Selamat Datang Blogkami jangan lupa isi buku tamu,tukeran link dan berikan komentar

PENGUJIAN KAYU LAPIS

PENGUJIAN KAYU LAPIS
CAKUPAN MATERI PENGUJIAN KAYU LAPIS
I. PENDAHULUAN
II. PERKEMBANGAN MACAM PRODUK
III. PERSYARATAN UMUM
IV. MUTU LAPISAN LUAR
V. KETEGUHAN REKAT
VI. SIFAT FISIS DAN MEKANIS
VII. EMISI FORMALDEHIDA
VIII. PENGAMBILAN CONTOH
PENGUJIAN/PEMILAHAN/PENETAPAN MUTU (GRADING)

Untuk mengetahui kualitas kayu lapis sehingga dapat menggolongkan ke dalam suatu kelas atau tingkat mutu tertentu

Macam pengujian : - Pengujian visual (tanpa alat)
- Pengujian dengan memakai alat

Tempat : - Laboratorium
- Di luar laboratorium

Pengujian di laboratorium (bersifat merusak).
- Ukuran contoh uji <> 3 lapis)

• Bahan inti
- Venir
- Kayu gergajian (papan blok)
- Sisa pemotongan kayu lapis
- Sisa pemotongan papan blok
4. Ikatan perekat

- Kayu lapis eksterior I
Tahan terhadap cuaca dalam waktu yang relatif lama
(Weather and Boil Proof atau WBP), perekat PF atau RF

- Kayu lapis eksterior II
Tahan terhadap cuaca dalam waktu yang relatif pendek sekitar
beberapa tahun
(Boil resistant (BR) atau Ciclic Boil Resistant (CBR)), perekat MF

- Kayu lapis interior I
Tahan terhadap kelembaban tinggi atau tahan air
(Moisture Resistant atau MR), perekat UF

- Kayu lapis interior II
Tahan terhadap keadaan kering atau kelembaban rendah
(Interior atau INT), perekat UF dengan ekstender yang cukup
banyak, perekat alami

5. Bahan laminasi

- Venir dari kayu indah, produk berupa kayu lapis indah
(fancy plywood)

- Cat (polos dan bercorak kayu), produk berupa kayu lapis
bermuka cat (Printed plywood)

- Kertas beraneka macam corak, produk berupa kayu lapis bermuka
kertas (paer overlay atau polyester plywood)

- Kertas melamin, produk berupa kayu lapis bermuka kertas melamin
(melamic film plywood)

- Kertas phenol, produk berupa kayu lapis bermuka kertas phenol
(film faced plywood atau phenolic film plywood)

- Polivinil chlorid (plastik), produk berupa kayu lapis bermuka polivinil
chlorid (polyvinyl chlorid plywood atau PVC plywood)

6. Penggunaan
- Penggunaan umum (untuk berbagai keperluan)
- Penggunaan khusus (untuk penggunaan tertentu sehingga
diperlukan persyaratan khusus), seperti:
- Kayu lapis konstruksi (structural plywood)
- Kayu lapis cetakan beton (concreate plywood)

7. Bentuk
- Datar
- Lengkung (sandaran kursi, asbak, baki dll)

Kayu lapis dapat dimasukkan ke dalam :
- Panel kayu (wood-based panels) seperti papan partikel, papan wol kayu,
papan serat (relatif panjang, relatif lebar tetapi relatif tipis)

- Kayu majemuk (composite wood) karena terdiri atas beberapa komponen
yang direkat menjadi satu (komponennya berupa venir dan memakai
perekat organik)
PERSYARATAN UMUM :
Persyaratan yang harus dipenuhi, biasanya meliputi ukuran yaitu panjang, lebar,dan tebal, siku, kadar air dan keadaan venir penyusun kayu lapis (hanya ada dua pilihan diterima atau ditolak).
A. Ukuran
Panjang dan lebar diukur dengan meteran, sedangkan tebal diukur dengan kaliper
Dalam hal ukuran dikenal adanya toleransi yaitu besarnya penyimpangan dari ukuran nominal yang masih diperkenankan, besarnya bervariasi tergantung pada standar yang digunakan

B. Siku
Siku diukur berdasarkan perbedaan panjang diagonal dengan meteran, atau dengan menggunakan alat penyiku kemudian diukur besarnya penyimpangan dari garis siku

C. Kelurusan tepi
Diukur besarnya penyimpangan dari garis lurus atau garis tepi





D. Kadar air
- Diuji dengan sistem oven (perlu alat timbangan, oven
dan desikator); contoh uji berukuran kecil (10cm x10cm )
- Moisturemeter digunakan hanya untuk pengecekan
E. Keadaan venir penyusun kayu lapis
Keadaan venir ini meliputi cara pembuatan, jenis kayu, tebal,
cacat alami dan cacat teknis.
Cara pengujiannya secara visual dan untuk tebal menggunakan
kaliper







Standar Indonesia tahun 1981 mempersyaratkan :
Tidak diperkenankan adanya sambungan pada arah memanjang
Tebal inti tripleks tidak boleh lebih dari 60%
Multipleks, jumlah tebal venir luar dan semua venir yang sejajar dengan venir luar tidak kurang dari 40% dan tidak lebih dari 60% dari tebal kayu lapis
Venir inti atau venir dalam diperkenankan ada mata kayu, cact terbuka, celah, tumpang tindih atau terlipat asal tidak mempengaruhi keadaan permukaan yang akan dikerjakan lebih lanjut

Standar Indonesia yang sekarang tidak mempersyaratkan perbandingan tebal venir penyusun kayu lapis
Standar Inggris
1972, persyaratan susunan tebal multipleks 40 – 65%

1985, persyaratan susunan tebal tripleks tebal 6,5 mm atau kurang, tebal inti maksimum 70% dari tebal nominal
Sedangkan tripleks tebal lebih dari 6,5 mm tebal inti maksimum 50%.

Untuk multipleks, jumlah tebal venir luar dan venir yang sejajar dengan venir luar 40 – 65%.

Venir luar harus terbuat dari jenis kayu yang sama atau yang hampir sama sifat fisiknya

Bila jumlah lapisan genap, arah serat dari kedua lapisan dalam harus sejajar

Tebal venir luar minimum 0,6 mm dan maksimum 3 mm, sedangkan tebal venir dalam maksimum 5 mm

Standar Amerika
Tebal venir luar rata-rata 0,8 mm dengan minimum 0,66 mm setelah penghalusan
Perbandingan tebal tripleks dan tebal inti adalah sbb

MUTU LAPISAN LUAR
Mutu lapisan luar berhubungan dengan keadaan venir muka dan venir belakang dalam hal cacat alami dan cacat teknis

Cacat alami
Cacat yang terjadi atau terdapat pada kayu lapis yang disebabkan oleh faktor alami

Cacat teknis
Cacat yang terjadi atau terdapat pada kayu lapis yang disebabkan oleh faktor teknis atau proses pengolahan
Pengujian mutu lapisan luar dilakukan secara visual dan untuk mengetahui ukuran cacat digunakan meteran atau kaliper
Untuk setiap mutu ada kriteria mengenai cacat alami dan cacat teknis, baik kualitatif maupun kuantitatif

Cacat yang bersifat kualitatif adalah cacat yang tidak bisa dinyatakan dengan angka

Cacat yang bersifat kuantitatif adalah cacat yang kriterianya dapat dinyatakan dengan angka

Banyaknya macam cacat alami dan cacat teknis pada setiap standar tidak selalu sama, tetapi ada persamaan dalam hal cacat yang penting seperti mata kayu, lubang gerek, perubahan warna, sisipan, tambalan dan permukaan kasar.

























PENAMAAN KELAS MUTU LAPISAN LUAR
Umumnya memakai huruf abjad
Menurut Standar Indonesia: A, B, C, D atau kombinasinya
Menurut Standar Amerika: BB, CC, Overlay (OVL), dan
Utility (UTY) atau Industrial (IND)
Menurut Standar Inggris: B, BB, C atau kombinasinya
Menurut Standar Jepang : 1(BB), 2(CC)
Menurut Standar Internasional (ISO): E, I, II, III, IV
CONTOH PENULISAN MUTU KAYU LAPIS
Menurut Standar Indonesia adalah B/C, yang berarti
mutu lapisan muka B dan mutu lapisan belakang C

Menurut Standar Amerika adalah BB, yang berarti mutu
lapisan muka BB sedangkan mutu lapisan belakang
memenuhi persyaratan minimum untuk venir belakang
KETEGUHAN REKAT
Dapat diuji dengan 3 cara :
• Uji geser tarik
• Uji delaminasi
• Uji pisau

Pengujian dilakukan terhadap contoh uji berukuran kecil sehingga kayu lapisnya harus dipotong

Sebelum dilakukan pengujian umumnya dilakukan perlakuan terhadap contoh uji sesuai dengan tipe keteguhan rekatnya
A. UJI GESER TARIK
• Contoh uji berbentuk persegi panjang
lebar 2,5 cm dan panjang 8 – 15 cm.
Sebelah kiri dan kanan dibuat takik lebar 3 mm yang
menembus inti atau lapisan dalam sehingga diperoleh
bidang geser

• Luas bidang geser berkisar 0,4 x 2,5 cm – 2,5 x 2,5 cm
• Untuk mengukur contoh uji digunakan kaliper
• Untuk mengadakan perlakuan dipakai penangas
(waterbath) dan oven atau tangki vakum







• Uji geser tarik dilaksanakan dengan mesin penguji
tarik dan dicatat besar beban pada saat contoh uji
putus atau rusak (beban maksimum)
• Beban maksimum tersebut (kg) dibagi dengan luas
bidang geser (cm2) menghasilkan nilai keteguhan
rekat (kg/cm2)

• Pada beberapa standar diadakan koreksi berdasarkan :
- Jenis kayu
- Perbandingan tebal inti dengan lapisan luar
- Berat jenis (kerapatan) kayu lapis
- Kerusakan kayu yang terdapat pada bidang geser





STANDAR ISO
• Ada 3 kelas mutu perekatan yaitu kelas 1 (keadaan kering), kelas 2 (keadaan lembab) dan kelas 3 (keadaan eksterior)

STANDAR ISO (LANJUTAN)
Perlakuan contoh uji
a. Contoh uji direndam dalam air suhu (20 ± 3)oC selama 24 jam

b. Contoh uji direndam air mendidih 6 jam, direndam air suhu (20 ± 3)oC minimum 1 jam untuk mengurangi suhu sampai 20oC

c. Contoh uji direndam air mendidih 4 , dioven pada suhu (60 ± 3)oC selama 16-20 jam, direndam air mendidih 4 jam, didinginkan dalam air suhu (20 ± 3)oC minimum 1 jam untuk mengurangi suhu sampai 20oC

d. Contoh uji direndam dalam air mendidih 72 jam, direndam air suhu (20 ± 3)oC minimum 1 jam untuk mengurangi suhu sampai 20oC

• Penetapan kerusakan kayu pada contoh uji keteguhan rekat dilakukan dalam keadaan kering
STANDAR ISO (LANJUTAN)
Pengujian diulang dengan membuat contoh uji baru bila:
• Contoh uji putus (bidang geser utuh)
• Tidak terjadi kerusakan kayu karena ada kertas
• Kerusakan kayu 50% atau lebih berasal dari venir silang

Persyaratan garis rekat




B. UJI DELAMINASI
Terdapat pada Standar Jepang dan Standar Amerika
1. Standar Jepang
Uji delaminasi dilakukan untuk kayu lapis yang mempunyai lapisan dengan arah serat sejajar dan untuk papan blok

• Contoh uji berukuran 7,5 cm x 7,5 cm
• Contoh uji diberi perlakuan sesuai dengan tipe perekat.
Setelah perlakuan, contoh uji diperiksa dan diukur panjang lapisan yang lepas atau terbuka
• Alat yang diperlukan : kaliper, penangas dan oven

• Persyaratan minimum: panjang lapisan yang lepas atau terbuka (delaminasi) kurang dari 2,5 cm. Bila 2,5 cm atau lebih berarti tidak memenuhi syarat





2. Standar Amerika

a. Kayu lapis kurang dari 6mm (IHPA, 1986)
- Untuk menguji kayu lapis tipe II
- Contoh uji berukuran 12,7 x 5 cm sebanyak 10 buah diambil
dari setiap panel dari 5 tempat yaitu bagian ujung kiri dan
kanan, bagian sisi atas dan bawah serta bagian tengah
- Perlakuan terhadap contoh uji 3 kali siklus pencelupan
Setiap siklus terdiri dari:
(1) Contoh uji direndam air 24°C ± 3°C selama 4 jam
(2) Contoh uji dikeringkan dalam oven 49°C - 52°C selama 19 jam dengan peredaran udara yang cukup untuk mengurangi kadar air contoh uji sampai maksimum 8%
Persyaratan :
Contoh uji dianggap rusak bila salah satu delaminasi antara dua lapisan , > 50 mm panjangnya, dalamnya > 4,2 mm dan lebarnya (tinggi bagian yang terbuka) 0,0762 mm sesuai dengan tebal alat pengukur yang dipakai (feel gauge 0,003 inci). Sembilan dari 10 c.u. harus lolos siklus pertama dan 8 dari 10 c.u harus lolos siklus ketiga
b. Kayu lapis tebal 6 mm ke atas (IHPA, 1988)
Uji delaminasi dikerjakan untuk kayu lapis tipe I yang
mengandung laminasi sejajar dan untuk kayu lapis tipe II


(1) Kayu lapis tipe I
Contoh uji berukuran 76,2 x 76,2 mm
Banyaknya contoh uji 10 buah diambil dari setiap panel, dengan perlakuan sbb:
- Contoh uji direbus air mendidih selama 4 jam
- Contoh uji dikeringkan dalam oven 60°C ± 3°C selama 20 jam
- Contoh uji direbus air mendidih selama 4 jam
- Contoh uji dikeringkan dalam oven 60°C ± 3°C selama 3 jam

Suatu contoh uji dianggap rusak bila terjadi delaminasi lebih dari
25,4 mm. Jumlah contoh uji yang baik minimum 90%
(2) Kayu lapis tipe II
Contoh uji berukuran 127 x 50 mm diambil minimum 6 buah dari
setiap lembar panel.
Perlakuan dan penilaian terhadap contoh uji sama dengan kayu lapis
tebal < kayunya =" 50%" jenis =" Berat" ba =" Berat" bo =" Berat" b =" Beban" s =" Jarak" l =" Lebar" t =" Tebal" b =" Selisih" d =" Defleksi" tarik =" B" b =" Beban" a =" Luas" lebar =" 10" panjang =" 6" lebar =" 10,2" tinggi =" 2,9" lebar =" 2,5" panjang =" 5" td =" (X" ti =" TD" td =" X" ti =" TD" td =" (X" ti =" TD" td =" (X" ti =" TD" n =" 90%" n =" 70%">