTANG ROTAN

Penampang lintang rotan :
Pengetahuan tentang ciri-ciri rotan masih terbatas.Belum semua jenis rotan diketahui ciri-cirinya, terutama ciri anatomi dan fisiologinya. Untuk itu penelitian tentang berbagai aspek biologi rotan perlu ditingkatkan dengan meneliti lebih banyak jenis rotan (Dransfield, 1974; Culter, 1978; Menon (1979); Manokaran, 1985).
Penelitian secara khusus tentang anatomi rotan, hingga sekarang belum banyak dilakukan, walaupun sejak tahun 1845, oleh Mohl (dalam Weiner dan Liese, 1988a) telah diawali penelitian anatomi terhadap marga Calamus, dan menyimpulkan
bahwa pembuluh kayu metaxilem yang besar di dalam ikatan pembuluh merupakan suatu karakter pembeda dengan marga lainnya dalam anak suku Lepidocaryoidae. Solereder dan Meyer (1928, dalam Weiner dan Leise, 1988a) telah melanjutkan penelitian Mohl terhadap marga. Calamus dan Daemonorops dan Tomlinson (1961) telah
membahas sembilan marga rotan. Keduanya menyatakan bahwa terdapat suatu hubungan antara ciri anatomi dengan perilaku batang. Di antara jenis rotan yang sama terdapat
sifat memanjat yang sama pula, tetapi kemungkinan mempunyai ciri anatomi batang yang berbeda, sebaliknya di sisi lain jenis rotan yang berbeda sifat memanjatnya
dapat memiliki kemiripan ciri anatomi. Penjelasan lebih terperinci mengenai anatomi batang
rotan telah dilakukan oleh Siripatanadilok (1974) terhadap lima marga rotan di Jawa. Ia menyimpulkan bahwa bentuk dan ukuran sel epidermis dapat dijadikan karakter yang
khas dan penting dalam taksonomi. Tomlinson (1961), Yudodibroto (1984a), serta Parameswaran dan Liese (1985) mengemukakan bahwa kualitas rotan, terutama
daya tahan batang berhubungan dengan struktur anatominya. Beberapa jenis rotan, misalnya C. caeseus, apabila dilengkungkan batangnya meka akan terjadi retakretak
dan terkelupas, karena adanya kristal silika pada bagian epidermis. Yudodibroto (1984b) membedakan jenis rotan berdasarkan ada atau tidaknya kristal silika pada
lapisan kulit luar. Weiner dan Leise (1988b, 1990) menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan struktur batang di antara marga rotan, sehingga hal ini dapat dijadikan
sebagai salah satu karakter untuk mengidentifikasi jenis rotan. Sedangkan Astuti (1990) dalam penelitiannya terhadap marga Calamus, Daemonorops, dan Plectocomia
menyimpulkan bahwa ciri anatomi yang dapat digunakan untuk membedakan ketiganya terutama adalah pola parenkim jaringan dasar, letak floem, dan jumlah pembuluh
kayu dalam satu ikatan pembuluh.

1. Kulit
2. Bagian Perifer ……….. relatif padat
3. Jaringan sentral ……. relatif lunak

Jaringan penyusun batang rotan terdiri dari 3 jaringan utama :
1. Kulit (2 macam jaringan)
2. Parenkim dasar (1 macam jaringan)
3. Berkas pembuluh (5 macam jaringan)

Berkas Pembuluh :
1. Phloem
Saluran hasil fotosintesa dari tajuk ke bagian-bagian lain dari tanaman

2. Protoxylem
- Xylem yang dibentuk mula-mula pada ruas yang baru tumbuh
- Dindingnya seperti spiral yang tergulung rapat

3. Metaxylem
- Satu atau dua protoxylem yang ikut memanjang dan membesar pada
waktu ruas tumbuh

• Parenkim aksial
- Terletak disekeliling protoxylem dan metaxylem di dalam berkas pembuluh
- Diduga sebagai tempat persediaan makanan untuk pertumbuhan elemen lain dalam berkas pembuluh.
- Bentuk memanjang ke arah vertikal

• Berkas Serat
- Tersusun satu berkas mengelilingi elemen-elemen lain dalam berkas pembuluh.

Pada beberapa jenis rotan terdapat saluran getah (Daemonorops, Ceratolobus
dan beberapa jenis Calamus).

Pada jenis Korthalsia terdapat celah berwarna kuning (yellow cap).
Read More..

PENGENALAN JENIS ROTAN

PENGENALAN JENIS ROTAN INDONESIA

I. PENDAHULUAN
A. Definisi
Rotan berasal dari bahasa melayu yang berarti nama dari sekumpulan jenis tanaman famili Palmae yang tumbuh memanjat yang disebut Lepidocaryodidae (Yunani = mencakup ukuran buah)
B. Umum
Indonesia memenuhi 80 % kebutuhan rotan dunia (terbesar). Dari 80 % rotan dunia tersebut, 90 % berasal dari hutan alam dan 10 % dari hasil budidaya.Luas areal yang ditumbuhi rotan sebesar 13,2 juta hektar dari 143 juta hektar hutan Indonesia (Inventarisasi Direktorat Jenderal Bina Produksi Kehutanan) yang tersebar di Kalimantan, Sulawesi, Sumatera dan Jawa.

Indonesia memiliki 8 marga rotan yang terdiri dari 306 jenis. Dari 306 jenis ini 51 jenis diantaranya sudah dimanfaatkan.

Di Asia Tenggara terdapat kurang lebih 516 jenis yang berasal dari 8 genera, antara lain :
- Calamus sebanyak 333 jenis
- Daemonorops sebanyak 122 jenis
- Korthalsia sebanyak 30 jenis
- Plectocomia sebanyak 10 jenis
- Plectocomiopsis sebanyak 10 jenis
- Calopspatha sebanyak 2 jenis
- Bejaudia sebanyak 1 jenis
- Ceratolobus sebanyak 6 jenis

Dua diantaranya merupakan genera yang bernilai tinggi yaitu Calamus dan Daemonorops.
Dari seluruh kebutuhan rotan di pasaran terdapat 68 % rotan berdaimeter besar dan 32 % rotan berdiameter kecil.

C. Pemanenan
Rotan yang dipanen adalah rotan yang masak tebang dengan ciri-ciri bagian bawah batang sudah tidak tertutup lagi oleh daun kelopak atau selundang, sebagian daun sudah mengering, duri dan daun kelopak sudah rontok.

Pemanenan dilakukan dengan memotong pangkal rotan dengan pengaitnya setinggi 10 sampai 50 cm. Dengan pengait, rotan ditarik agar terlepas dari pohon penopangnya. Rotan dibersihkan dari daun dan duri serta dipotong-potong menurut ukuran yang diinginkan. Kemudian diangkut ke tempat pengumpulan sementara atau ke tempat penumpukkan rotan dengan memikul, menggunakan perahu/sampan atau menggunakan bantuan tenaga kuda.

Dalam pemanenan biasanya terjadi adanya limbah, besarnya limbah pada saat pemanenan rotan adalah berbeda pada setiap tipe kegiatan pemanenan, yaitu :
- Pemanenan secara tradisional limbah sebesar 12,6 – 28,5 %
- Pemanenan dengan bantuan tirfor dan lir limbah sebesar 4,1 – 11,1 %
- Pada saat pengangkutan besarnya limbah sebesar 5 – 10 %.

II. PENGENALAN JENIS ROTAN

A. Sifat Dasar Rotan

1. Sifat Anatomi
Struktur anatomi batang rotan yang berhubungan dengan keawetan dan kekuatan antara lain besarnya ukuran pori dan tebalnya dinding sel serabut.
Sel serabut merupakan komponen struktural yang memberikan kekuatan pada rotan. Dinding sel yang tebal membuat rotan menjadi lebih kuras dan lebih berat.

2. Sifat Kimia
Secara umum, komposisi kimia rotan terdiri dari holoselulosa (71 – 76 %), selulosa (39 – 56 %), Lignin (18 – 27 %) dan silika (0,54 – 8 %).
Holoselulosa merupakan selulosa yang merupakan molekul gula linear berantai panjang.
Selulosa berfungsi memberikan kekuatan tarik pada batang karena adanya ikatan kovalen yang kuat dalam cincin piranosa dan antar unit gula penyusun selulosa. Makin tinggi selulosa makin tinggi juga keteguhan lenturnya.
Lignin adalah suatu polimer yang kompleks dengan berat molekul yang tinggi. Lignin berfungsi memberikan kekuatan pada batang. Makin tinggi lignin makin tinggi juga kekuatan rotan.
Tanin dikategorikan sebagai “true artrigen” yang menimbulkan rasa sepat pada rotan. Tanin berfungsi sebagai penangkal pemangsa. Hasil purifikasi tanin digunakan sebagai bahan anti rayap dan jamur.
Pati (karbohidrat), terkandung 70 % dan berat basah. Makin tinggi kadar pati makin rentan terhadap serangan bubuk rotan kering.

3. Sifat Fisik
Sifat fisik dari rotan adalah sifat-sifat yang dapat diamati secara kasat mata.
Sifat fisik rotan dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut :

a. Warna
- Warna batang rotan selalu bervariasi tidak hanya pada jenisnya saja tetapi pada jenis yang sama juga.

Rotan yang baik dan berkualitas adalah batang rotan yang berwarna hijau daun pada saat masih hidup, hal ini menandai bahwa rotan tersebut sudah masak tebang. Batang rotan yang berwarna hijau daun akan berubah menjadi putih setelah selaput silikanya terkelupas dan akan makin putih setelah ada proses pemutihan (bleaching).

- Yang dimaksud dengan warna rotan adalah warna setelah dicuci atau dirunti atau diasapi dengan belerang dan belum mendapat perlakuan pemutihan.

Pada umunya rotan berwarna kuning langsat atau kuning keputih-putihan kecuali beberapa jenis seperti Rotan Semambu (coklat kuning) dan Rotan Buyung (kecoklat-coklatan).

Selain warna kulit, perlu diperhatikan juga warna hatinya. Seperti Rotan Umbulu (putih bersih) dan Rotan Tohiti (keabu-abuan).

b. Kilap
- Kilap dan suram dapat memberikan ciri yang khusus dari suatu jenis rotan serta dapat menambah keindahan dari rotan tersebut.

- Kilap rotan tergantung pada struktur anatomi, kandungan zat ekstraktif, sudut datangnya sinar, kandungan air, lemak dan minyak.
Makin tinggi kadar air maka makin suram, makin tinggi lemak dan minyak maka makin suram.

c. Bau dan Rasa
Menggambarkan kesegaran dari rotan tersebut, pada rotan segar bau dan rasa tidak mencolok.

d. Berat
Berat rotan tergantung pada kandungan air, zat ekstraktif dan zat infiltrasi dalam rotan.
Kadar air dapat dikurangi dengan proses pengeringan yang mampu mengurangi dari 40 – 60 % menjadi titik jenuh serat (15 – 30 %).

e. Kekerasan/Elastisitas
Menunjukkan bahwa batang rotan mampu menahan tekanan/gaya tertentu.
Sifat ini dipengaruhi oleh kadar air, umur saat dipungut, posisi batang yang digunakan (pangkal, tengah, ujung).

f. Diameter
Diameter rotan dibagi menjadi 2 (dua), yaitu :
- Berdiameter kecil, rotan yang berdiameter kurang dari 18 mm, seperti Rotan Sega, Irit/Jahab, Jermasin, Pulut Putih, Pulut Merah, Lilin, Lacak, Manau Padi, Datuk Merah, Sega Air, Ronti, Sabut, Batu, Tapah, Paku dan Pandan Wangi.
- Berdiameter besar, rotan yang berdiameter l8 mm atau lebih, seperti Rotan Manau, Batang, Mantang, Cucor, Semambu, Wilatung, Dahan, Tohiti, Seel, Balukbuk, Bidai, Buwai, Bambu, Kalapa, Tiga Juru, Minong, Umbulu, Telang dan Lambang.



g. Kesilindrisan
Kesilindrisan dapat diperoleh dengan perbandingan antara diameter rata-rata pangkal ruas dengan diameter rata-rata ujung ruas.

h. Ruas
Ruas adalah bagian rotan yang terletak diantara dua buku.
Panjangnya ruas dapat digolongkan menjadi 3 (tiga) golongan, yaitu :
- Ruas Pendek (<> 40 cm)

i. Buku
Buku rotan dibagi menjadi 3 (tiga), yaitu :
- Buku Menonjol
- Buku Agak Menonjol
- Buku Tidak Menonjol

Arah buku juga diamati, yaitu :
- Menceng
- Agak Menceng

j. Selaput Silika
Hampir semua jenis rotan memiliki lapisan silika yang membalut kulit luarnya, ada yang spesifik dan tebal seperti Rotan Sega, Jermasin, Irit/Jahab, Buyung.
Lapisan silika menampilkan kilap, pekerjaan mengeluarkan lapisan silika disebut “Runti”.

k. Parut Buaya
Parut buaya terlihat seolah-olah bekas parut yang menggores kulit kearah transversal.
Selain parut buaya ada pula sifat fisik berupa getah. Rotan yang mengandung getah antara lain Rotan Getah/Sepat, Lacak, Jernang, dan Jermasin.

4. Sifat Struktur
Sifat struktur dari rotan belum banyak diketahui karena belum ada penelitian khusus terhadap sifat-sifat struktur tersebut.

Yang dapat digunakan sebagai petunjuk identifikasi adalah pori.
Pori rotan sangat sederhana dan dibedakan dalam beberapa bagian antara lain :
- Ukuran
- Bentuk
- Susunan

5. Sifat Mekanis
Sifat mekanis rotan berkaitan dengan kemampuan menahan gaya dari luar, antara lain :

a. Keteguhan Tekan, Patah, Kekakuan dan Keuletan.
- Keteguhan Tekan adalah ketahanan terhadap kekuatan yang cenderung menghancurkan.
- Keteguhan Patah adalah ketahanan terhadap kekuatan yang akan mematahkan.
- Kekakuan adalah kemampuan untuk mempertahankan bentuk bila dilengkungkan.
- Keuletan adalah kemampuan rotan untuk menahan kekuatan yang terjadi secara tiba-tiba dalam waktu yang singkat.


b. Keteguhan Tarik
Keteguhan tarik adalah kemampuan rotan untuk menahan gaya yang cenderung memisahkan bagian-bagian dari rotan.

c. Keteguhan Geser
Keteguhan geser adalah ketahanan terhadap gaya yang menggeser rotan.

d. Keteguhan Belah
Keteguhan belah adalah ketahanan terhadap gaya yang membelah rotan.

6. Keawetan dan Keterawetan
a. Keawetan adalah daya tahan sesuatu jenis rotan terhadap berbagai faktor perusak rotan, tetapi biasanya yang dimaksud adalah daya tahan terhadap faktor biologis yang disebabkan oleh organisme perusak rotan yaitu jamur dan serangga.
b. Keterawetan adalah mudah atau tidaknya jenis rotan tersebut ditembus bahan pengawet jika diawetkan dengan proses tertentu sehingga rotan yang sudah diawetkan dengan suatu bahan kimia (pengawet) tahan terhadap serangan organisme perusak sehingga rotan tersebut awet.


B. Rotan Penting di Indonesia
Rotan termasuk dalam klasifikasi tumbuhan :
- Divisio : Spermatophyta
- Sub Divisio : Angiospermae
- Kelas : Monocotyledonae
- Ordo : Spacaflorae
- Famili/Suku : Palmae


Ada 14 Suku antara lain :
1. Calamus (370 jenis)
2. Daemonorops (115 jenis)
3. Korthalsia (31 jenis)
4. Plectocomia (14 jenis)
5. Ceratolobus (6 jenis)
6. Plectocomiopsis (5 jenis)
7. Myrialepis (2 jenis)
8. Calopspatha (2 jenis)
9. Bejaudia (1 jenis)
10. Cornera
11. Schizospatha
12. Eremospatha
13. Ancitrophylum
14. Oncocalamus

Di Indonesia terdapat 8 suku dengan jumlah jenisnya + 306 jenis, antara lain :
a. Calamus
b. Daemonorops
c. Khorthalsia
d. Plectocomia
e. Ceratolobus
f. Plectocomiopsis
g. Myrialepis
h. Calopspatha


Dengan penyebaran :
- Kalimantan : 137 jenis
- Sumatera : 91 jenis
- Sulawesi : 36 jenis
- Jawa : 19 jenis
- Irian : 48 jenis
- Maluku : 11 jenis
- Timor : 1 jenis
- Sumbawa : 1 jenis
Yang bernilai komersial tinggi sebanyak 28 jenis

Beberapa jenis rotan yang penting di Indonesia, antara lain :

1. Rotan Jernang Besar (Daemonorops draco Blume)
- Nama Daerah : Jernang Besar, Jernang, Beruang (Sumatera Selatan), Getik Badag (Jawa Barat), Getik Warak (Jawa Tengah).
- Penyebaran : Semenanjung Malaya, Sumatera, dataran rendah pada 300 mdpl.
- Batang : Membentuk rumpun, diameter 12 mm, panjang ruas 18 – 35 cm, warna coklat kekuningan dan mengkilat, hati berwarna putih
- Daun : Majemuk menyirip, anak daun berbentuk lanset seperti pita, bagian atas anak daun dan tulang daun tumbuh duri halus, duduk daun berhadapan-hadapan.
- Bunga : Malai tersusun dalam tandan, kuncup diselubungi selundang yang berduri
- Buah : Bulat, coklat merah, berbiji tunggal
- Manfaat : Batang untuk bahan baku furniture, getah buah untuk pewarna dan farmasi (rotan jernang)


2. Rotan Dahanan (Korthalsia flagellaris Miq)
- Nama Daerah : Rotan Dahanan (Sumatera, Kalimantan)
- Penyebaran : Semenanjung Malaya, Sumatera, Kalimantan. Pada rawa-rawa 50 mdpl.
- Batang : Rumpun sampai dengan 20 batang, diameter 15 – 30 mm, panjang ruas 20 – 50 cm, warna coklat sebam dan kasar, keras agak sukar dibelah, panjang batang sampai dengan 50 meter.
- Daun : Majemuk menyirip, anak daun bundar telur lanset sungsang, ujungnya bergerigi, bagian bawah anak dan tulang daun tumbuh duri halus, duduk daun berhadap-hadapan, warna coklat kekuningan.
- Bunga : Malai tersusun dalam tandan, kuncup diselubungi selundang berduri
- Buah : Bulat, coklat kemerahan, berbiji tunggal
- Manfaat : Batang sebagai bahan baku furniture.

3. Rotan Semambu (Calamus scipionum Lour)
- Nama Daerah : Sumambu (Batak Karo), Simambo (Batak Toba), Simambu (Minangkabau), Semambu (Lampung), Semabu (Kalimantan Barat), Tantuwo (Dayak Kalimantan Tengah).
- Penyebaran : Semenanjung Malaya, Sumatera Kalimantan. Pada 1000 mdpl.
- Batang : Membentuk rumpun, diameter 30 mm, panjang ruas 20 – 30 cm, warna coklat kemerahan kalau kering, panjang batang sampai dengan 20 m, kasar dan ulet.
- Daun : Majemuk menyirip dengan panjang 1 m, anak daun terdapat sulur panjat, pelepah dan tangkai daun berduri, duduk daun berhadapan, warna coklat kekuningan.
- Bunga : ada 2 macam, bunga subur dan bunga mandul, bunga subur berbentuk cemeti dan berduri malai panjang.
- Buah : Lonjong ukuran panjang 1,5 cm, warna coklat kemerahan, berbiji tunggal.
- Manfaat : Batang untuk tongkat pendaki gunung, tongkat ski, rangka mebel.

4. Rotan Jermasin (Calamus ecojolis Becc.)
- Nama Daerah : Jermasin (Sulawesi, Kalimantan dan Sumatera).
- Penyebaran : Sulawesi, Sumatera, Kalimantan. Pada 10 – 100 mdpl, tanah berbatu, berpasir dan punggung gunung.
- Batang : Rumpun 30 – 50 batang, diameter 6 – 10 mm, panjang ruas 15 – 40 cm, warna kekuningan kalau kering mengkilat, panjang batang sampai dengan 50 m. Kuat dan ulet.
- Daun : Majemuk menyirip dengan panjang 1 m, anak daun bundar telur lanset, pada ujung terdapat sulur panjat, pelepah dan tangkai daun berduri, duduk daun berhadapan, warna hijau tua.
- Buah : Lonjong sampai dengan 1,5 cm, coklat kemerahan, berbiji tunggal.
- Manfaat : Batang sebagai bahan furniture.

5. Rotan Buyung (Calamus optimus Becc.)
- Nama Daerah : Buyung, Selutup, Sega Bulu (Kalimantan).
- Penyebaran : Sulawesi, Kalimantan, Sumatera. Pinggiran sungai pada 100 – 300 mdpl. Pada tanah berbatu, pasir dan punggung gunung.
- Batang : rumpun sampai dengan 60 batang, diameter 12 – 24 mm, panjang ruas 20 -30 cm, hijau kekuningan, bila kering mengkilat, panjang sampai dengan 40 m, kuat dan ulet.
- Daun : Majemuk menyirip panjang 1 m, anak daun bundar telur lanset pada ujung daun terdapat sulur panjat, pelepah dan tangkai daun berduri, duduk daun berhadapan, hijau tua.
- Buah : lonjong 1,5 cm, coklat kemerahan, berbiji tunggal.
- Manfaat : Batang sebagai bahan furniture.

6. Rotan Mantang (Calamus ornatus Blume)
- Nama Daerah : Mantang (Jambi), Rotan Howe Kasur, Seuti (Jawa Barat), Manau/Salian (Kalimantan).
- Penyebaran : Sumatera, Kalimantan dan Jawa. Pinggiran sungai pada 100 – 300 mdpl, tanah berbatu, pasir dan punggung gunung.
- Batang : Soliter, diameter 15 – 40 mm, panjang ruas 16 – 20 cm, hijau gelap, bila kering kekuningan mengkilat, kuat dan ulet.
- Daun : Majemuk menyirip panjang 4 m, anak daun bundar telur lanset dan pada ujung daun ada sulur panjat, pelepah dan tangkai berduri tajam, warna hitam, duduk daun berhadapan hijau tua.
- Buah : Bulat telur sampai dengan 3 cm, coklat kemerahan, berbiji tunggal.
- Manfaat : Batang sebagai bahan furniture.

7. Rotan Dandan (Calamus schitolantus Blume)
- Nama Daerah : Rotan Dandan
- Penyebaran : Sumatera, Kalimantan. Ketinggian sedang sampai tinggi , tidak terpengaruh pasang surut.
- Batang : Soliter, diameter 3 - 6 mm, panjang ruas 15 cm, kuning mengkilat agak coklat, kuat dan ulet.
- Daun : Majemuk menyirip 1 m, anak daun bundar telur lanset dan pada ujung daun ada sulur panjat, pelepah dan tangkai daun berduri tajam, warna hijau tua.
- Buah : Bulat telur, coklat kemerahan, berbiji tunggal.
- Manfaat : Batang sebagai tali pengikat, alat penangkap ikan, anyaman.

8. Rotan Inun (Calamus scabridulus Becc)
- Nama Daerah : Rotan Inun
- Penyebaran : Sumatera, Kalimantan, Sulawesi. Pada 50 – 200 mdpl. Tidak terpengaruh pasang surut
- Batang : berkelompok dan merambat, diameter 6 mm, panjang ruas 28 – 40 cm. Kekuningan agak coklat, kuat dan ulet.
- Daun : Majemuk menyirip panjang 1 m, anak daun bundar telur lanset pada ujung daun terdapat suluh panjat, duduk daun berhadapan, hijau tua.
- Buah : Bulat telur, coklat kemerahan dan berbiji tunggal, bunga malai sampai dengan 1,5 cm.
- Manfaat : Batang digunakan sebagai tali pengikat, anyaman.

9. Rotan Batang (Daemonorops robustus Warb)
- Nama Daerah : Rotan Batang
- Penyebaran : Sulawesi. Pada 10 – 900 mdpl
- Batang : Berumpun sampai dengan 90 batang, warna hijau tua, bila kering warna abu-abu dan kemerahan, diameter 25 – 60 mm, panjang ruas 25 – 60 cm.
- Manfaat : Sebagai rangka mebel.

10. Rotan Manau (Calamus manan Miq)
- Nama Daerah : Rotan Manau
- Penyebaran : Sumatera dan Kalimantan pada 50 – 600 mdpl, beriklim basah, berpasir, tidak terpengaruh pasang surut.
- Batang : Soliter diameter 25 – 60 mm panjang ruas sampai dengan 35 cm, warna hijau tua, bila kering kekuning-kuningan, kuat dan ulet, panjang sampai dengan 100 m.
- Daun : Majemuk menyirip panjang 4 m, anak daun bundar telur lanset, ujung daun ada sulur panjat, duduk daun berhadapan warna hijau tua.
- Buah/Bunga : Tandan, panjang buah sampai dengan 3 cm berbentuk lonjong.
- Manfaat : Batang sebagai bahan kerangka mebel.

11. Rotan Irit (Calamus trachycoleus Becc)
- Nama Daerah : Rotan Irit
- Penyebaran : Kalimantan. Endemik di Sungai Barito dan Kahayan, rawa tergenang pada 0 – 15 mdpl, beriklim basah.
- Batang : Berumpun sampai dengan 100 batang, diameter 4 – 11 mm, panjang ruas 10 – 15 cm, warna hijau tua dan bila kering kekuningan/kuning telur, kuat dan ulet, panjang batang sampai dengan 50 m.
- Daun : Majemuk menyirip 1,5 m, anak daun bundar telur lanset pada ujung daun terdapat sulur panjat, duduk daun berhadapan, hijau tua.
- Buah/Bunga : Dalam malai 1,5 m, panjang sampai dengan 1,5 cm berbentuk lonjong.
- Manfaat : Anyaman, lampit, tirai, kursi antik.

12. Rotan Taman (Calamus caesius Blume)
- Nama Daerah : Rotan Taman (Kalimantan), Sego (Aceh), Segeu (Gayo), Sego (Sumatera).
- Penyebaran : Pulau Kalimantan dan Sumatera, dataran rendah kering berbukit
- Batang : Rumpun sampai dengan 100 batang diameter 4 – 11 mm, panjang ruas 15 – 30 cm warna hijau tua bila kering kekuningan/kuning telur mengkilap, kuat dan ulet, panjang batang sampai dengan 50 m.
- Daun : Majemuk menyirip 50 – 125 cm, anak daun bundar telur lanset dan di ujung daun ada sulur panjat, duduk daun berhadapan berwarna hijau tua.
- Buah/Bunga : Malai 1,5 m, panjang buah sampai dengan 1,5 cm berbentuk lonjong.
- Manfaat : Batang sebagai bahan baku anyaman, lampit, tirai, kursi antik.

13. Rotan Lilin (Calamus javensis Blume)
- Nama Daerah : Rotan Lilin
- Penyebaran : Pulau Kalimantan dan Sumatera, dataran rendah sampai pegunungan pada 1200 mdpl, beriklim basah.
- Batang : Berumpun, diameter 2 – 6 mm, panjang ruas 30 cm, warna kekuningan pada waktu muda dan bila kering coklat kekuningan, kuat dan ulet, panjang batang 50 m.
- Daun : Majemuk menyirip dengan panjang 0,5 m, anak daun bundar telur lanset dan pada ujung daun ada sulur panjat, duduk daun berhadapan warna hijau tua.
- Buah/Bunga : Malai 1 m, panjang buah 1,5 cm lonjong.
- Manfaat : Batang sebagai bahan baku anyaman, keranjang, tali pengikat.

14. Rotan Korod (Calamus heteroides Bl)
- Nama Daerah : Rotan Lilin
- Penyebaran : Jawa Barat, dataran rendah sampai pegunungan pada 200 – 1500 mdpl, beriklim basah.
- Batang : Rumpun sampai dengan 5 batang, diameter 25 mm, panjang ruas 16 – 35 cm warna hijau tua dan bila kering kekuningan/kuning telur, kuat dan ulet, panjang batang sampai dengan 40 m.
- Daun : Majemuk menyirip panjang 0,5 m, anak daun bundar telur lanset dan pada ujung daun ada sulur panjat, duduk daun berhadapan.
- Manfaat : Batang sebagai bahan baku anyaman, keranjang dan tali pengikat.

15. Rotan Balukbuk (Calamus burkianus Becc)
- Nama Daerah : Rotan Balukbuk
- Penyebaran : Jawa Barat, dataran rendah sampai dengan pegunungan pada 50 – 800 mdpl, beriklim basah.
- Batang : Rumpun sampai dengan 10 batang, diameter 25 mm, panjang ruas 50 cm, warna kekuningan muda bila kering coklat kekuningan, kuat dan ulet, panjang batang sampai dengan 50 m.
- Daun : Majemuk menyirip panjang 3 m, anak daun bundar telur lanset, pada ujung daun terdapat sulur panjat, warna hijau tua.
- Buah/Bunga : Malai 1 m panjang buah sampai dengan 2,5 cm lonjong.
- Manfaat : Batang sebagai bahan baku anyaman, keranjang dan tali pengikat.

16. Rotan Pelah (Daemonorops rubra Blume)
- Nama Daerah : Rotan Pelah
- Penyebaran : Pulau Sumatera dan Jawa, dataran rendah sampai dengan pegunungan pada 100 – 800 mdpl, beriklim basah.
- Batang : Rumpun 2 – 5 batang, diameter 2 – 6 mm, panjang ruas15 – 35 cm, warna kekuningan pada waktu muda dan bila kering coklat kekuningan, kuat dan ulet, panjang batang sampai dengan 40 m.
- Daun : Majemuk menyirip panjang 1,5 m, anak daun bundar telur lanset, terdapat sulur panjat pada ujung daun duduk daun berhadapan warna hijau tua.
- Manfaat : Batang sebagai bahan baku anyaman, keranjang dan tali pengikat.

17. Rotan Kirtung (Myrialepis scortechini Becc).
- Nama Daerah : Rotan Kirtung
- Penyebaran : Sumatera, dataran rendah sampai dengan pegunungan pada 1000 mdpl, beriklim basah.
- Batang : berumpun dengan diameter 40 mm, panjang ruas 30 cm warna kekuningan bila kering coklat kekuningan, kuat dan ulet, panjang batang sampai 40 m.
- Daun : Majemuk menyirip panjang 3 m, anak daun bundar telur lanset, pada ujung daun terdapat sulur panjat, duduk daun berhadapan, hijau tua.
- Buah/Bunga : Dalam malai 1 m, panjang buah sampai dengan 3 cm lonjong
- Manfaat : Batang sebagai kerangka kerajinan


18. Rotan Pulut Merah (Calamus sp)
- Nama Daerah : Rotan Pulut Merah
- Penyebaran : Pulau Kalimantan terutama Kalimantan Timur, dataran rendah pada tanah alluvial di pinggiran sungai
- Batang : Berumpun sampai 50 batang, diameter 2 – 5 mm panjang ruas 40 cm warna abu-abu kemerahan, kuat dan ulet, panjang batang sampai dengan 30 m.
- Daun : Majemuk menyirip panjang, anak daun bundar telur lanset, ada sulur panjat pada ujung daun, duduk daun berhadapan hijau tua
- Buah/Bunga : Dalam malai
- Manfaat : Batang sebagai bahan baku kerajinan kualitas tinggi

19. Rotan Getah (Daemonorops angustifolia Mart)
- Nama Daerah : Rotan Getah
- Penyebaran : Pulau Kalimantan dan Sumatera, dataran rendah beriklim basah
- Batang : Berumpun, diameter 25 mm, panjang ruas 35 cm, warna kekuningan ketika masih muda dan bila kering warnanya coklat kekuningan, kuat dan ulet, panjang batang sampai dengan 40 m
- Daun : Majemuk menyirip panjang 3 m, anak daun bulat telur lanset, ada sulur panjat pada ujung daun, duduk daun berhadapan, hijau tua
- Manfaat : Sebagai bahan baku kerangka kerajinan.

20. Rotan Umbul (Calamus symphysipus Mart)
- Nama Daerah : Rota Umbul
- Penyebaran : Pulau Sulawesi, dataran rendah sampai pegunungan pada 300 – 600 mdpl, beriklim basah
- Batang : Soliter, diameter 15 – 30 mm, panjang ruas 20 – 30 cm, hijau bergaris kekuningan mengkilap, kuat dan ulet
- Daun : Majemuk menyirip, anak daun bundar telur lanset, ada sulur panjat pada ujung daun, duduk daun berhadapan, hijau tua
- Manfaat : sebagai bahan kerangka kerajinan.


21. Rotan Sego Ayer (Calamus axillaris Becc)
- Nama Daerah : Rotan Ayer
- Penyebaran : Pulau Sumatera dan Kalimantan, dataran rendah, beriklim basah.
- Batang : Berumpun, diameter 13 mm, panjang ruas 15 cm, warna muda kekuningan bila kering coklat kekuningan, kuat dan ulet, panjang batang sampai dengan 10 m.
- Manfaat : sebagai bahan anyaman.

22. Rotan Saloso (Calamus sp)
- Penyebaran : Sulawesi Utara, dataran rendah beriklim basah
- Batang : Berumpun dengan diameter 8 – 20 mm, panjang ruas 25 – 40 cm, warna hijau bila kering kuning, kuat dan ulet
- Daun : Majemuk menyirip 3 m, anak daun bundar telur lanset, ada sulur panjat pada ujung daun, duduk daun berhadapan, hijau tua, ujung daun kemerahan
- Manfaat : Sebagai bahan anyaman dan tali pengikat

23. Rotan Manau Riang (Calamus oxeleyanus T et B)
- Penyebaran : Pulau Sumatera, dataran rendah beriklim basah
- Batang : Berumpun dengan diameter 12 mm, panjang ruas 12 cm warna kekuningan
- Daun : Majemuk menyirip panjang 3 m, anak daun bundar telur lanset, ada sulur panjat pada ujung daun, duduk daun berhadapan, hijau tua

24. Rotan Tohiti (Calamus inops Becc)
- Nama Daerah : Rotan Tohiti
- Penyebaran : Pulau Sulawesi, dataran rendah sampai pegunungan pada 300 – 600 mdpl beriklim basah
- Batang : Soliter dengan diameter 15 mm, panjang ruas 20 – 35 cm, warna kuning mengkilap, kuat dan keras tidak mudah dibelah
- Daun : Majemuk menyirip, anak daun bundar telur lanset dan ada sulur panjat pada ujung daun, duduk daun berhadapan, hijau tua.
- Manfaat : Kerangka kerajinan, mebel, kerangka beton, sandaran kapal.

25. Rotan Seel (Daemonorops melanochaetes Blume)
- Penyebaran : Pulau Sumatera dan Jawa, dataran rendah sampai pegunungan pada 10 – 500 mdpl beriklim basah.
- Batang : Berumpun sampai 5 batang denagn diameter 22 – 25 mm, panjang ruas 22 – 28 cm hijau kekuningan bila kering warnanya kuning telur, kuat dan ulet
- Manfaat : Tali pengikat, umbut untuk sayur.

26. Rotan Loluo (Calamus sp)
- Penyebaran : Pulau Sulawesi, dataran rendah sampai pegunungan pada 1000 – 2000 mdpl, punggung bukit dan lereng bukit
- Batang : Soliter dengan diameter 25 – 40 mm, panjang ruas 25 – 40 cm, warna kemerahan bila kering kuning mengkilap, kuat dan ulet.
- Daun : Majemuk menyirip, anak daun bundar telur lanset, ada sulur panjat pada ujung daun, duduk daun berhadapan, hijau tua
- Manfaat : Kerangka kerajinan

27. Rotan Udang Semut (Kothalsia scaphigera Mart)
- Nama Daerah : Rotan Pitet (Kalimantan Barat), Lalun (Dayak), Samut (Jambi)
- Penyebaran : Sumatera dan Kalimantan, daerah yang tergenang air, tepi sungai berawa
- Batang : Soliter dengan diameter kurang dari 4 mm, panjang ruas 10 – 20 cm, warna coklat kusam, bergaris membujur, inti berwarna kuning gading
- Daun : Majemuk menyirip, anak daun belah ketupat agak lancip, duduk anak daun berselang seling, jumlah anak daun pada salah satu bagian 3 – 7 anak daun, panjang 20 cm dan lebar 10 cm
- Manfaat : Bahan pengikat yang cukup kuat dan mudah dibelah dalam kondisi segar.

28. Rotan Dahan (Korthalsia rigida Blume)
- Nama Daerah : Rotan Belandang/Meladang (Bangka Belitung)
- Penyebaran : Belitung, dataran rendah sampai pegunungan pada 1100 mdpl.
- Batang : Soliter dengan diameter 20 – 25 mm, panjang ruas 20 cm, panjang batang kurang dari 20 m, bentuk tidak rata, buku menonjol berwarna coklat kusam inti berwarna coklat muda
- Daun : Majemuk menyirip, anak daun belah ketupat menempel selang-seling panjang 1,5 m termasuk tangkai daun 10 cm dan sulur panjat 75 cm
- Manfaat : Bahan keranjang.

29. Rotan Meiya (Korthalsia echinometra Becc)
- Nama Daerah : Meiya (Kalimantan), Rotan Uwi Hurang (Palembang), Rotan Siu (Kubu/Jambi)
- Penyebaran : Kalimantan dan Sumatera, tanah berawa-rawa
- Batang : Soliter dengan diameter 30 mm, panjang ruas 20 – 25 cm, panjang batang sampai dengan kurang dari 35 m, bentuk rata, warna coklat kusam beralur memanjang, inti berwarna coklat muda
- Daun : Majemuk menyirip, warna anak daun bagian atas hijau gelap dan bagian bawah abu-abu keputih-putihan, panjang daun 1,8 m termasuk panjang sulur panjat 70 cm.
- Buah : Bulat, panjang 2,5 cm dan lebar 1,5 cm, biji berukuran 1,5 cm lebar 1 cm.

30. Rotan Lowa (Plepcomiopsis geminiflorus Becc)
- Nama Daerah : Rotan Lowa, Huwi Pupuran (Lampung)
- Penyebaran : Belitung, Kalimantan, Sumatera dan Malaysia, kawasan rawa gambut
- Batang : Soliter dengan diameter 30 mm, panjang ruas 20 – 25 mm, panjang batang kurang dari 35 m, bentuk rata, berwarna coklat kusam beralur memanjang, inti berwarna coklat muda.
- Daun : Majemuk menyirip, warna anak daun bagian atas hijau gelap dan bagian bawah abu-abu keputih-putihan, panjang daun mencapai 1,8 m termasuk panjang sulur 70 cm
- Buah : Berbentuk bulat dengan panjang 2,5 cm dan lebar 1,5 cm, biji berukuran 1,5 cm dan lebar 1 cm.

31. Rotan Sabut (Daemonorops hystrix (Griff) Mart)
- Nama Daerah : Rotan Uwi Kalang Sintang (Palembang), Rotan Tahi Landak (Semenanjung Malaka)
- Penyebaran : Pulau Sumatera
- Batang : Berumpun kurang dari atau sama dengan 6 batang dengan diameter 8 – 15 mm, buku menonjol, panjang ruas 10 – 15 cm, kasar, agak mengkilat, sedikit beralur, kuning kecoklatan, panjang batang sampai dengan 25 m.
- Daun : Panjang 2,5 m tangkai daun + 40 cm berduri 5 cm, anak daun lanset panjang 35 cm lebar 1,3 cm. Anak daun pada salahsatu tangkai 60 buah.

32. Rotan Pakak (Daemonorops periacantha Miq)
- Nama Daerah : Uwi Landak (Palembang) Huwi Kapur Kapui (Lampung), Rotan Pakak (Belitung)
- Penyebaran : Sumatera, Kalimantan pada 200 mdpl
- Batang : Berumpun antara 2 – 3 batang, panjang batang 20 m dengan diameter 30 mm atau lebih (dengan pelepah), batang bersih berdiameter 10 – 17 mm, panjang ruas kurang dari 20 cm
- Daun : Menyirip majemuk, pelapah berduri rapat berwarna hitam kecoklatan sepanjang 6 cm, bagian bawah tangkai tulang daun berduri, anak daun lanset jumlah anak daun sampai 30 buah, panjang daun 40 cm lebar 3 cm.

33. Rotan Uwi Koroh (Daemonorops geniculata (Griff) Mart)
- Nama Daerah : Rotan Uwi Koroh (Palembang)
- Penyebaran : Sumatera Selatan pada 1000 mdpl.
- Batang : Berumpun 5 batang, panjang batang 15 m dengan diameter 1,5 cm dalam keadaan bersih dari pelepah 30 mm, panjang ruas 6 – 10 cm, buku menonjol warna coklat kekuningan, inti berwarna kuning gading, keras dan mudah dibelah
- Daun : Menyirip majemuk 3 m, tangkai daun 1 m atau lebih, ada sulur panjat pada ujung daun sepanjang 40 – 100 cm, anak daun lanset, duduk daun berhadapan, hijau gelap panjang 30 cm lebar 2 cm, pelepah dan diselimuti duri yang berbaris sejajar mengelilingi pelepah
- Manfaat : Untuk tongkat berjalan, mebel, keranjang.

34. Rotan Duduk (Daemonorops longipes (Griff) Mart)
- Nama Daerah : Rotan Rundang, Tanah (Bangka), Rotan Mentulak (Belitung), Rotan Huwi Tikus (Lampung)
- Penyebaran : Hutan Payau di Sumatera dan Kalimantan
- Batang : Berumpun 5 – 10 batang, panjang batang 10 m diameter dengan pelepah 5 cm, bersih tanpa pelepah 15 – 35 mm, panjang ruas 20 cm, warna suram, inti berwarna coklat sebam dan lunak
- Daun : Menyirip majemuk panjang 4,5 m atau lebih, tangkai daun 50 cm ada sulur panjat di ujung daun 125 cm, anak daun lanset selang-seling, jumlah anak daun pada satu bagian sampai 50 buah.
- Manfaat : Bahan perabotan rotan

35. Rotan Ulur (Calamus ulur Becc)
- Penyebaran : Sumatera Bagian Selatan
- Batang : Berumpun 6 – 8 batang panjang batang sampai dengan 40 m dengan diameter 25 mm dengan pelepah, bila bersih 10 mm, panjang ruas 20 cm berwarna coklat kekuningan, mengkilat, gelang warna gelap pada buku, inti berwarna kuning sebam, lemah, lentur, mudah dibelah, kuat dan ulet
- Daun : Menyirip majemuk dengan panjang 1,75 m, sulur panjat 1 m,tangkai daun 5 cm, anak daun lanset berhadapan, panjang anak daun 35 cm lebar 2,5 cm.
- Manfaat : Sebagai bahan keranjang batu bara (Sumatera)

36. Rotan Manau Tikus (Calamus tumindus Furtado)
- Penyebaran : Sumatera Barat, Semenanjung Malaysia
- Batang : Soliter, panjang sampai dengan 60 m dengan diameter pangkal 1,2 cm dan ujung 2,5 cm panjang ruas 12 – 30 cm
- Daun : Menyirip majemuk panjang 4 m, sulur panjat 1,5 m, anak daun lanset panjang 40 cm dan lebar 6 cm duduk berhadapan 25 pasang, pelepah berduri panjang tajam sampai dengan 4 cm dan lebar 7 cm
- Manfaat : Sebagai bahan pembuatan mebel rotan.

37. Rotan Manau Padi (Calamus marginatus Mart)
- Nama Daerah : Rotan Manau Padi (Bangka), Rotan Besi (Palembang), Rotan Pehekan (Kalimantan Selatan)
- Penyebaran : Sumatera dan Kalimantan
- Batang : Soliter pada dataran rendah dengan panjang sampai 40 m dengan diameter 10 – 15 mm, panjang ruas 12 – 20 cm, kuning mengkilat, gelang-gelang hitam melingkari buku, inti berwarna kuning gading, padat, keras, kokoh
- Manfaat : Mebel dengan kualitas yang tinggi

38. Rotan Tunggal (Calamus laevigatus Mart)
- Penyebaran : Kalimantan, Sumatera, Semenanjung Malayadan Singapura pada 800 mdpl
- Batang : Soliter dengan panjang batang mencapai 30 m dengan diameter 2 cm kotor, bila bersih tanpa pelepah 8 – 10 mm, panjang ruas 25 cm.
- Daun : Berwarna hijau gelap (segar) bila kering hijau kecoklatan, menyirip majemuk, anak daun lanset.

39. Rotan Dago Kancil (Calamus conirostris Becc)
- Nama Daerah : Rotan Dalun Buku (Palembang)
- Penyebaran : Sumatera dan Kalimantan, pinggiran sungai yang tidak tergenang air
- Batang : Berumpun 3 – 6 batang, panjang batang 35 m dengan diameter 10 mm, panjang ruas 35 cm atau lebih, berwarna kuning sebam mengkilat, inti berwarna coklat muda, lemah, lentur, lunak, sukar dibelah, peralihan buku tidak rata.
- Daun : Pelepah daun berduri panjang dan tajam, daun menyirip majemuk 2,5 m, tangkai daun 50 cm ada sulur daun, tangkai daun berduri pendek, sulur panjat 75 cm, anak daun berwarna hijau gelap, jumlah anak daun 35 buah, anak daun lanset panjang 40 cm lebar 2 cm
- Manfaat : Bahan pengikat pada bangunan rumah, anyaman, keranjang kasar.

40. Rotan Lita (Daemonorops lemprolepis Becc)
- Nama Daerah : Rotan Lita (Wajo)
- Penyebaran : Sulawesi Bagian Selatan pada rawa-rawa air tawar dan asin
- Batang : Berdiameter 5 – 10 mm, panjang ruas 20 – 35 cm warna kuning cerah mengkilat, inti berwarna kuning gading
- Manfaat : Bahan pembuatan keranjang.
Read More..

PENGENALAN CACAT ROTAN

PENGENALAN CACAT ROTAN INDONESIA

I. PENDAHULUAN
Dengan semakin ketatnya pemanfaatan hasil hutan baik kayu maupun bukan kayu dimana rotan termasuk didalamnya maka diperlukan pengawasan yang lebih intensif. Dari segi dunia usaha , bahan baku dan biaya biaya-biaya lain yang harus ditekan, antara lain pajak dalam rangka menekan biaya tentunya memerlukan pemikiran efisiensi bahan dan angkutan.Untuk menunjang kemampuan bersaing di bidang pemasaran, maka diperlukan adanya peningkatan pemahaman terhadap beberapa prinsip dasar antara lain :
1. Ketepatan kegunaan
2. Pelayanan yang baik
3. Mutu yang mantap
4. Harga yang wajar
Unsur penunjang terhadap ketepatan kegunaan adalah pemahaman terhadap selera konsumen, kejelian memanfaatkan rotan menurut jenis/mutu dan kemampuan dalam menerapkan teknologi desain produk.
Pelayanan yang baik ditentukan antara lain kemampuan menyerahkan produk tepat waktu dan kontinyu sesuai perjanjian dan kemampuan memberikan jaminan kepercayaan bagi konsumen terhadap kemantapan mutu.
Mutu yang mantap ditentukan dengan kemampuan menilai pengaruh cacat terhadap daya kegunaan produk dan kemampuan menetapkan mutu secara tepat berdasarkan peraturan pengujian yang merupakan titik temu antara produsen dan konsumen.
Harga yang wajar ditentukan dengan penerimaan yang wajar dari setiap institusi sesuai dengan pengorbanan yang diberikan baik berupa barang dan jasa .
Dengan pemahaman pengenalan cacat maka dapat dipastikan bahwa keberhasilan pembinaan dan peningkatan mutu tidak terlepas dari ketrampilan menetapkan nilai dan pengaruh cacat terhadap daya guna dan hasil guna produk dalam pemanfaatannya oleh konsumen.
Dalam pengenalan cacat rotan lebih mendalam perlu dipelajari tentang penyebab cacat, variasi cacat, pencegahan cacat, nilai cacat dan pengaruh cacat.
Tujuan dari Pengenalan cacat rotan adalah peserta diharapkan mampu: menjelaskan cacat rotan mengidentifikasi, mengukur dan menilai cacat rotan

II. PENYEBAB CACAT ROTAN

A. Faktor Genetis

1. Batang tidak lurus
Pada umumnya batang rotan berbentuk silindris atau hampir silindris. Bila terjadi penyimpangan dari bentuk tersebut maka dinyatakan sebagai cacat.
Batang yang bentuk batangnya tidak silindris dapat berupa tidak silindri sepanjang badan, atau hanya pada sebagian atau pada beberapa ruas saja.
Contoh rotan yang bentuknya tidak silindris sepanjang batang adalah Rotan : Semambu, Tabu-tabu, Wilatung, Tanah dan Cemeti. Sedang yang tidak silindris dalam beberapa ruas adalah Rotan Mawi, Tarumpu dan Dahan.
2. Buku menonjol
Pada umumnya rotan yang tidak silindris mempunyai buku yang menonjol sehingga ukuran diameter tiap ruas sepanjang batang tidak sama. Selain itu terdapat jenis rotan yang bentuk bukunya agak menonjol adalah Rotan : Batang, Manuk, dan Ampar bungkus.

3. Ruas Pendek
Panjang ruas rotan sekitar 15 Cm atau lebih, bahkan ada yang mencapai 60 atau 100 Cm. Rotan yang mempunyai ruas kurang dari 15 Cm dikategorikan sebagai rotan yang cacat. Rotan tersebut meliputi Rotan : Batu, Tapah, dan Kooboo.
4. Kulit mudah mengelupas
Rotan mempunyai kulit yang cukup kuat dan keras apabila dipanen telah masak tebang, tetapi Rotan Umbulu mempunyai kulit yang mudah mengelupas
5. Ketebalan ruas yang berbeda
Ketebalan ruas semua rotan hampir berbeda, tetapi Rotan Irit dan Tohiti mempunyai ketebalan ruas yang perbedaanya menyolok.

6. Panjang ruas yang berbeda
Rotan yang panjang ruasnya tidak sama sepanjang batang adalah Rotan Irit, sedangkan rotan lainnya hampir sama.

B. Faktor Alami
1. Keriput
Rotan yang dipanen setelah masak tebang akan menghasilkan rotan yang elastis, cerah dan keras, tetapi rotan yang ditebang selagi masih muda akan menghasilkan rotan yang lunak dan keriput. Hal ini disebabkan pada rotan muda batang rotan belum terisi zat infiltrasi dan ekstraksi yang berfungsi sebagai penunjang keteguhan serat dan elastisitas
2. Ketemu buku
Cacat ketemu buku merupakan cacat yang spesifik dan justru mempunyai nilai dekoratif dan nilai jual yang cukup tinggi. Buku-buku yang berdempetan memberikan kesan bahwa ruas-ruas tidak ada. Penyebab terjadinya cacat ketemu buku ini diperkirakan karena adanya tekanan pada pertumbuhannya dan karena jumlahnya yang sedikit maka cacat ini banyak dicari.

C. Faktor Biologis
1. Salah warna
Penyebab salah warna yang utama adalah adanya serangan jamur biru ( blue stain ), yaitu dengan adanya perubahan warna dari warna aslinya menjadi kebiru-biruan dan jika dibiarkan akan menyerap air sehingga menyebabkan pelapukan atau rapuh/busuk.
2. Lubang gerek kecil
Lubang gerek kecil disebabkan karena serangan serangga Ambrosia beetle. Serangan ini mudah terjadi pada rotan yang masih segar, baik yang masih dalam bentuk tegakan atau setelah ditebang dalam tumpukan.
3. Mata pecah
Mata pecah adalah bentuk cacat yang disebabkan oleh serangan cacing ketika tanaman rotan masih hidup, dan ini merupakan ciri dari Rotan Manau
D. Faktor Mekanis
1. Parut buaya
Parut buaya nerupakan cacat yang disebabkan karena batang rotan yang terlalu lama ditekuk saat panen sampai mencapai kering udara. Parut buaya banyak terjadi pada rotan diameter kecil ( Sega dan Roti) dan juga Rotan Tohiti.
2. Hangus
Cacat hangus terjadi pada rotan yang mengalami penggorengan dalam rangka pengawetan dan pengeringan. Rotan diameter besar rata-rata memerlukan proses penggorengan, dan rotan diameter kecil yang biasa dilakukan penggorengan adalah Rotan Getah Putih dan Getah Merah. Penggorengan yang terlalu lama, atau yang kurang dibalik dapat menyebabkan hangus.
3. Kulit tergores
Kulit tergores dapat disebabkan karena terjadi pada saat proses penebangan dan penarikan batang, pembersihan yang kurang hati hati, penumpukan yang kasar.

4. Pecah buku
Pecah buku adalah pecah yang terjadi disekitar buku akibat kurang hati-hati dalam pembersihan atau perlakuan kikis buku.
Kikis buku tidak menjadi persyaratan dalam proses pengolahan, sebab beberapa konsumen untuk jenis rotan tertentu justru mengharapkan tidak dilakukan kikis buku agar jenis rotannya tetap dikenali dan juga memberi nilai dekoratif yang lebih tinggi.
5. Cacat ukuran
Cacat ukuran dibedakan menjadi 2 yaitu :
a. Bontos tidak siku
Bontos tidak siku disebabkan karena kesalahan dalam memotong bontos sehingga bentuknya tidak siku. Hal ini akan mengakibatkan kesulitan dalam pengukuran panjang dan pengepakan.


b. Salah potong
Cacat salah potong disebabkan karena kesalahan memotong sehingga rotan mempunyai ukuran panjang kurang dari panjang bakunya.
Akibat salah potong dapat menyebabkan turunnya mutu, karena mutu rotan juga dibatasi dengan ukuran panjangnya.

III. VARIASI CACAT

Cacat rotan berdasarkan penyebaran dan kombinasi cacat yang ada dibedakan menjadi 4 variasi, yaitu :
1. Catat Tersebar
Cacat tersebar adalah cacat yang kadarnya kecil dan keberadaanya/eksistensinya sendiri-sendiri. Cacat ini dapat terdiri dari cacat-cacat ringan seperti :
a. Cacat salah warna
b. Cacat lubang gerek kecil,
c. Cacat kulit tergores,
d. Cacat mata pecah (khusus pada Rotan Manau),
e. Cacat hangus.
f. Cacat parut buaya( rotan diameter kecil dan Tohiti )
2. Cacat Mengelompok
Cacat yang berada dalam beberapa ruas dan terdiri dari bermacam-macam jenis cacat.

3. Cacat Menyeluruh
Cacat yang terdiri dari satu macam atau lebih jenis cacat yang tedapat pada seluruh ruas sepanjang batang.
4. Cacat Tidak Diperkenankan
Cacat yang tidak diperkenankan meliputi cacat keriput dan cacat rapuh/busuk.

IV. PENCEGAHAN CACAT

Untuk mencegah beberapa cacat yang diakibatkan oleh selain genetis dapat diupayakan dengan beberapa perlakukan.
A. Faktor Alami
1. Keriput
Pencegahan : Larangan pembelian rotan tebangan muda (prematur) dan tidak menebang rotan muda.
Penanggulangan : Rotan muda ditolak uji, dan pengusaha yang membeli rotan muda dikenakan sanksi.
2. Ketemu buku
Pencegahan : Karena jumlahnya yang sedikit dan cacat ini banyak dicari maka tidak perlu ada pencegahan.
Penanggulangan : Rotan ketemu buku digunakan sebagai bahan baku pembuatan perabotan dengan nilai dekoratif yang tinggi

B. Faktor Biologis
1. Salah warna
Pencegahan : Hindari penumpukan ditempat yang lembab, segera di keringkan/dijemur, diawetkan/fumigasi. Jika setelah ditebang rotan tidak dapat segera diangkut maka rotan sebelum kadar air berkurang segera direndam di sungai untuk menunggu pengangkutan.
Penanggulangan : Cacat warna menyebar dihilangkan dengan menggosok, sedangkan cacat warna mengelompok dan menyeluruh yang digoreng, dikeringkan, atau difumigasi dapat dikurangi daya efektifitas cacatnya.
2. Lubang gerek kecil
Pencegahan : Hindari penumpukan di tempat tebangan terlalu lama, segera bersihkan dari pelepah daun, kelopak batang, dan kotoran lainnya dan segera keringkan/diawetkan.
Penanggulangan : Rotan segera digoreng dan fumigasi agar serangga/kumbang yang ada didalamnya mati.

3. Mata pecah
Pencegahan : Serangan cacing pada tanaman rotan budidaya lebih mudah dilakukan penyemprotan dengan pestisida, tetapi untuk rotan dari hutan/alam yang tumbuh dilereng-lereng sulit untuk dicegah.
Penanggulangan : Tidak diperlukan perlakuan khusus, sebab cacing akan pergi/menghindar saat rotan ditebang.

C. Faktor Mekanis
1. Parut buaya
Pencegahan : Jangan biarkan rotan sampai kering udara, segera diluruskan, dan rotan segera dipotong sesuai dengan ukuran yang dikehendaki.
2. Hangus
Pencegahan : Lama penggorengan untuk setiap jenis rotan disesuaikan dengan lama optimal, jadwal penggorengan diletakkan disekitar tempat penggorengan, diperlukan ketrampilan tenaga penggoreng. Alat penggorengan memenuhi persyaratan, adanya penelitian komposisi minyak penggoreng, rotan dicuci terlebih dahulu.
Penanggulangan : Rotan gosong/ hangus tetap dinilai sebagai cacat dan nilainya sesuai dengan cacat yang melekat padanya.
3. Kulit tergores
Pencegahan : Pelatihan ketrampilan dan menyediaan peralatan bagi para pengumpul.
Penanggulangan : Diolah menjadi rotan kupas halus untuk meningkatkan nilai ( dekoratif ).
4. Pecah buku
Pencegahan : Pemberian ketrampilan bagi pengolah untuk menentukan perlu dilakukan kikis buku atau tidak.
Penganggulangan : Diolah menjadi rotan kupas/poles halus untuk meningkatkan nilai ( dekoratif ).

5. Cacat ukuran
Pencegahan : Pemberian ketrampilan, pengetahuan tentang standarisasi, dan pemberian peralatan yang memadahi bagi tenaga kerja di bidang pembagi batang.
Penanggulangan : Rotan salah potong mutunya tetap disesuaikan dengan ukuran yang telah ditentukan/standar.

IV. MACAM CACAT PER SORTIMEN DAN PENGUKURANNYA

Cacat yang mungkin terjadi untuk setiap sortimen/tingkat pengolahan berbeda-beda. Cara pengukuran cacat adalah sebagai berikut.
A. Rotan Asalan
Rotan asalan adalah batang rotan yang telah mengalami pembersihan dan peruntian, tetapi belum mengalami pencucian dan perlakukan pengolahan lebih lanjut.
Jenis cacat dan cara pengukuran yang mungkin terdapat saat pengujian adalah :
1. Cacat Ringan, terdiri dari alur kulit, lubang gerek kecil, kulit mengelupas, retak kulit, kulit tergores, parut buaya, dan jamur pewarna.
Pengukuran :
a. Cacat rotan yang termasuk cacat ringan masing-masing diukur panjangnya
b. Jumlahkan panjang masing-masing cacat yang telah diukur.
c. Persentase cacat ditetapkan dengan membandingkan panjang cacat dengan panjang rotan kali 100 prosen.
2. Cacat Berat, terdiri dari keriput, lapuk, kulit mengelupas, mata pecah, pecah, dan patah.
Pengukuran :
a. Cacat rotan yang termasuk cacat berat masing-masing diukur panjangnya
b. Jumlahkan panjang masing-masing cacat yang telah diukur.
c. Persentase cacat ditetapkan dengan membandingkan panjang cacat dengan panjang rotan kali 100 prosen.
3. Panjang ruas, panjang ruas diukur dengan satuan Cm penuh.
4. Pengukuran ketebalan ruas, dilakukan dengan menghitung perbedaan diameter ruas pangkal dan ruas ujung. ( khusus Rotan bulat Sega mutu utama)
5. Kesilindrisan, dipersyaratkan untuk rotan kupasan. Perbedaan diameter terkecil dengan terbesar dalam prosentase.
6. Kekerasan/elastisitas, diukur dengan membengkokan salah satu ruasnya. Jika dibengkokkan rotan tidak retak, maka dikatakan rotan elastis, dan jika dibengkokkan retak maka dikategorikan rotan setengan elastis, dan jika dibengkokkan patah maka rotan masuk kategori lunak.
7. Kecerahan diukur secara okuler, rotan dikatakan cerah apabila rotan mampu memantulkan cahaya dan jika tidak memantulkan maka dikategorikan sebagai rotan tidak cerah.
B. Rotan Bulat
Rotan bulat adalah batangan rotan yang telah dibersihkan dan sudah mengalami proses pencucian dan pengawetan dengan asap belerang ( Washed & Sulfurized ) yang disebut Rotan Bulat W & S.
Jenis cacat dan cara pengukuran yang mungkin terdapat saat pengujian adalah :
1. Cacat Ringan, terdiri dari salah warna, lubang gerek kecil, serat terlepas, parut buaya, kulit mengelupas, pecah kulit, bekas mata pecah, gosong, kulit tergores, cerah tidak merata.
2. Cacat Berat, terdiri dari mata pecah, keriput, pecah ujung, pecah tengah, pecah buku, alur kulit busuk, lapuk, patah, kulit mengelupas (selain R. Umbulu) , bontos tidak siku.
Cara pengukuran sama dengan dalam pengukuran Rotan Asalan.
C. Rotan Iratan Kulit
Rotan iratan kulit adalah hasil proses pengiratan rotan bagian kulit berbentuk pipih dengan tebal dan panjang tertentu.
Jenis cacat dan cara pengukuran yang mungkin terdapat saat pengujian adalah :
1. Bercak/ Noda Warna
- Ukur panjang bagian cacat yang disebabkan oleh noda warna abu-abu, hitam, atau coklat.
- Bandingkan jumlah panjang bagian cacat dari contoh uji dengan panjang contoh uji dikalikan 100 prosen.
2. Saluran Penggerek
- Ukur panjang bagian cacat yang disebabkan oleh serangga penggerek.
- Bandingkan jumlah panjang bagian cacat dari contoh uji dengan panjang contoh uji dikalikan 100 prosen
3. Lubang serangan bubuk
- Amati ada tidaknya lubang serangan bubuk.

4. Panjang Ruas
- Ukur panjang ruas dalam satuan Cm minimal 3 ruas. Rata-ratakan hasilnya.
D. Rotan Iratan Hati Berbentuk Bulat
Rotan iratan hati berbentuk bulat adalah hasil proses iratan rotan bagian hati berbentuk bulat dengan garis tengah dan panjang tertentu.
Cara menilaian cacat pada rotan iratan hati berbentuk bulat sama dengan penilaian pada rotan iratan kulit.
Bogor, Nopember 2005
Daftar Pustaka


1. Alex Koamesakh, Pengenalan Cacat Rotan Indonesia, 1988
2. Alex Koamesakh, Pedoman Pelaksanaan Pengujian Rotan Indonesia, 1989
Read More..

PENGUJIAN KAYU LAPIS

PENGUJIAN KAYU LAPIS
CAKUPAN MATERI PENGUJIAN KAYU LAPIS
I. PENDAHULUAN
II. PERKEMBANGAN MACAM PRODUK
III. PERSYARATAN UMUM
IV. MUTU LAPISAN LUAR
V. KETEGUHAN REKAT
VI. SIFAT FISIS DAN MEKANIS
VII. EMISI FORMALDEHIDA
VIII. PENGAMBILAN CONTOH
PENGUJIAN/PEMILAHAN/PENETAPAN MUTU (GRADING)

Untuk mengetahui kualitas kayu lapis sehingga dapat menggolongkan ke dalam suatu kelas atau tingkat mutu tertentu

Macam pengujian : - Pengujian visual (tanpa alat)
- Pengujian dengan memakai alat

Tempat : - Laboratorium
- Di luar laboratorium

Pengujian di laboratorium (bersifat merusak).
- Ukuran contoh uji <> 3 lapis)

• Bahan inti
- Venir
- Kayu gergajian (papan blok)
- Sisa pemotongan kayu lapis
- Sisa pemotongan papan blok
4. Ikatan perekat

- Kayu lapis eksterior I
Tahan terhadap cuaca dalam waktu yang relatif lama
(Weather and Boil Proof atau WBP), perekat PF atau RF

- Kayu lapis eksterior II
Tahan terhadap cuaca dalam waktu yang relatif pendek sekitar
beberapa tahun
(Boil resistant (BR) atau Ciclic Boil Resistant (CBR)), perekat MF

- Kayu lapis interior I
Tahan terhadap kelembaban tinggi atau tahan air
(Moisture Resistant atau MR), perekat UF

- Kayu lapis interior II
Tahan terhadap keadaan kering atau kelembaban rendah
(Interior atau INT), perekat UF dengan ekstender yang cukup
banyak, perekat alami

5. Bahan laminasi

- Venir dari kayu indah, produk berupa kayu lapis indah
(fancy plywood)

- Cat (polos dan bercorak kayu), produk berupa kayu lapis
bermuka cat (Printed plywood)

- Kertas beraneka macam corak, produk berupa kayu lapis bermuka
kertas (paer overlay atau polyester plywood)

- Kertas melamin, produk berupa kayu lapis bermuka kertas melamin
(melamic film plywood)

- Kertas phenol, produk berupa kayu lapis bermuka kertas phenol
(film faced plywood atau phenolic film plywood)

- Polivinil chlorid (plastik), produk berupa kayu lapis bermuka polivinil
chlorid (polyvinyl chlorid plywood atau PVC plywood)

6. Penggunaan
- Penggunaan umum (untuk berbagai keperluan)
- Penggunaan khusus (untuk penggunaan tertentu sehingga
diperlukan persyaratan khusus), seperti:
- Kayu lapis konstruksi (structural plywood)
- Kayu lapis cetakan beton (concreate plywood)

7. Bentuk
- Datar
- Lengkung (sandaran kursi, asbak, baki dll)

Kayu lapis dapat dimasukkan ke dalam :
- Panel kayu (wood-based panels) seperti papan partikel, papan wol kayu,
papan serat (relatif panjang, relatif lebar tetapi relatif tipis)

- Kayu majemuk (composite wood) karena terdiri atas beberapa komponen
yang direkat menjadi satu (komponennya berupa venir dan memakai
perekat organik)
PERSYARATAN UMUM :
Persyaratan yang harus dipenuhi, biasanya meliputi ukuran yaitu panjang, lebar,dan tebal, siku, kadar air dan keadaan venir penyusun kayu lapis (hanya ada dua pilihan diterima atau ditolak).
A. Ukuran
Panjang dan lebar diukur dengan meteran, sedangkan tebal diukur dengan kaliper
Dalam hal ukuran dikenal adanya toleransi yaitu besarnya penyimpangan dari ukuran nominal yang masih diperkenankan, besarnya bervariasi tergantung pada standar yang digunakan

B. Siku
Siku diukur berdasarkan perbedaan panjang diagonal dengan meteran, atau dengan menggunakan alat penyiku kemudian diukur besarnya penyimpangan dari garis siku

C. Kelurusan tepi
Diukur besarnya penyimpangan dari garis lurus atau garis tepi





D. Kadar air
- Diuji dengan sistem oven (perlu alat timbangan, oven
dan desikator); contoh uji berukuran kecil (10cm x10cm )
- Moisturemeter digunakan hanya untuk pengecekan
E. Keadaan venir penyusun kayu lapis
Keadaan venir ini meliputi cara pembuatan, jenis kayu, tebal,
cacat alami dan cacat teknis.
Cara pengujiannya secara visual dan untuk tebal menggunakan
kaliper







Standar Indonesia tahun 1981 mempersyaratkan :
Tidak diperkenankan adanya sambungan pada arah memanjang
Tebal inti tripleks tidak boleh lebih dari 60%
Multipleks, jumlah tebal venir luar dan semua venir yang sejajar dengan venir luar tidak kurang dari 40% dan tidak lebih dari 60% dari tebal kayu lapis
Venir inti atau venir dalam diperkenankan ada mata kayu, cact terbuka, celah, tumpang tindih atau terlipat asal tidak mempengaruhi keadaan permukaan yang akan dikerjakan lebih lanjut

Standar Indonesia yang sekarang tidak mempersyaratkan perbandingan tebal venir penyusun kayu lapis
Standar Inggris
1972, persyaratan susunan tebal multipleks 40 – 65%

1985, persyaratan susunan tebal tripleks tebal 6,5 mm atau kurang, tebal inti maksimum 70% dari tebal nominal
Sedangkan tripleks tebal lebih dari 6,5 mm tebal inti maksimum 50%.

Untuk multipleks, jumlah tebal venir luar dan venir yang sejajar dengan venir luar 40 – 65%.

Venir luar harus terbuat dari jenis kayu yang sama atau yang hampir sama sifat fisiknya

Bila jumlah lapisan genap, arah serat dari kedua lapisan dalam harus sejajar

Tebal venir luar minimum 0,6 mm dan maksimum 3 mm, sedangkan tebal venir dalam maksimum 5 mm

Standar Amerika
Tebal venir luar rata-rata 0,8 mm dengan minimum 0,66 mm setelah penghalusan
Perbandingan tebal tripleks dan tebal inti adalah sbb

MUTU LAPISAN LUAR
Mutu lapisan luar berhubungan dengan keadaan venir muka dan venir belakang dalam hal cacat alami dan cacat teknis

Cacat alami
Cacat yang terjadi atau terdapat pada kayu lapis yang disebabkan oleh faktor alami

Cacat teknis
Cacat yang terjadi atau terdapat pada kayu lapis yang disebabkan oleh faktor teknis atau proses pengolahan
Pengujian mutu lapisan luar dilakukan secara visual dan untuk mengetahui ukuran cacat digunakan meteran atau kaliper
Untuk setiap mutu ada kriteria mengenai cacat alami dan cacat teknis, baik kualitatif maupun kuantitatif

Cacat yang bersifat kualitatif adalah cacat yang tidak bisa dinyatakan dengan angka

Cacat yang bersifat kuantitatif adalah cacat yang kriterianya dapat dinyatakan dengan angka

Banyaknya macam cacat alami dan cacat teknis pada setiap standar tidak selalu sama, tetapi ada persamaan dalam hal cacat yang penting seperti mata kayu, lubang gerek, perubahan warna, sisipan, tambalan dan permukaan kasar.

























PENAMAAN KELAS MUTU LAPISAN LUAR
Umumnya memakai huruf abjad
Menurut Standar Indonesia: A, B, C, D atau kombinasinya
Menurut Standar Amerika: BB, CC, Overlay (OVL), dan
Utility (UTY) atau Industrial (IND)
Menurut Standar Inggris: B, BB, C atau kombinasinya
Menurut Standar Jepang : 1(BB), 2(CC)
Menurut Standar Internasional (ISO): E, I, II, III, IV
CONTOH PENULISAN MUTU KAYU LAPIS
Menurut Standar Indonesia adalah B/C, yang berarti
mutu lapisan muka B dan mutu lapisan belakang C

Menurut Standar Amerika adalah BB, yang berarti mutu
lapisan muka BB sedangkan mutu lapisan belakang
memenuhi persyaratan minimum untuk venir belakang
KETEGUHAN REKAT
Dapat diuji dengan 3 cara :
• Uji geser tarik
• Uji delaminasi
• Uji pisau

Pengujian dilakukan terhadap contoh uji berukuran kecil sehingga kayu lapisnya harus dipotong

Sebelum dilakukan pengujian umumnya dilakukan perlakuan terhadap contoh uji sesuai dengan tipe keteguhan rekatnya
A. UJI GESER TARIK
• Contoh uji berbentuk persegi panjang
lebar 2,5 cm dan panjang 8 – 15 cm.
Sebelah kiri dan kanan dibuat takik lebar 3 mm yang
menembus inti atau lapisan dalam sehingga diperoleh
bidang geser

• Luas bidang geser berkisar 0,4 x 2,5 cm – 2,5 x 2,5 cm
• Untuk mengukur contoh uji digunakan kaliper
• Untuk mengadakan perlakuan dipakai penangas
(waterbath) dan oven atau tangki vakum







• Uji geser tarik dilaksanakan dengan mesin penguji
tarik dan dicatat besar beban pada saat contoh uji
putus atau rusak (beban maksimum)
• Beban maksimum tersebut (kg) dibagi dengan luas
bidang geser (cm2) menghasilkan nilai keteguhan
rekat (kg/cm2)

• Pada beberapa standar diadakan koreksi berdasarkan :
- Jenis kayu
- Perbandingan tebal inti dengan lapisan luar
- Berat jenis (kerapatan) kayu lapis
- Kerusakan kayu yang terdapat pada bidang geser





STANDAR ISO
• Ada 3 kelas mutu perekatan yaitu kelas 1 (keadaan kering), kelas 2 (keadaan lembab) dan kelas 3 (keadaan eksterior)

STANDAR ISO (LANJUTAN)
Perlakuan contoh uji
a. Contoh uji direndam dalam air suhu (20 ± 3)oC selama 24 jam

b. Contoh uji direndam air mendidih 6 jam, direndam air suhu (20 ± 3)oC minimum 1 jam untuk mengurangi suhu sampai 20oC

c. Contoh uji direndam air mendidih 4 , dioven pada suhu (60 ± 3)oC selama 16-20 jam, direndam air mendidih 4 jam, didinginkan dalam air suhu (20 ± 3)oC minimum 1 jam untuk mengurangi suhu sampai 20oC

d. Contoh uji direndam dalam air mendidih 72 jam, direndam air suhu (20 ± 3)oC minimum 1 jam untuk mengurangi suhu sampai 20oC

• Penetapan kerusakan kayu pada contoh uji keteguhan rekat dilakukan dalam keadaan kering
STANDAR ISO (LANJUTAN)
Pengujian diulang dengan membuat contoh uji baru bila:
• Contoh uji putus (bidang geser utuh)
• Tidak terjadi kerusakan kayu karena ada kertas
• Kerusakan kayu 50% atau lebih berasal dari venir silang

Persyaratan garis rekat




B. UJI DELAMINASI
Terdapat pada Standar Jepang dan Standar Amerika
1. Standar Jepang
Uji delaminasi dilakukan untuk kayu lapis yang mempunyai lapisan dengan arah serat sejajar dan untuk papan blok

• Contoh uji berukuran 7,5 cm x 7,5 cm
• Contoh uji diberi perlakuan sesuai dengan tipe perekat.
Setelah perlakuan, contoh uji diperiksa dan diukur panjang lapisan yang lepas atau terbuka
• Alat yang diperlukan : kaliper, penangas dan oven

• Persyaratan minimum: panjang lapisan yang lepas atau terbuka (delaminasi) kurang dari 2,5 cm. Bila 2,5 cm atau lebih berarti tidak memenuhi syarat





2. Standar Amerika

a. Kayu lapis kurang dari 6mm (IHPA, 1986)
- Untuk menguji kayu lapis tipe II
- Contoh uji berukuran 12,7 x 5 cm sebanyak 10 buah diambil
dari setiap panel dari 5 tempat yaitu bagian ujung kiri dan
kanan, bagian sisi atas dan bawah serta bagian tengah
- Perlakuan terhadap contoh uji 3 kali siklus pencelupan
Setiap siklus terdiri dari:
(1) Contoh uji direndam air 24°C ± 3°C selama 4 jam
(2) Contoh uji dikeringkan dalam oven 49°C - 52°C selama 19 jam dengan peredaran udara yang cukup untuk mengurangi kadar air contoh uji sampai maksimum 8%
Persyaratan :
Contoh uji dianggap rusak bila salah satu delaminasi antara dua lapisan , > 50 mm panjangnya, dalamnya > 4,2 mm dan lebarnya (tinggi bagian yang terbuka) 0,0762 mm sesuai dengan tebal alat pengukur yang dipakai (feel gauge 0,003 inci). Sembilan dari 10 c.u. harus lolos siklus pertama dan 8 dari 10 c.u harus lolos siklus ketiga
b. Kayu lapis tebal 6 mm ke atas (IHPA, 1988)
Uji delaminasi dikerjakan untuk kayu lapis tipe I yang
mengandung laminasi sejajar dan untuk kayu lapis tipe II


(1) Kayu lapis tipe I
Contoh uji berukuran 76,2 x 76,2 mm
Banyaknya contoh uji 10 buah diambil dari setiap panel, dengan perlakuan sbb:
- Contoh uji direbus air mendidih selama 4 jam
- Contoh uji dikeringkan dalam oven 60°C ± 3°C selama 20 jam
- Contoh uji direbus air mendidih selama 4 jam
- Contoh uji dikeringkan dalam oven 60°C ± 3°C selama 3 jam

Suatu contoh uji dianggap rusak bila terjadi delaminasi lebih dari
25,4 mm. Jumlah contoh uji yang baik minimum 90%
(2) Kayu lapis tipe II
Contoh uji berukuran 127 x 50 mm diambil minimum 6 buah dari
setiap lembar panel.
Perlakuan dan penilaian terhadap contoh uji sama dengan kayu lapis
tebal < kayunya =" 50%" jenis =" Berat" ba =" Berat" bo =" Berat" b =" Beban" s =" Jarak" l =" Lebar" t =" Tebal" b =" Selisih" d =" Defleksi" tarik =" B" b =" Beban" a =" Luas" lebar =" 10" panjang =" 6" lebar =" 10,2" tinggi =" 2,9" lebar =" 2,5" panjang =" 5" td =" (X" ti =" TD" td =" X" ti =" TD" td =" (X" ti =" TD" td =" (X" ti =" TD" n =" 90%" n =" 70%">
Read More..

PROSES KAYU LAPIS

PROSES PEMBUATAN KAYU LAPIS
H U T A N
• Sumber daya alam yang penting di Indonesia
• Manfaat langsung
– Hasil hutan kayu
– Hasil Hutan Bukan Kayu:
• Nabati
• Hewani
• Manfaat tidak langsung
– Keindahan (estetika)
– Udara segar
– Penyerapan CO2
– Perlindungan tata air dan tanah
– Pengatur tata air
K A Y U
• Sekitar 4000 jenis kayu, sebagian besar kayu daun lebar, sebagian kecil kayu daun jarum
• Semua jenis kayu dapat diolah menjadi kayu gergajian
• Tidak semua jenis kayu dapat diolah menjadi kayu lapis
• Untuk kayu lapis biasa, diutamakan BJ 0,40 – 0,60
• Untuk kayu lapis indah diutamakan bercorak indah, jenisnya terbatas, BJ dapat lebih tinggi: 0,40 – 0,60
• Jenis kayu yang sesuai untuk kayu lapis perlu dibina, pengembangan jas di hutan alam dan hutan tanaman
• Industri kayu lapis sampai dengan tahun 1998 lebih dari 100 buah
• Pada tahun 2006 tinggal 54 pabrik, penyebabnya sangat komplek.
PENGERTIAN VENIR/KAYU LAPIS/ VENIR LAMINA
• Venir lembaran kayu tipis hasil pengupasan, penyayatan atau penggergajian tebal 0,1 – 6 mm
• Hasil perekatan beberapa lembar venir secara bersilangan tegak lurus
• Venir lamina (LVL) produk yang diperoleh dengan cara menyusun sejajar serat lembaran venir diikat dengan perekat
• Kayu lapis termasuk panel kayu karena relatif panjang, relatif lebar dan relatif tipis. Produk lainnya venir lamina (LVL), papan partikel, papan serat dan papan mineral
MACAM KAYU LAPIS
• Tingkat pengolahan
• Macam inti
• Bentuk
• Tipe perekat
• Penggunaan
• Sortimen
A. TINGKAT PENGOLAHAN
• Pengolahan primer: dolok dibuat venir, direkat menjadi kayu lapis. dalam hal ini termasuk yang intinya (core) bukan venir
• Pengolahan sekunder: kayu lapis yang sudah jadi diberi lapisan lain agar lebih indah atau lebih tahan lama
DENGAN PELABURAN PEREKAT
• Kayu lapis indah (Fancy Plywood)
• Kayu lapis bermuka kertas (Paper Overlay atau Polyester Plywood)
• Kayu lapis bermuka polivinil klorid (Polyvinyl Chloride Plywood atau PVC Plywood)
TANPA PELABURAN PEREKAT
• Kayu lapis bermuka kertas (Phenolic Film Plywood atau Film Faced Pylwood)
• Kayu lapis bermuka kertas melamin (Melamic Film Plywood)
• Kayu lapis bermuka cat (Printed Plywood)
• Kayu lapis bermuka poliuretan (Polyurethane Plywood)
• Kayu lapis bermuka bahan pewarna (Colour Tone Plywood)
KAYU LAPIS PENGOLAHAN TERTIER
Kayu lapis pengolahan primer atau sekunder diolah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi (komponen mebel, parket dan lain-lain)
B. MACAM INTI
• Venir
• Kayu gergajian
• Sisa pemotongan kayu lapis
– Disusun berbaring
– Disusun tegak
• Sisa pemotongan papan blok
• Papan partikel (Particleboard Core Plywood)
• Papan serat (Fibreboard Core Plywood)
• Bambu (Bamboo Core Plywood)
C. BENTUK
• Datar
• Lengkung, tergantung pada bentuk lempeng mesin kempa
D. TIPE PEREKAT
• EKSTERIOR
– EKSTERIOR I (PF)
– EKSTERIOR II (MF)

• INTERIOR
– INTERIOR I (UF)
– INTERIOR II (TAPIOKA)
E. PENGGUNAAN
• UMUM: berbagai macam keperluan dalam pemakaiannya tidak memikul beban misalnya plafon, daun pintu, penyekat dll.
• KHUSUS: penggunaan tertentu sehingga diperlukan persyaratan khusus seperti kekuatan dan keawetan, misalnya:
– kayu lapis lantai peti kemas (Container Flooring Plywood)
– kayu lapis cetakan beton (Concreate Plywood)
– kayu lapis kelautan (Marine Plywood)
– kayu lapis struktural (Structural Plywood)
• Dalam hal tertentu dilakukan penyempurnaan sifat kayu lapis
PENYEMPURNAAN SIFAT KAYU LAPIS
• Sifat keawetan (bahan pengawet pada ramuan perekat, pada venir, pada kayu lapis yang sudah jadi)
• Sifat tahan api (pada kayu lapis yang sudah jadi)
SORTIMEN
• Jumlah lapisan: 2 (dupleks), 3 (tripleks) dan lebih dari 3 (multipleks)
• Tebal: 2,5 mm; 3mm; 4mm; 6mm; 9mm; 12mm; 15mm; 18mm; 25mm dll.
• Panjang dan lebar : 244 x 122 cm (8’ x 4’), 213 x 91 cm (7’ x 3’) dll.
BAHAN BAKU
KAYU :
• Berat jenis lebih disukai 0,40 – 0,60 misalnya meranti (Shorea sp.) meranti merah, putih dan kuning, bintangur (Callophyllum sp.), teraling (Heritiera sp.), pulai (Alstonia sp.).
• Berat jenis kurang dari 0,40 dan lebih dari 0,60 dapat juga dibuat kayu lapis, misalnya sengon (Paraserianthes falcataria), keruing (Dipterocarpus sp.)
• Yang yang tidak berminyak lebih disukai.
• Kayu lapis indah kayu yang bercorak indah walaupun ada yang Bj-nya relatif tinggi, misalnya jati (Tectona grandis), sungkai (Paronema canescens), sonokeling (Dalbergia latifolia), nyatoh (Palaquium sp.)
• Bentuk: batang lurus, sesilindris mungkin, cacat minimal, serat lurus, batang bebas cabang.
PEREKAT
• Phenol formaldehida (PF) : tipe eksterior I
• Melamin formaldehida (MF) : tipe eksterior II
• Urea formaldehida (UF) : tipe interior I
• Tapioka : tipe interior II
PEMBUATAN KAYU LAPIS
• Pemilihan dolok: berdasarkan cacat yang sesuai dibuat untuk venir, yang tidak sesuai dibuat kayu gergajian
• Pemotongan dolok: sesuai dengan panjang yang dikehendaki, alatnya gergaji rantai atau gergaji bundar
• Pengulitan dolok: dolok dikuliti secara manual atau mesin
• Pembersihan dolok: permukaan dolok dibersihkan dari kotoran dengan disemprot air atau disikat
• Pemanasan dolok: kayu Bj tinggi atau berminyak dilakukan perebusan di dalam bak, suhu dan lamanya tergantung Bj kayu dan ada tidaknya minyak
• Pengukusan dilakukan di dalam bak (berbaring dan berdiri) di dalam ruangan ditutupi terpal atau plastik.

PEMBUATAN VENIR
• Lembaran kayu yang tipis hasil pengupasan, penyayatan atau penggergajian.
• Yang umum hasil pengupasan dan penyayatan
• Tebal venir 0,1 – 6 mm
MESIN KUPAS
• Dengan cakar
• Tanpa cakar
• Kombinasi cakar, tanpa cakar
• Kayu berputar statis
• Pisau bergerak maju
• Sentris
• Eksentris


PENENTUAN TITIK PUSAT DOLOK
• Secara manual
• Pakai sinar lampu
• Pakai sinar laser
Gambar: Penampang lintang mesin kupas (penekan lancip)


BEBERAPA PERMASALAHAN DALAM PENGUPASAN DAN CARA PEMECAHANNYA
PENGUKURAN SUDUT KUPAS
• Dari garis horisontal sekitar 90 o
• Dari garis vertikal sekitar 20 o
Gambar : Mesin kupas tanpa cakar
Mesnin kupas tanpa cakar digunakan untuk:
• Kayu sisa kupasan
• Dolok hasil pembulatan dari mesin kupas dengan cakar
MESIN SAYAT
• Untuk membuat venir indah/kayu bercorak indah
• Alami
• Buatan
– Venir lamina campuran kayu berbeda warna
– Kayu lamina campuran kayu berbeda warna
• Kayu yang diolah kayu persegian
Mesin Sayat ada empat macam
• Mesin sayat horisontal
• Kayu di atas pisau
• Kayu dibawah pisau
• Kayu bergerak bertahap turun atau naik
• Pisau bergerak statis maju mundur

Gambar penampang lintang mesin sayat vertikal

• Mesin sayat vertikal
• Kayu maju secara bertahap, pisau turun naik
• Manyayat waktu kayu turun
• Manyayat waktu kayu naik
• Masin sayat miring
• Kayu dibawah pisau posisi miring
• Kayu bergerak keaas bertahap
• Pisau maju mundur
• Mesin sayat memanjang
• Pada mesin ini panjang pisau lebih pendek dari panjang kayu
• Panjang kayu tidak terbatas
• Kayu bergerak di atas pisau dalam arah memanjang
• Pisau tidak bergerak
PENGERINGAN VENIR
• Dua macam mesin utama pengering venir tipe ban dan tipe rol
• Kombinasi bagian atas tipe ban bawah tipe rol
• Venir bergerak di dalam ruang yang berhawa panas
• Ada yang bisa diatur kelembabannya sehingga cacat pengeringan minimal
• Pada tipe ban venir tidak perlu dipotong, venir diletakan secara melintang arah panjang mesin
• Pada tipe rol venir dipotong dan venir diletakan secara memanjang arah panjang mesin
• Kada air venir harus sesuai dengan persyaratan perekat perlu pengecekan secara berkala
• Ada mesin pengering yang dilengkapi dengan alat sensor
• Dapat diketahui kalau kadar air venir melebihi maksimum

• Kalau kadar air terlalu tinggi dikeringkan lagi dan kecepatanpergerakan venir dikurangi
• Alat lain yang dapat digunakan untuk mengeringkan venir: dapur pengering (dry kiln) dan mesin kempa panas (untuk venir yang tebal)
• Di pabrik kayu lapis kecil, pengeringan venir dilakukan secara alami, dengan penjemuran
• Pengeringan venir kombinasi pengeringan alami dan buatan
• Pengeringan alami, pengeringan pendahuluan sehingga pengeringan buatan dapat berlangsung lebih cepat

PEMOTONGAN VENIR KERING
• Mesin pemotong venir otomatis dan tidak otomatis (manual)
• Pisau bergerak turun naik secara statis
• Venir bergerak maju
• Pada mesin otomatis ada sensor
PENYAMBUNGAN VENIR
• Mesin penyambung venir atau manual
• Venir yang disambung adalah venir kering yang lebarnya kurang
• Penyambungan dilakukan kearah lebar (umum)
• Ada penyambungan ke arah panjang
• Penyambungan harus rapat dan jangan ada tumpang tindih
• Penyambungan dengan mesin yang venirnya bergerak ke arah lebar (terbanyak)
• Penyambungan dengan mesin yang venirnya bergerak ke arah panjang
PERBAIKAN VENIR
• Umumnya dilakukan secara manual dan sedikit menggunakan mesin
• Venir yang retak dilakukan secara manual menggunakan pita perekat
• Perbaikan rapi
• Penambalan menggunakan venir yang warnanya sesuai
• Cacat terbuka pada venir dirapikan bentuknya kemudian ditutup dengan venir yang sesuai bentuk dan warnanya
PENYIAPAN VENIR
• Venir dipilih, venir luar, venir dalam
• Venir luar dibedakan menjadi venir muka dan venir belakang
• Venir dalam dipisahkan menjadi venir dalam yang panjang (long core) dan yang pendek (cross band atau short core)
PENYIAPAN PEREKAT
• Perekat dan bahan ain ditimbang sesuai dengan komposisi yang dikehendaki
• Bahan diaduk merata dalam mesin pengaduk perekat
• Pengadukan harus merata

PELABURAN PEREKAT
• Umumnya venir dilaburi perekat pada kedua permukaannya (pelaburan ganda)
• Dalam hal tertentu satu permukaan yang dilaburi perekat (pelaburan tunggal)
• Berat labur perlu dilakukan pengecekan secara berkala
• Ada yang menambahkan bahan pewarna pada perekat untuk memudahkan pengecekan
• Venir bergerak diantara dua rol yang berputar
• Pada pelaburan ganda satu lembar venir dimasukkan
• Pada pelaburan tunggal dua lembar venir dimasukkan

PENGEMPAAN DINGIN
• Bahan kayu lapis dimasukkan ke dalam mesin kempadingin dengan tekanan spesifik 10 kg/cm2 sekitar 15 menit
• Susunan bahan kayu lapis yang dikempa harus rapi dan rata-rata penekanannya merata pada seluruh permukaan
• Hasil pengempaan dingin diperiksa, bila ada yang melipat atau tumpang tindih diperbaiki, sisa venir yang menempel dibersihkan

PEGEMPAAN PANAS
• Bahan kayu lapis hasil pengempaan dingin dimasukkan ke dalam mesin kempa panas
• Suhu berkisar 110 – 135 oC tergantung macam perekat yang digunakan
• Tekanan spesifik berkisar 10 – 12 kg/cm2
• Waktu pengempaan tergantung pada macam perekat dan tebal bahan kayu lapis
• Siklus kempa, waktu memasukkan + waktu pengempaan + waktu mengeluarkan
• Suhu, waktu dan tekanan harus sesuai sehingga pengecekannya harus berkala
• Tekanan kerja (terbaca pada manometer) ada hubungannya dengan tekanan spesifik, luas permukaan bahan kayu lapis dan jumlah luas bidang dasar piston mesin kempa

• Hail pengempaan panas diperiksa, bila ada yang lepuh dipisahkan
• Tiap lembar bahan kayu lapis dimasukkan ke dalam tiap celah mesin kempa panas
• Lempeng mesin kempa panas naik ke atas menekan bahan kayu lapis
• Panas yang ada pada tiap lempeng memanasi bahan kayu lapis
• Pemasukan bahan kayu lapis dan pengeluaran kayu lapis dari mesin kempa panas dapat dilakukan secara manual atau otomatis
• Tekanan yang terbaca pada monometer adalah tekanan kerja yang dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Tekanan spesifik x luas bahan yang dikempa
Tekanan kerja:
Jumlah luas bidang dasar piston
• Tekanan ini adalah tekanan yang bekerja pada mesin dan besarnya beberapa ratus kg/cm2
PENGEMPAAN PANAS PEREKAT UF
• Waktu 30 detik/mm tebal, tekanan 10 kg/cm2, suhu 105 – 115 oC
• Perhitungan waktu pengempaan panas berdasarkan waktu pengerasan perekat + waktu perambatan panas
• Waktu pengerasan perekat pada suhu 100 oC = 1,50 menit; 110 oC = 1,00 menit; 120 oC = 0,75 menit
• Waktu perambatan panas dari perlukaan kayu lapis sampai garis rekat terjauh (menit/mm)
PERBAIKAN KAYU LAPIS
• Pendempulan menutupi cacat terbuka
• Sisipan pada bagian tepi kayu lapis yang cacat
• Penyumbatan pada celah bagian tepi kayu lapis yang mengandung celah
PENGAMPELASAN KAYU LAPIS
• Kayu lapis bergerak ke arah panjang melalui rol yang e\mengandung sabuk ampelas
• Sabuk ampelas bisa ada di bagian atas atau di bagian bawah mesin ampelas
• Pengampelasan dilakukan untuk menghaluskan permukaan kayu lapis dengan mesin ampelas
• Pengampelasan pada dua permukaan (muka dan belakang) atau satu permukaan (bagian muka saja)
• Tebal kayu lapis harus sesuai dengan persyaratan perlu diperiksa berkala
• Cacat pengampelasan harus dihindari

PEMILAHAN KAYU LAPIS
• Kayu lapis diuji mutunya secara visual lembar demi lembar berdasarkan adanya cacat alami dan cacat teknis di kelompokkan sesuai dengan mutunya
• Secara acak sebagian dari kayu lapis tersebut diambil untuk diperiksa ukuran, siku, kelurusan tepi, serta diuji di laboratorium, meliputi kadar air, keteguhan rekat dan lain-lain
PEMBUATAN PAPAN BLOK
• Kayu digergaji menjadi papan.
• Papan dikeringkan dalam dapur pengering sehingga mencapai kadar air 12 %. Ada kalanya dikeringkan secara alami dulu.
• Papan diserut pada kedua permukaannya dengan tebal tertentu.
• Papan digergaji menjadi bilah dengan lebar tertentu.
• Bilah dipilih dan digergaji kedua ujungnya agar rata.
• Bilah direkat pada tepinya menjadi bahan inti papan blok (berupa papan sambung). Proses perekatan dengan mesin (umumnya) atau secara manual. Bila memakai mesin, bahan inti papan blok digergaji tepinya secara otomatis menjadi ukuran tertentu.

• Bahan inti papan blok diperiksa dan kalau perlu diperbaiki. Ada kalanya diampelas kedua permukaannya.
• Venir silang dilaburi perekat pada kedua permukaannya (untuk papan blok 5 lapis) atau pada satu permukaannya (untuk papan blok 3 lapis).
• Penyusunan bahan papan blok 5 lapis atau 3 lapis.
• Bahan papan blok dikempa dingin, diperiksa, kalau perlu diperbaiki. Bahan ini dikempa panas, diperiksa, kalau perlu diperbaiki, didempul.
• Papan blok digergaji pada ke empat sisinya, diampelas permukaannya, diperiksa, kalau perlu diperbaiki.
• Papan blok diuji secara visual, dikemas, dan disimpan di gudang.

FAKTOR MESIN
• Mesin gergaji rantai dan mesin gergaji bundar untuk memotong dolok.
– Gigi gergaji hams tajam dan giwaran sesuai agar pemotongan lancar
• Mesin kupas untuk membuat venir
– Pisau harus tajam agar permukaan venir halus
– Sudut pisau di antara 20o – 23o. Untuk mengupas kayu yang lunak
– Ssudut pisaunya lebih kecil daripada untuk kayu yang keras.
– Kedudukan pisau dan penekan harus datar.
– Kedudukan penekan horizontal dengan titik pusat cakar.
– Susunan roda gigi dan persneling sesuai dengan tebal pengupasan.
– Jarak vertikal relatif tetap (0,3-0,5 mm), jarak horisontal sekitar 90 % dari tebal venir. Makin tipis venir dan makin keras kayu (berat jenisnya makin tinggi), makin kecil tekanannya sehingga persentase jarak tersebut makin besar.
– Sudut kupas di antara 20o – 24o disesuaikan dengan tebal venir, yaitu makin tipis venir, sudut kupasnya makin besar dan sebaliknya. Untuk kayu keras sudut kupasnya lebih kecil.

• Mesin pemotong venir basah
– Pisau harus tajam agar hasil pemotongan halus.
– Untuk mesin yang mempunyai sensor lebar pemotongan, diperiksa apakah bekerja dengan baik
• Mesin pengering venir
– Suhu pengeringan harus sesuai.
– Untuk mesin yang mempunyai sensor kadar air, diperiksa apakah sesuai.
– Diperiksa tebal dan kadar air venir basah.
– Dicoba mengeringkan venir tersebut dengan kecepatan tertentu dan diperiksa kadar air venir keringnya, sampai diketahui kecepatan yang sesuai.

• Mesin pemotong venir kering
– Pisau harus tajam agar hasil pemotongan halus
– Untuk mesin yang mempunyai sensor lebar pemotongan, diperiksa apakah bekerja dengan baik
• Mesin penyambung venir
– Pisau harus tajam agar hasil pemotongan halus dan hasil penyambungan rapat.
– Bagian yang berhubungan dengan pita perekat, benang perekat, benang poliester dan perekat padat harus bekerja dengan baik.
– Ditektor tebal harus sesuai dengan standar ( 95% dari tebal venir).
• Mesin pengaduk perekat
– Tangki harus bersih dan kecepatan pengadukan harus sesuai
– Formula perekat harus sesuai dan pencampurannya bertahap (setiap tahap 5 menit)
– Lama pengadukan minimal 15 menit

• Mesin pelabur perekat
– Rol pelabur harus datar dan jarak di antara keduanya harus sesuai dengan tebal venir yang akan dilaburi (minus 0,2 mm dari tebal venir) .
– Kedudukan rol samping terhadap rol pelabur harus datar dan jarak di antara keduanya disesuaikan dengan tebal pelaburan perekat yang berarti disesuaikan dengan berat labur.
– Dicoba melaburkan perekat pada venir dan diperiksa apakah berat labur dan kerataan pelaburan sesuai.
• Mesin kempa dingin
– Tekanan kerja harus sesuai dengan tekanan spesifik.
– Waktu kempa harus sesuai dan secara otomatis menghentikan pengempaan.

• Mesin kempa panas
– Tekanan kerja harus sesuai dengan tekanan spesifik.
– Waktu kempa harus sesuai dan secara otomatis menghentikan pengempaan.
– Suhu kempa harus sesuai baik pada lempeng (plat) mesin kempa maupun pada meja kendali.
– Lempeng mesin kempa harus bersih.
• Mesin pemotong kayu lapis
– Jarak antara gergaji bundar harus sesuai dengan lebar dan panjang kayu lapis yang ditetapkan.
– Gigi gergaji bundar harus tajam dan giwarannya harus sesuai agar pemotongan berjalan lancar, bekas pemotongan halus dan tidak gosong.
– Tinggi gergaji ± 5 mm dari tebal kayu lapis.
– Dicoba memotong kayu lapis dan diperiksa hasilnya apakah sesuai lebar dan panjangnya, siku, lurus, serta bekas pemotongan baik.

• Mesin ampelas
– Keadaan sabuk ampelas masih baik dan kehalusannya sesuai. Sebagai contoh untuk kayu lapis yang tipis dipakai sabuk ampelas. yang lebih halus agar pengurangan tebalnya tidak terlalu banyak.
– Tekanan pengampelasan harus sesuai.
– Dicoba mengampelas kayu lapis dan diperiksa hasilnya apakah sesuai serta keadaan permukaannya apakah baik.
PENGGUNAAN KAYU LAPIS
• Bangunan
– Rangka : penguat sambungan (gelagar, kuda-kuda), balok kotak, blok I
– Dinding : pelapis dinding (dekoratif), penutup dinding (ada faktor kekuatan)
– Langit-langit (plafon)
– Lantai
– Pintu

• Alat Transpor (Mobil, kereta api, perahu dan kapal laut, pesawat)
• Mebel : Lemari, meja, kursi


• Bahan pengiriman : peti teh, kopor, peti kemas
• Barang Industri : Kabinet radio, Kabinet televisi, Kabinet mesin jahit
• Alat musik dan olah raga : Gitar, Piano, Pemukul pimpong
• Barang Kerajinan: Penutup lampu, hiasan dinding, mainan anak

ASPEK PENGOLAHAN

• Kayu diangkut ke pabrik dan dibuat venir secepat mungkin untuk mencegah cacat akibat serangan jamur dan serangan penggerek.
• Pembuatan venir dilakukan dengan baik untuk mencegah cacat teknis berupa permukaan kasar, tebal tipis, cacat pisau dan untuk mengurangi limbah.
• Pemotongan venir dilakukan dengan baik untuk mengurangi limbah.
• Pengeringan venir dilakukan dengan baik untuk mencegah kadar air terlalu rendah (venir rapuh) dan kadar air terlalu tinggi (mencegah delaminasi atau lepuh).
• Penyambungan venir dilakukan dengan baik untuk mencegah sambungan renggang, tumpang tindih, dan untuk mengurangi limbah.

• Pencampuran dan pengadukan perekat serta pelaburan perekat dilakukan dengan baik untuk mencegah celah, mutu perekatan rendah, dan untuk menghemat perekat.
• Pengempaan dingin dilakukan dengan baik untuk mencegah venir melipat dan mutu perekatan rendah.
• Pengempaan panas dilakukan dengan baik untuk mencegah kayu lapis terlalu tipis, cacat kempa, dan mutu perekatan rendah.
• Pemotongan kayu lapis dilakukan dengan baik agar panjang, lebar, siku, dan kelurusan tepi memenuhi syarat.
• Perbaikan kayu lapis dilakukan dengan baik agar hasilnya memenuhi syarat seperti pendempulan, sisipan, celah.
• Pengampelasan dilakukan dengan baik agar tebal memenuhi syarat dan mencegah cacat ampelas.
Read More..

PEREKATAN KAYU LAPIS

PEREKAT & PEREKATAN KAYU LAPIS
I. Definisi
Perekat: suatu bahan yang dapat menahan 2 buah benda berdasarkan ikatan permukaan (Sutigno, 2000)
Perekatan:
(1) suatu keadaan atau kondisi ikatan dimana dua permukaan menjadi satu karena adanya gaya-gaya pengikat antar permukaan, yaitu gaya valensi atau gaya ikatan ion dan gaya saling mencengkeram antara perekat dengan bahan yang direkat atau interlocking forces (Prayitno, 1996).

(2) suatu sistem yang terdiri atas gaya-gaya ikatan yang berbeda yang berasosiasi bersama membentuk suatu ikatan antara garis perekat dengan bahan yang direkat, sedang garis perekat sendiri dipengaruhi oleh mobilitas bahan perekat dan kondisi permukaan perekat (Brown et.al, 1952).

Pengeras (Katalis): Suatu bahan yang ditambahkan untuk mengatur pengerasan perekat.
Masa simpan (Storage life): Lamanya bahan perekat dapat disimpan sebelum dicampur dengan bahan lain tanpa mengurangi kualitas perekat. Bila masa simpan dilampaui maka perekat menjadi rusak dan tidak dapat dipakai lagi

Masa labur (Working life): Lamanya perekat setelah dicampur dengan bahan lain sampai perekat itu tidak baik lagi untuk dilaburkan

Masa tunggu (Assembly time): Waktu antara pelaburan dengan pengempaan. Masa tunggu yang terlalu pendek kurang baik karena perekat masih terlalu basah. Kalau terlalu lama juga kurang baik karena terlalu kering

Ekstender (Bahan tambahan): Suatu bahan yang bersifat perekat (mengandung pati, protein) yang ditambahkan pada perekat dengan tujuan untuk mengubah sifat perekat dan mengurangi biaya. Makin banyak bahan ini ditambahkan, makin rendah keteguhan rekatnya. Contoh: tepung gaplek, tepung terigu, tapioka

Pengisi (Filler): Suatu bahan yang umumnya tidak bersifat perekat yang dicampurkan pada perekat untuk mengubah sifat perekat terutama kekentalan dan sampai jumlah tertentu dapat menaikkan keteguhan rekat. Contoh: tepung tempurung kelapa, tepung kayu, kaolin.

II. Teori Perekat & Perekatan
1. Garis perekatan merupakan suatu sistem yang terdiri atas 5 (lima) rantai gaya garis perekat Brown et.al (1952), seperti gambar berikut :

• Sistem perekatan merupakan hasil kerja dua buah gaya perekatan yaitu perekatan spesifik dan perekatan mekanik.

Bahan yang direkat

Interlocking forces

Garis Perekat

Interlocking forces

Bahan yang direkat


Gaya perekatan mekanik terbentuk karena meresapnya perekat ke dalam rongga sel kayu membentuk akar-akar perekat sehingga menimbulkan gaya pencengkeraman (Interlocking forces).
Gaya spesifik timbul karena adanya gaya tarik menarik antara atom atau molekul perekat dan permukaan bahan yang direkat.

Kedua Gaya tsb dipengaruhi oleh sifat perekat itu sendiri (inherent characteristic) (Prayitno, 1996).

keteguhan rekat dihasilkan oleh total gaya perekatan mekanika dan gaya perekatan spesifik (Kollman et.al.1975).

Proses pengerasan perekat dan pembentukan garis perekat (Brown et.al, 1952) :

1. Flow (Aliran Sisi atau Aliran Samping), merupakan pergerakan perekat karena gaya berat dan perbedaan ketinggian permukaan bahan yang direkat atau karena adanya tekanan dalam proses pengempaan. Aliran perekat ini merupakan pergerakan massa perekat karena alur perekat cukup banyak mengandung perekat.

2. Transfer (Perpindahan perekat dari sisi terlabur ke sisi tak terlabur), merupakan pergerakan perekat seperti pencetakan dimana tinta menempel pada permukaan yang dicetak. Perpindahan perekat ini agak sulit dibandingkan dengan aliran sisi. Perpindahan perekat memerlukan ekstra mobilitas molekul perekat. Seringkali perpindahan perekat terjadi bersama-sama dengan aliran sisi (Marra, 1992)

3. Penetration (Penetrasi), merupakan pergerakan perekat ketiga yang membawa perekat masuk ke dalam bahan yang direkat yang berpori. Penetrasi perekat harus diatur sedemikian rupa sehingga terbentuk akar perekat dengan tetap meninggalkan garis perekat film yang utuh dan pejal. Seperti pada aliran sisi dan perpindahan perekat, penetrasi merupakan pergerakan perekat dalam jumlah besar sehingga memerlukan ekstra mobilitas molekul.

4. Wetting (Pembasahan Kayu), merupakan pergerakan perekat berupa kegiatan spontan molekul-molekul perekat sewaktu bersinggungan dengan molekul-molekul bahan yang direkat di permukaan. Oleh karena itu pergerakan perekat pada tahap ini tergantung pada kecocokan antara dua molekul yang berbeda tersebut (perekat dan bahan yang direkat).

5. Solidification (Pemadatan atau Pengerasan Perekat), merupakan langkah terakhir dari urutan pengerasan perekat. Pada tahap ini pergerakan perekat berhenti dan perekat membentuk garis perekat yang pejal dan kuat. Pengerasan perekat dapat terjadi karena kehilangan pelarut (pada umumnya perekat akan mengeras dengan cara ini), kehilangan panas (perekat yang menampakkan sifat thermoplastic), reaksi kimia (polimerisasi dari perekat sintetis) dan kombinasi dari ketiganya.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perekatan Kayu
• Bahan yang direkat (Kayu), baik dari jenis yang bersifat komersial, jenis yang belum dikenal/lesser known species maupun jenis kayu cepat tumbuh:

(1). Sifat anatomi dan struktur kayu, struktur dan anatomi kayu berhubungan dengan bagaimana sel-sel atau jaringan sel pembentuk kayu tersusun atau diorganisir sehingga bersatu disertai dengan pengetahuan tentang mekanisme pembentukan kayu.

Sel-sel penyusun kayu terdiri atas beberapa tipe sel, yaitu pembuluh, parenkim longitudinal, jari-jari dan serabut. Semua tipe sel penyusun kayu diorganisasikan dalam bentuk ikatan sapu lidi, ikatan pipa sedotan plastik atau jerami dan dikenal dengan istilah a bundle of soda straw (Marra, 1992).

Pemahaman struktur dan anatomi kayu dalam perekatan adalah untuk mengerti bagaimana perekat cair dapat masuk ke dalam bahan yang direkat/kayu (berpenetrasi) dan kemudian mengeras di dalamnya membentuk akar perekat dan atau memperluas bidang singgung (Marra, 1992). Sel satu dengan sel lainnya disambungkan dengan bidang sambung pada ujung sel dengan modifikasi sambungan agar cairan sel dapat bergerak dengan mudah ke sel yang berikutnya (bidang ini disebut bidang perforasi). Saluran lain berupa noktah pada dinding sel yang dapat menghubungkan sel yang satu dengan sel di sisinya. Berdasarkan komposisi saluran dimana perekat dapat mengalir yaitu lumen dan noktah, maka berdasarkan teori perekatan mekanik. perekatan dapat diharapkan berhasil.

Perekatan kayu dalam praktek dapat dipilah ke dalam tiga kelompok perekatan, yaitu perekatan ujung atau perekatan bidang transversal, perekatan bidang tangensial seperti pada pembuatan kayulapis, dan perekatan sisi lebar dan sisi samping seperti pada proses pembuatan laminasi. Oleh sebab itu pengetahuan struktur dan anatomi kayu menurut tiga bidang tersebut tetap diperlukan untuk disesuaikan dengan tujuan perekatan yang dipilih.

Hubungan antara struktur dan anatomi kayu dengan perekat seringkali diukur dengan afinitas perekat atau afinitas kayu terhadap perekat.

Afinitas kayu terhadap perekat adalah kemampuan penempelan perekat pada dinding sel suatu jenis kayu (Prayitno, 1996).

Afinitas suatu jenis kayu terhadap perekat merupakan nilai rata-rata dari tiga afinitas yang berbeda, yaitu:
Afinitas perekat yang berhubungan dengan lamella tengah dan dinding sel primer,
Afinitas perekat yang berhubungan dengan dinding sel sekunder, khususnya lapisan dinding sel S2,
Afinitas perekat yang berhubungan dengan lumen atau lapisan dinding sel S3.


(2). Sifat Fisik Kayu

Berat jenis kayu atau kerapatan kayu: Berat jenis kayu mempunyai korelasi yang positif terhadap parameter perekatan kayu yaitu keteguhan rekat kayu (Freeman ,1959). Semakin tinggi berat jenis kayu yang direkat, kekuatan rekat kayu diduga semakin meningkat.

Kayu-kayu dengan berat jenis lebih dari 0,80 tidak akan memproduksi kekuatan rekat yang lebih besar dari kekuatan rekat kayu-kayu dengan berat jenis 0,80

Tolok ukur perekatan yang lain yang dipengaruhi oleh berat jenis kayu adalah kerusakan kayu (%). Pengaruh berat jenis kayu terhadap kerusakan kayu berkorelasi negatif dengan berat jenis. Kenaikan berat jenis kayu, akan menurunkan kerusakan kayu. Hal ini disebabkan lebih besarnya kekuatan kayu di sekitar garis perekat karena kenaikan berat jenis kayu sehingga terjadi pergeseran beban (Brownet.al., 1952; Freeman, 1959; Bodig, 1962; Chow & Chunski, 1982).

Hubungan berat jenis kayu dengan kerusakan kayu sama seperti pada hubungan berat jenis dengan kekuatan/keteguhan rekat kayu dengan titik batas 0,80.

• Kadar Air: Kadar air yang tinggi atau kayu dalam keadaan basah mengakibatkan proses penguapan air dari kayu yang relatif cepat walaupun dalam kondisi suhu kamar dan juga mengakibatkan perpindahan zat ekstraktif dari dalam kayu ke permukaan kayu.

• Pengambilan ekstraktif kayu dari dalam atau permukaan kayu yang akan direkat akan memperbaiki kekuatan perekatan dan sifat pembasahan kayu/ wetabilitas kayu (Chen, 1970). Hal ini disebabkan karena bahan-bahan ekstraktif kayu pada sebagian jenis kayu/pohon merupakan bahan penolak air (water repellent).

• Kadar air kayu yang tinggi dapat mengakibatkan pengenceran perekat atau adonan perekat (glue mix) yang telah dilaburkan pada permukaan kayu sehingga mobilitas molekul-molekul perekat menjadi sangat tinggi. Apabila kondisi seperti ini tetap berlangsung pada waktu rakitan bahan yang direkat (wood assembly) dikempa, maka larutan perekat akan lari keluar dari garis perekat bila bahan direkat sudah tidak mampu menampungnya karena porousitas rendah. Kejadian ini disebut kegagalan perekatan squeezed out atau perekat keluar.



– Kadar air yang tinggi juga menyebabkan perekat akan masuk ke dalam bahan direkat dalam jumlah yang banyak sehingga terjadi over penetration/perekat terhisap yang akan menyebabkan kegagalan perekatan yang disebut starved glue line atau garis perekat kurang.

– Kadar air kayu yang tinggi juga mengakibatkan kegagalan perekatan pada kayulapis yang disebut blistering effect atau garis perekat melepuh. Hal ini terjadi apabila suhu sekitar/suhu kamar tinggi atau suhu alat kempa cukup tinggi sehingga menguapkan air dari dalam kayulapis dengan cepat dan terjadi akumulasi uap air yang tidak mampu keluar dari rakitan perekatan. Tekanan uap air yang besar mampu memecahkan venir atau bahan yang direkat pada waktu tekanan dibebaskan.

– Untuk kegagalan perekatan kayu akibat kekurangan air dalam kayu (kadar air rendah), yang paling sering dijumpai adalah kerusakan perekatan yang disebut powdery glue line yang diakibatkan oleh meresapnya air dari dalam larutan perekat sehingga perekat tidak mampu membentuk garis perekat yang pejal. Kegagalan perekatan ini ditandai dengan bentuk garis perekat berupa tepung perekat.

– Kadar air venir yang dianjurkan 7-12 % tergantung pada jenis perekat yang dipakai



? Pengembangan dan Penyusutan kayu: Pengembangan atau penyusutan kayu adalah perubahan dimensi kayu sebagai bahan direkat akibat perubahan kadar air kayu dan terjadi setelah kadar air seimbang kayu di bawah titik jenuh serat/TJS (di bawah kadar air 30 %).

? Perubahan dimensi mempengaruhi perekatan kayu dalam dua tahap, yaitu (a) pada waktu pelaburan perekat dimana air sebagai pelarut perekat ikut dilaburkan dan (b) pada kondisi kamar yang tidak seimbang dengan kadar air produk perekatan (produk perekatan diperlakukan dengan perendaman dan perebusan dalam air pada waktu pengujian perekatan kayu).

? Porousitas Kayu (tingkat keadaan dimana bahan yang sedang dipertimbangkan yaitu substrat kayu dapat dilalui bahan cair karena bahan tersebut bersifat porous atau karena bahan tersebut disusun oleh kumpulan bahan porous) (Hornby, Cowie dan Gimson, 1974).

? Kayu yang mempunyai tingkat porousitas yang tinggi mendukung mobilitas kelarutan perekat yang meninggi pula, sebaliknya kayu yang berporusitas rendah mengakibatkan larutan perekat mempunyai tingkat mobilitas yang rendah. Ini berarti kayu berporousitas rendah membutuhkan jumlah minimum perekat yang dilaburkan lebih rendah dibandingkan perekat terlabur untuk kayu-kayu yang berporousitas tinggi. Kegagalan yang terjadi apabila perekat yang dilaburkan lebih rendah daripada jumlah perekat minimum yang diminta oleh kayu dengan porousitas tertentu adalah kegagalan perekatan yang disebut garis perekat kurang/starved glue joint/starved glue line yaitu keadaan dimana garis perekat kekurangan perekat untuk memenuhi kebutuhan proses terjadinya perekatan yang baik atau terbentuknya garis perekat yang pejal (solid glue line).


Wetabilitas kayu (tingkat kemampuan kayu untuk dibasahi yang seringkali disebut dengan sifat pembasahan/keterbasahan kayu). Wetabilitas kayu diukur dengan sudut singgung yang kemudian dikonversikan sebagai cosinus sudut singgung. Kayu-kayu yang mempunyai sudut singgung kecil mempunyai kemampuan untuk dibasahi atau sifat pembasahan dan sifat keterbasahan yang besar, sedangkan kayu-kayu yang mempunyai sudut singgung yang besar berarti kayu tersebut tidak mampu dibasahi atau sifat pembasahannya kecil.

(3) Sifat kimia kayu
? Selulosa: polimer dari glukosa dengan hanya satu jenis ikatan dalam proses polimerisasinya menyebabkan struktur selulosa bersifat kristalin padat walaupun diselingi dengan bagian-bagian amorf. Dengan adanya struktur tersebut selulosa memiliki afinitas yang besar terhadap molekul-molekul perekat dalam proses perekatan.

? Lignin: disusun oleh senyawa dasar yang disebut phenil propana atau phenyl-propane, yang bergabung menjadi satu dengan memakai beberapa cara ikatan. Karena banyaknya molekul ikatan dalam polimerisasi lignin ini, maka polimer yang dihasilkan bersifat amorf dengan tidak memperlihatkan bagian kristalin sedikitpun, sehingga afinitas lignin terhadap perekat menjadi kecil, dan ini menyebabkan lignin kurang berperan dalam perekatan.

? Ekstraktif kayu: terdiri atas bermacam-macam jenis bahan kimia yang biasanya dapat larut pada pelarut netral seperti air, alkohol, benzena dan pelarut netral lainnya. Dari berbagai macam bahan penyusun ekstraktif kayu, terdapat kelompok bahan kimia yang merugikan atau menghambat perekatan kayu antara lain asam lemak (fatty acid), lemak (fat), asam resin (resin acid) dan hampir semua bahan yang bersifat menolak air (water repellent chemicals).

? Zat ekstraktif terdapat dalam rongga sel dan dapat dikeluarkan dengan jalan ekstraksi. Untuk mengatasi kegagalan perekatan pada kayu yang mengandung zat ekstraktif tinggi sebaiknya pemakaian ekstender dikurangi, meningkatkan berat labur, menambahkan bahan penguat (mis: melamin), atau dengan mengurangi zat ekstraktif dengan cara perebusan atau pengukusan kayu.

B. Bahan perekat
Jenis perekat : (1) perekat sintetik, seperti urea formaldehida, melamin formaldehida, phenol formaldehida dan resorsinol formaldehida. (2) Perekat alam yang dipakai sebelum adanya perekat sintetik seperti perekat protein (perekat tulang, kulit, kedelai, dll), perekat karbohidrat (amilum, perekat soda silikat) dan perekat resin alam (shellak).
Setiap jenis perekat kayu mempunyai sifat sendiri (inherent characteristics) baik dalam pembentukan garis perekat maupun dalam pencampuran dengan bahan lain sebagai bahan tambahan pada adonan perekat.
Bahan tambahan perekat seperti pengisi, pengembang, pengeras, katalisator, bahan pengawet, bahan penolak api, dan lain sebagainya dicampurkan untuk meramu adonan perekat menurut tujuan perekatan kayu.


Teknik perekatan
• Persiapan perekat, agar diperoleh hasil perekatan yang berkualitas, diperlukan persiapan yang meliputi pemilihan perekat yang tepat sesuai dengan tujuan dan penggunaan akhir bahan direkat dan pembuatan adonan perekat yang tepat. Bila akan membuat kayu lapis ekterior maka harus memakai perekat eksterior (mis: MF, PF dan RF). Bila yang akan dibuat adalah kayu lapis interior maka dipakai perekat interior (mis: UF, PVA). Bagi perekat yang tidak siap pakai perlu dilakukan pencampuran bahan perekat dengan bahan lain. Adonan perekat dibuat dengan mencampur perekat yang telah dipilih dengan bahan tambahan perekat seperti pengisi (filler), pengembang (extender), pengeras (hardener), katalisator (catalyst), bahan pengawet (preservative) dan bahan lain yang diperlukan. Komposisi perekat akan mempengaruhi sifat perekat (mis; kekentalan, yang akan mempengaruhi keteguhan rekat).

• Bobot labur (glue spread): sejumlah perekat yang dilaburkan per kesatuan luas permukaan bahan yang akan direkat (Prayitno, 1996). Bobot labur yang terlalu sedikit akan mengurangi keteguhan rekat, sedangkan yang terlalu banyak akan menaikkan biaya produksi dan dapat mengurangi keteguhan rekat.

• Masa tunggu: setelah perekat dilaburkan tidak langsung dikempa, namun dibiarkan beberapa saat agar perekat meresap ke dalam kayu dan mengental. Masa tunggu yang terlalu lama kurang baik karena perekat sudah terlalu kering. Pada kayu lapis masa tunggu ini terbagi atas; setelah pelaburan, selama pengempaan dingin dan sebelum pengempaan panas. Bila tidak memakai pengempaan dingin, masa tunggu dilakukan setelah pelaburan (termasuk penyusunan), dibiarkan beberapa saat kemudian dilakukan pengempaan panas.




. Pengempaan: Pengempaan produk perekatan atau rakitan perekatan bertujuan untuk menempelkan lebih rapat sehingga garis perekat dapat terbentuk serata dan sepejal mungkin dengan ketebalan yang setipis mungkin (Selbo, 1975).

. Pengempaan di dalam proses perekatan dibagi kedalam dua tipe, (1) pengempaan dingin (repressing atau cold pressing), (2) hot pressing atau pengempaan panas yang dijalankan dengan suhu dan tekanan tertentu.

. Pengempaan dingin sebagai tahap akhir dari proses pematangan perekat memerlukan waktu yang lama tetapi ongkos/biaya pengempaan murah, sedangkan pada sistem kempa panas, waktu pengempaan akan menjadi pendek sehingga dapat menaikkan kapasitas pengempaan sekaligus menaikkan produksi, tetapi memerlukan ongkos yang tinggi untuk menaikkan suhunya.

. Bila ditinjau dari segi ukuran produk yang direkat, pengempaan dingin mempunyai keunggulan dibanding pengempaan panas, yaitu pengempaan dalam pembuatan produk laminasi struktural/laminated beams, dimana ukuran yang besar menghalangi mesin kempa panas karena biaya/ongkos menaikkan suhu untuk barang yang relatif lebih besar masih tidak mungkin/terlalu mahal.

. Pengempaan dingin juga dilakukan sebagai pengempaan permulaan/repressing sebagai tahap setingkat sebelum tahap akhir dalam proses pematangan perekat.

Tujuan Pengempaan
• Membantu proses pengaliran sehingga perekat membentuk lapisan tipis

• Membantu proses pemindahan, sehingga perekat akan dapat berpindah dari satu permukaan ke permukaan lain

• Membantu proses penembusan, sebagian perekat dipaksa masuk ke dalam rongga sel dari kayu. Akibat tekanan ini ada sel kayu yang pecah sehingga dapat dimasuki perekat

• Menahan kayu yang direkat sampai perekat memadat. Karena proses pemadatan belangsung beberapa saat maka selama proses itu kayu harus ditahan (tetap berhubungan secara rapat). Sehubungan dengan proses ini dikenal adanya pengempaan dingin (suhu kamar) dan pengempaan panas

• Membuat bentuk tertentu pada bahan yang direkat seperti pada pembuatan kayu lapis lengkung.

Tujuan dari pengempaan permulaan dengan pengempaan dingin:

. Mengempa panel sehingga kesulitan dalam pengempaan panas dapat dikurangi. Kesulitan ini berupa waktu yang dibutuhkan untuk memuat panel-panel ke dalam mesin kempa panas.

. Untuk menaikkan kapasitas mesin kempa panas. Hal ini disebabkan karena menipisnya tebal panel yang siap masuk ke mesin kempa panas sehingga jumlah ruangan dalam mesin kempa dapat dimaksimumkan.

. Mengefisienkan pengempaan panas dalam arti bahwa waktu yang diperlukan untuk memproduksi satu panel lebih pendek setelah prepressing.

. Pematangan perekat berjalan lebih cepat karena telah didahului dengan prepressing yang membuat perekat menjadi suatu garis yang bersambungan, melakukan penetrasi secukupnya dan kekentalan naik sehingga perekat bersifat lekat/tacky.

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam proses pengempaan:

. Lama waktu kempa (lama waktu tekan), lama waktu kempa tergantung dari beberapa faktor antara lain: tipe atau jenis perekat yang dipergunakan. Prinsip yang dipakai untuk menentukan lama waktu pengempaan adalah perilaku jenis perekat dan kondisi adonan perekat yang dipakai sewaktu dikenai tekanan, dan bila pengerasan perekat dengan suhu tinggi adalah perhitungan penambahan panas dari alat kempa sampai ke garis perekat yang paling dalam dari rakitan perekatan tersebut. Sebagai contoh jenis perekat UF yang merupakan jenis perekat untuk kayulapis interior memerlukan waktu kempa rata-rata selama 2-4 menit, sedangkan jenis perekat PF untuk produk eksterior memerlukan waktu kempa rata-rata selama 5-7 menit dengan kondisi yang sama. Waktu kempa juga dipengaruhi oleh ketebalan bahan yang direkat dan komposisi adonan atau larutan perekat.

. Tekanan spesifik, tekanan spesifik berfungsi sebagai pembatas kemungkinan terjadinya pecah pada venir panel karena tegangan yang dapat diterima oleh jenis kayu atau venir dan bahan direkat kayu terlampaui. Tekanan spesifik untuk rakitan perekatan didasarkan pada berat jenis kering tanur dari panel yang sedang dikerjakan atau berdasarkan jenis kayu yang dipergunakan.

. Suhu pengempaan, suhu pengempaan berhubungan dengan waktu pengempaan. Suhu yang tinggi diperlukan untuk mematangkan perekat dengan cepat tetapi kurang ekonomis karena diperlukan biaya yang tinggi untuk membawa suhu kempa ke suhu yang lebih tinggi dari suhu kamar. Suhu yang rendah dipakai untuk mematangkan perekat tetapi diperlukan waktu yang lebih lama. Kompromi antara biaya dan waktu pengempaan berarti membentuk kombinasi keduanya yang selanjutnya akan menentukan kapasitas pabrik berjalan untuk memproduksi produk perekatan.
Pengujian Sifat Perekat
. Setiap pabrik perekat memberitahukan sifat perekat yang dibuatnya. Sifat ini perlu diuji u tuk mengetahui sampai sejauhmana kebenarannya. Pengujian dilakukan terhadap perekat yang belum dicampur (resin) dan yang sudah dicampur. Sifat perekat dapat mempengaruhi sifat keteguhan rekat kayu lapis. Pengujian perekat meliputi:
. Rupa : warna, keadaan dan adanya benda asing (pengotor), pengujian dilakukan secara visual

. Bobot jenis: dilakukan dengan cara piknometer

. Kadar padat: dilakukan dengan cara gravimetri

. Kekentalan: dilakukan dengan viskotester (sistem rotor berputar), sistem bola jatuh (Stoke) atau viskosimeter (Ostwald)

. Lamanya pengerasan (Gelatinous time)

. Keasaman (pH): dilakukan dengan melalui kertas lakmus atau dengan pH-meter

. Keteguhan rekat: menggunakan alat UTM

. Emisi formaldehida: Cara desikator 2 jam (IHPA), 24 jam (JAS), WKI, Chamber, menggunakan alat spektrofotometer.
Desikator
Aseti aseton
Chromotropik acid
Penyimpanan
Potongan Kalap
Gb. Kecil
Jml Sampel
Bahan Kimia
Lart.Kim
Alat dan Bahan
Kelebihan n Kelemahan
Acetylaseton
Chromo
Read More..