Selamat Datang Blogkami jangan lupa isi buku tamu,tukeran link dan berikan komentar

PENAMPANG LINTANG ROTAN

Penampang lintang rotan :
Pengetahuan tentang ciri-ciri rotan masih terbatas.Belum semua jenis rotan diketahui ciri-cirinya, terutama ciri anatomi dan fisiologinya. Untuk itu penelitian tentang berbagai aspek biologi rotan perlu ditingkatkan dengan meneliti lebih banyak jenis rotan (Dransfield, 1974; Culter, 1978; Menon (1979); Manokaran, 1985).
Penelitian secara khusus tentang anatomi rotan, hingga sekarang belum banyak dilakukan, walaupun sejak tahun 1845, oleh Mohl (dalam Weiner dan Liese, 1988a) telah diawali penelitian anatomi terhadap marga Calamus, dan menyimpulkan
bahwa pembuluh kayu metaxilem yang besar di dalam ikatan pembuluh merupakan suatu karakter pembeda dengan marga lainnya dalam anak suku Lepidocaryoidae. Solereder dan Meyer (1928, dalam Weiner dan Leise, 1988a) telah melanjutkan penelitian Mohl terhadap marga. Calamus dan Daemonorops dan Tomlinson (1961) telah
membahas sembilan marga rotan. Keduanya menyatakan bahwa terdapat suatu hubungan antara ciri anatomi dengan perilaku batang. Di antara jenis rotan yang sama terdapat
sifat memanjat yang sama pula, tetapi kemungkinan mempunyai ciri anatomi batang yang berbeda, sebaliknya di sisi lain jenis rotan yang berbeda sifat memanjatnya
dapat memiliki kemiripan ciri anatomi. Penjelasan lebih terperinci mengenai anatomi batang
rotan telah dilakukan oleh Siripatanadilok (1974) terhadap lima marga rotan di Jawa. Ia menyimpulkan bahwa bentuk dan ukuran sel epidermis dapat dijadikan karakter yang
khas dan penting dalam taksonomi. Tomlinson (1961), Yudodibroto (1984a), serta Parameswaran dan Liese (1985) mengemukakan bahwa kualitas rotan, terutama
daya tahan batang berhubungan dengan struktur anatominya. Beberapa jenis rotan, misalnya C. caeseus, apabila dilengkungkan batangnya meka akan terjadi retakretak
dan terkelupas, karena adanya kristal silika pada bagian epidermis. Yudodibroto (1984b) membedakan jenis rotan berdasarkan ada atau tidaknya kristal silika pada
lapisan kulit luar. Weiner dan Leise (1988b, 1990) menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan struktur batang di antara marga rotan, sehingga hal ini dapat dijadikan
sebagai salah satu karakter untuk mengidentifikasi jenis rotan. Sedangkan Astuti (1990) dalam penelitiannya terhadap marga Calamus, Daemonorops, dan Plectocomia
menyimpulkan bahwa ciri anatomi yang dapat digunakan untuk membedakan ketiganya terutama adalah pola parenkim jaringan dasar, letak floem, dan jumlah pembuluh
kayu dalam satu ikatan pembuluh.

1. Kulit
2. Bagian Perifer ……….. relatif padat
3. Jaringan sentral ……. relatif lunak

Jaringan penyusun batang rotan terdiri dari 3 jaringan utama :
1. Kulit (2 macam jaringan)
2. Parenkim dasar (1 macam jaringan)
3. Berkas pembuluh (5 macam jaringan)

Berkas Pembuluh :
1. Phloem
Saluran hasil fotosintesa dari tajuk ke bagian-bagian lain dari tanaman

2. Protoxylem
- Xylem yang dibentuk mula-mula pada ruas yang baru tumbuh
- Dindingnya seperti spiral yang tergulung rapat

3. Metaxylem
- Satu atau dua protoxylem yang ikut memanjang dan membesar pada
waktu ruas tumbuh

• Parenkim aksial
- Terletak disekeliling protoxylem dan metaxylem di dalam berkas pembuluh
- Diduga sebagai tempat persediaan makanan untuk pertumbuhan elemen lain dalam berkas pembuluh.
- Bentuk memanjang ke arah vertikal

• Berkas Serat
- Tersusun satu berkas mengelilingi elemen-elemen lain dalam berkas pembuluh.

Pada beberapa jenis rotan terdapat saluran getah (Daemonorops, Ceratolobus
dan beberapa jenis Calamus).

Pada jenis Korthalsia terdapat celah berwarna kuning (yellow cap).